image

PENAKAR HUJAN : Warga Grumbul Gandusari, Desa Cibangong, Kasoni menunjukkan alat penakar hujan yang ada di sebelah utara rumahnya. (suaramerdeka.com/Puji Purwanto)

26 September 2017 | 21:01 WIB | Liputan Khusus

Mitigasi Bencana Berbasis Kearifan Lokal

MASIH terekam jelas dalam ingatan Kasoni (66), warga Grumbul Gandusari, Desa Cibangkong, Kecamatan Pekuncen, Banyumas, ketika terjadi pergerakan tanah pada awal 2005 akibat di wilayah itu terus menerus diguyur hujan.

Dinding rumah yang dihuni bersama keluarganya retak-retak. Tidak hanya rumah miliknya saja, melainkan hampir seratusan rumah dan fasilitas umum lainnya yang berada di grumbul itu rusak.  

Menurut warga, pergerakan tanah di daerahnya tidak begitu kelihatan. Tanah bergerak secara perlahan. Awalnya retakan dinding rumah hanya sekitar beberapa milimeter, namun lama kelamaan retakan pada dinding rumah milik warga semakin lebar.

Bahkan selang waktu beberapa bulan, retakan dinding rumah sudah mencapai sekitar sepuluh centimeter atau dapat dimasuki lengan tangan orang dewasa. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian pergerakan tanah. Namun, saat itu puluhan kepala keluarga mengungsi.

Pemerintah Desa Cibangkong kala itu mencatat, terdapat sekitar 70 rumah yang rusak sedang dan berat. Ada satu rumah milik adik Kasoni, Karso terpaksa harus dirobohkan karena kondisi retakan tembok rumah sudah sangat membahayakan dan mengancam keselamatan jiwa penghuni rumah. Karso kini telah pindah ke lokasi yang lebih aman.

"Di beberapa bagian rumah sudah berlubang terutama di lantai dan dinding," kata Kasoni mengisahkan.

Sementara itu, para pemilik rumah rusak yang masuk catatan di pemerintah desa mendapat bantuan dari pemerintah daerah. Di Grumbul Gandusari terdapat 203 kepala keluarga. Rumah yang rusak kebanyakan berada di lereng bukit dan tebing sungai.

Upaya yang dilakukan warga sekitar dengan menambal dinding rumah dengan bahan material supaya retakan tertutup, namun bekas tambalannya retak lagi. Kondisi ini makin mengkhawatirkan manakala hujan masih terus menerus mengguyur.

Namun, ancaman terjadinya bencana alam tanah longsor dan pergerakan tanah yang kerap mengintai nampaknya tak menggoyahkan mental warga. Mereka tetap menempati rumahnya saat memasuki musim hujan. Di samping itu, warga memang tidak memiliki tempat lain selain rumah yang sekarang dihuni.

"Sebelumnya saya khawatir dan takut saat hujan terus mengguyur, tapi sekarang sudah tidak takut lagi. Warga tetap tinggal di rumah," kata warga lain, Narti (52).

Dinding rumah Narti sampai saat ini masih terlihat retak-retak, tapi sebagian sudah ditambal. Begitu pula dengan lantai yang telah dikeramik ada yang retak-retak dan terlihat sudah tak tertata rapi. Posisi rumah juga sudah tidak tegak tapi agak miring akibat terdampak gerakan tanah.  

Peristiwa di Desa Cibangkong memantik perhatian pemerintah daerah, karena pergerakan tanah berada di lokasi padat penduduk. Pada 2006, Pemerintah Kabupaten Banyumas menggelar simulasi untuk memberikan pemahaman dan membuat jalur evakuasi ketika terjadi bencana. Warga juga mendapat sosialisasi terkait penanggulangan bencana alam, sehingga mereka mengetahui apa yang harus dilakukan ketika terjadi bencana alam tanah longsor.

Setelah dilakukan simulai bencana alam, pada 2007 Balai Sabo yogyakarta  memasang alat deteksi pergeseran tanah (ektensometer). Alat ini untuk merekam setiap pergeseran yang terjadi dengan akurasi 10 sentimeter dengan batas kritis 3 centimeter. Dengan begitu, pergeseran rekahan tanah dapat diukur.

Pemasangan ektensometer di desa itu dipasang melintang di atas rekahan tanah atau daerah mahkota (lokasi di bukit yang rawan terjadi tanah longsor). Jadi, jika pergeseran tanah sudah melampaui batas kritis tersebut, alat pantau ini akan mengirimkan alarm kepada server di stasiun induk.

Alarm yang diterima stasiun induk, secara otomatis akan dikirimkan dalam bentuk pesan singkat (sms) ke telepon seluler yang nomornya sudah terdaftar dalam server. Sedangkan, tenggang waktu pengiriman data tersebut paling cepat 37 detik dan paling lambat sekitar 1 menit 39 detik. Dengan adanya tenggang waktu tersebut, warga memiliki waktu yang luas untuk melakukan evakuasi.

Selain memasang ektensometer, Balai Sabo memasang alat penakar hujan. Alat ini berfungsi untuk memantau curah hujan, serta memasang tiltmeter yang berfungsi untuk mengukur kemiringan tanah. Alat yang memadukan teknologi berbasis seluler ini sangat membantu sistem peringatan dini terhadap bahaya tanah longsor.

Meskipun telah dipasang alat ekstensometer, penakar hujan dan pengukur kemiringan tanah, tak lantas membuat warga Desa Cibangkong merasa aman. Warga desa setempat tetap menerapkan mitigasi berbasis kearifan lokal yang telah dilakukan sejak lama.

Berdasarkan Perkiraan Musim Hujan dari Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (GMKG), awal musim hujan 2017/2018 pada 150 Zona Musim (ZOM) di Jawa, diperkirakan umumnya berkisar pada Oktober dan November 2017. Untuk wilayah Banyumas awal musim hujan rata-rata diprediksi mulai dasarian pertama sampai ketiga Oktober.

Peta Bencana

Peta bencana alam tanah longsor dan gerakan tanah di Desa Cibangkong tidak hanya berada di Grumbul Gandusari, melainkan di Grumbul Penjalin atau wilayah RW 4 dan Grumbul Penjalin di wilayah RW 5 dan RW 6.

Pemerintah juga telah menyarankan agar warga yang bermukim di daerah rawan bencana tanah longsor dan pergerakan tanah tidak diperbolehkan membangun rumah permanen, tetapi menggunakan papan karena tanah di grumbul itu sudah melampaui titik jenuh atau batas kemampuan. Warga juga tidak boleh membuat kolam ikan permanen.

Di desa itu terdapat 1.726 kepala keluarga (KK) dengan jumlah penduduk lebih kurang 7.630 jiwa dan memiliki 55 RT serta 8 RW. Wilayah Desa Cibangkong diapit oleh dua perbukitan yaitu Perbukitan Penjalin (514 Mdpl) di utara dan Perbukitan Kedawung Cilegede di selatan.

Dua sungai mengalir berlawanan di antara perbukitan desa ini yaitu Sungai Penjalin mengalir ke barat-selatan menuju Kali Tajum dan Sungai Bangkong mengalir ke timur-selatan menuju Sungai Kawung.

Relawan Komunitas Peduli Bencana Tanah Longsor Desa Cibangkong, Suwaryo, mengemukakan, mitigasi bencana berbasis kearifan lokal dengan cara meningkatkan kewaspadaan melalui siskamling secara bergilir setiap malam saat memasuki musim hujan.

Mengaktifkan pos ronda yang ada di setiap RT, menabuh kentung serta memberikan informasi menggunakan pengeras suara ketika gerakan tanah telah melampaui batas. Ini dilakukan supaya warga semakin waspada terhadap ancaman bencana tanah longsor.

"Kesiapan menghadapi musim hujan warga melakukan kerja bakti membersihkan drainase supaya tidak mampet, serta segera menutup rekahan-rekahan tanah agar air hujan tidak masuk," kata Suwaryo.

Kesiapsiagaan ini sangat penting karena hampir setiap memasuki musim hujan ancaman bencana tanah longsor selalu mengintai. Selama 2005 sampai 2017, masih terjadi pergerakan tanah namun tidak seperti pada peristiwa 12 tahun lalu.

"Masyarakat juga sudah sadar dan mereka selalu waspada karena sering mendapat sosialisasi dari pemerintah," kata Suwaryo yang juga menjabat sebagai Kasi Kesejahteraan Masyarakat Desa Cibangkong.

Histori Desa Cibangkong yang sering terjadi bencana tanah longsor dan masuk dalam wilayah rawan bencana membuat desa itu dipersiapkan menjadi salah satu desa tangguh bencana pada 2017.

Kriteria dikategorikan menjadi desa tangguh bencana diantaranya, memiliki data rawan bencana, adanya forum pengurangan risiko bencana, memiliki peta rawan bencana, serta memiliki rencana kontijensi.

Saat ini di Banyumas telah terdapat tujuh desa yang dikategorikan desa tangguh bencana. Desa-desa tersebut antara lain, Desa Melung Kecamatan Kedungbanteng, Desa Sikapat Kecamatan Sumbang, Desa Sunyalangu Kecamatan Karanglewas, Desa Kaliwedi Kecamatan Kebasen.

Kemudian, Desa Nusadadi Kecamatan Sumpiuh, Desa Selandaka Kecamatan Sumpiuh, dan Desa Watuagung Kecamatan Tambak. Desa tangguh bencana di Banyumas, saat ini masih digolongkan dalam tahap pratama.

Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas, Erry Cahyono beberapa waktu lalu mengatakan, BPBD Banyumas akan terus melakukan sosilisasi mengenai pengurangan risiko bencana. Sosialisasi antara lain dilakukan di wilayah-wilayah yang rawan bencana. (*)

(Puji Purwanto /SMNetwork /CN40 )