image

Foto: Istimewa

28 September 2017 | 11:25 WIB | Pringgitan

Rumus Ketenangan Hidup Serat Panitibaya

Ada banyak cara ditempuh untuk mencapai ketenangan hidup. Dalam sejarah, pitutur-pitutur dan wewaler (larangan) sering disampaikan oleh para pujangga kerajaan dalam karya-karyanya.

Salah satunya yang ditulis oleh Bhatara Katong yang merupakan putera Prabu Kertabhumi atau Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit. Sunan Katong atau Bhtara Katong hidup semasa dengan Ki Ageng Pandan Arang. Ia masih bersaudara satu ayah lain ibu dengan Raden Patah. 

Dalam Babad Ponorogo disebutkan, Sunan Katong yang sebelumnya beragama Hindu, memutuskan memeluk Islam di hadapan Ki Ageng Mirah. Sunan Katong kemudian mendirikan masjid di Sentono, Ponorogo.

Selain masjid, beliau juga memberikan tuntunan hidup kepada murid-muridnya lewat Serat Panitibaya yang digubah dalam bentuk tembang Pangkur. Pada serat yang berjumlah 176 pupuh ini, beliau mengurai pesan-pesan untuk masyarakat agar lebih meningkatkan iman dan takwanya.

Berikut beberapa penggal Serat Panitibaya yang memberi ketenangan hidup bagi siapapun yang mau menjalankannya.


Pupuh 64

Ping sawidak-papat aja,
sok gumuna sumakti nadyan luwih,
aja ungal mungil mungup,
gawe kumet wong liyan,
aja eram kagetan marang wong gunggung,
kabeh iku singgahana,
memanas ati niwasi

Keenam puluh empat, janganlah,
(kamu) merasa pandai, sakti, walaupun (kamu) memang sungguh hebat,
jangan ke sana ke mari menampakkan diri (pamer),
membuat pening orang lain,
jangan heran dan terkejut akan senyum orang,
semua tadi singkirilah,
(sikap itu) membuat hati panas orang saja, dan dapat berbahaya bagimu.


Pupuh 80

Kaping asthadasa aja,
agawean yen durung wruh dadining,
manawa tyas kapiduwung,
osik ira kang minangka sipatipun,
yen lali nora rineksa,
sayektine aniwasi.

Kedelapan puluh, janganlah,
membuat sesuatu jika belum tahu akan hasilnya,
jangan-jangan hati menjadi kecewa,
(dapat) menyebabkan kurang waspada,
demikian kebiasaan sifat dalam hati,
jika lupa tak dijaganya,
sebenarnya akan membuat sengsara.


Pupuh 93

Ping nawadasa-tri aja,
lamun wungu aywa lali ngabekti,
mring Allah ingkang mahagung,
kapindho mring utusan,
Kanjeng Nabi nayakeng rat kang pinasal,
sayekti wajib ngagesang, 
yen lali yekti niwasi.

Kesembilan puluh tiga, janganlah,
sewaktu bangun lupa menyembah,
kepada Allah Yang Maha Agung,
kedua kepada utusanNya,
Kanjeng Nabi penuntun kami yang diutus,
Sesungguhnya hal ini menjadi kewajiban semua orang hidup,
jika lupa, benar-benar menyengsarakan.

(Fadhil Nugroho Adi /SMNetwork /CN41 )