image

PAMERAN KESEJARAHAN: Bupati Mohammad Yahya Fuad melihat koleksi museum usai pembukaan Pameran Kesejarahan di Gedung Pertemuan Setda Kebumen, Rabu (20/9). (Foto: suaramerdeka.com/Supriyanto)

21 September 2017 | 17:50 WIB | Kronik

16 Museum Pamerkan Koleksi di Kebumen

KEBUMEN, suaramerdeka.com- Sebanyak 16 museum memboyong sebagian koleksinya dalam Pameran Kesejarahan di Gedung Pertemuan Setda Kebumen. Pameran kesejarahan yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jateng itu berlangsung Rabu-Minggu (20-24/9).

Pemeran kesejarahan yang dibuka oleh Bupati Mohammad Yahya Fuad itu mengangkat tema "Pahlawanku Idolaku, Meneladani Pahlawanan Bangsa". Adapun sejumlah museum yang turut memamerkan koleksinya meliputi Bayt Alquran dan Museum Istiqlal (Jakarta), Museum Glagah Wangi (Demak), Museum Sumpah Pemuda (Jakarta), Museum Perumusan Naskah Proklamasi (Jakarta), Museum Sudirman (Magelang), Museum Mandala Bakti (Semarang), dan Museum Susilo Soedarman (Cilacap).

Kemudian Museum Benteng Bredeburg (Yogyakarta), Museum Kepresidenan Balai Kirti (Bogor), Museum Sekolah Slawi (Tegal), Museum Poerbakawatja  (Purbalingga), Museum Martha Tilaar (Gombong), Museum Bumiputera 1912 (Magelang), Monumen Pers Nasional (Surakarta), Balai Pelestarian Nilai Budaya (Yogyakarta) dan Museum Penerangan (Jakarta).

Kepala Bidang Pembinaan Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng Bambang Supriyono menjelaskan, melalui pameran kesejarahan tersebut untuk mengenalkan sejarah kepada generasi muda melalui koleksi yang dimiliki oleh museum.

"Selain itu, pameran ini sekaligus dapat mendekatkan museum kepada masyarakat Kebumen," ujar Bambang Supriyono dalam sambutannya.
    
Kenalkan Sejarah
Bupati Kebumen Mohammad Yahya Fuad menilai pameran kesejarahan sangat penting untuk mengenalkan sejarah Indonesia secara benar kepada generasi penerus. Sehingga sejarah yang baik bisa ditiru dan sejarah yang buruk menjadi pembelajaran agar tidak terulang kembali.

"Melalui pameran kesejarahaan generasi penerus dapat mengenali para pahlawan dan menjadikan para pahlawan Indonesia sebagai idola. Sehingga anak-anak Indonesia tidak memiliki idola superhero yang fiktif," ujar Yahya Fuad.

Yahya Fuad menambahkan, sangat perlu sosialisasi museum agar generasi berikutnya mengenal sejarah yang sebelumnya. Dia menekankan agar pendidikan sejarah tidak melulu soal belajar sejarah, tetapi meningkat menjadi belajar dari sejarah.

Kepala Seksi Sejarah dan Tradisi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng Hermawati menambahkan, pameran kesejarahan diselenggarakan setiap tahun dengan lokasi yang berbeda-beda di kabupaten/kota di Jateng. Pameran yang digelar mulai pukul 08.00-20.00 itu juga disemarakkan dengan pergelaran seni tradisi, kesenian dari Museum Penerangan dan penampilan kesenian pelajar Kebumen.

"Melalui pameran ini sekaligus mempromosikan keberadaan museum serta mendorong minat masyarakat untuk mengunjungi museum," ujar Hermawati menyebutkan di Jateng terdapat 55 museum.

(Supriyanto /SMNetwork /CN41 )