image

Foto: Istimewa

29 September 2017 | 11:43 WIB | Tips

Migrain Bisa Dicegah

  • Oleh Dr Hamidah SpS MsiMed - RS Columbia Asia Semarang

Kebanyakan masyarakat belum mengetahui, klasifikasi nyeri kepala, apakah termasuk migren, nyeri kepala akibat penggunaan zat atau pemutusan penggunaan zat, infeksi, gangguan homeostatis, gangguan tulang tengkorak, mata, leher, hidung, sinus, gigi, nyeri neuopatri kranial, nyeri kepala lain  ataupun nyeri kepala yang disebabkan gangguanpsikiatrik.

Dokter spesialis saraf RS Columbia Asia Semarang Dr Hamidah SpS MsiMed mengatakan migren merupakan nyeri kepala sedang hingga parah yang terasa berdenyut yang biasanya hanya mengenai sebelah sisi kepala saja. Adapun ciri-ciri terkena migren diantaranya, memiliki pola waktu antara 4 sampai 72 jam. Karakeristik sakit kepala sering secara unilateral dan berdenyut. Berintensitas sedang sampai parah. Gejala yang menyertainya mual bahkan sampai muntah. Hal ini tentu amat menggangu dan bias menghambat segala aktivitas penderita.

“Migren dibedakan menjadi beberapa kelas yaitu, migren tanpa aura, migren dengan aura, komplikasi migren, kronik migren, kemungkinan migren dan sindrom episodik yang mungkin terkait dengan migren,” katanya.

Pada sebagian orang, migren hanya muncul beberapa kali dalam setahun, namun ada pula penderita migren yang mengalaminnya beberapa kali dalam seminggu, pada kasus tertentu, nyeri migren juga bisa menyerang di kedua sisi kepala bahkan terasa nyeri hingga ke leher. “Tidak ada identifikasi kusus untuk migren, dan cara mengidentifikasinya dengan menyesuaikan gejala pada keriteria migren,” katanya.

Untuk migren sendiri memiliki dua subtipe utama yaitu, yang pertama migren tanpa aura, dimana nyeri kepala berulang dengan manifestasi serangan selama 4 – 72 jam dengan karakteristik nyeri kepala unilateral, berdenyut, intensitas sedang atau berat, akan bertambah berat dengan aktivitas fisik yang rutin dan diikuti dengan nausea dan fonofobia atau fotofobia. Yang kedua migren dengan aura yaitu, serangan yang berulang, berlangsung beberapa menit, disertai gejala gangguan visual unilateral yang reversible, gangguan sensorik atau gejala susunan saraf pusat yang lain yang biasanya timbul secara bertahap dan biasanya diikuti oleh nyeri kepala dan gejala lain yang terkait dengan migren.

“Migren dapat terjadi karena beberapa faktor diantaranya, stres, gangguan tidur, suara, cuaca, kelelahan, visual, puasa, bau, hormonal dan juga alkohol,” katanya.

Bagi kebanyakan orang, migren tergolong penyakit yang umum, dan tanpa penanganan yang khusus akan sembuh. Namun pendapat tersebut tidak dibenarkan, hendaknya bila terjadi migren disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter. Apabila terjadi serangan migrain lebih dari lima hari dalam sebulan, dan rasa sakitnya sudah tidak dapat diatasi dengan obat-obatan yang dijual bebas maka wajib untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan dokter.

Tujuan manajemen migraine selain untuk mengembalikan pasien ke kondisi normal juga mengurangi ketidakmampuan beraktivitas, mengurangi frekuensi serangan migren dan keparahan, meningkatkan kualitas hidup pasien, mendidik pasien dengan swakelola penyakit, menggunakan penggunaan obat yang tepat dan mencegah penggunaan obat berlebihan.

Migen dapat dicegah dengan menjalani gaya hidup sehat, olahraga teratur, pola makan sehat, batasi konsumsi minuman keras dan kafein. Selain itu juga harus mengenali dan menghindari pemicu migren, misalnya stress dan kelelahan dan  menghindari konsumsi obat-obatan tertentu, terlebih pada wanita yang biasa mengkonsumsi pil KB, karena didalamnya terdapat hormon esterogen yang dapat memicu migren. Dengan beristirahat di ruangan gelap dan sunyi, terkadang menjadi salah satu solusi disaat migren datang.

(Fadhil Nugroho Adi /SMNetwork /CN41 )