image

Poster Turah (SM/fourcoloursfilms)

11 September 2017 | 21:19 WIB | Sinema

Turah dan Kejutan-kejutan Sinematik

SEJAKkali pertama diputar, Turah (2016) langsung menyentak. Film karya sutradara Wicaksono Wisnu Legowo dan produser Ifa Isfansyah yang diproduksi oleh Fourcolours tersebut langsung menyabet penghargaan di ajang yang diikuti. Laman fourcolorsfilms.com menyebut, pada Singapore International Film Festival 2016, Turah mendapatkan Special Mention Asian Feature Film. Sementara pada 11th Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2016, film itu meraih dua penghargaan sekaligus yakni Geber Award dan NETPAC Award.

Film yang berdurasi 79 menit (beberapa sumber menulis pula 82 dan 83 menit) itu juga berkelana ke beberapa festival film di berbagai negara seperti Bengaluru International Film Festival 2017di India, Asean International Film Festival and Award 2017 di Malaysia, Seoul International Agape Film Festival 2017 di Korea Selatan, Cinemalaya Independent Film Festival 2017 di Filipina, dan lainnya,

Penghargaan NETPAC Award pada JAFF 2016 di Yogyakarta menarik untuk menjadi landasan dalam mengulas lebih lanjut film yang menggunakan Bahasa Jawa dialek Tegal tersebut. Situs resmi JAFF mengungkapkan, NETPAC Award diberikan oleh Network for the Promotion of Asian Cinema (NETPAC) sebagai bentuk apresiasi terhadap karya sutradara Asia yang memberikan kontribusi sinematik yang dinilai penting bagi gerakan sinema baru Asia.

Pertanyaannya, kontribusi sinematik apa yang disumbangkan oleh Turah. Secara sederhana, penulis berupaya menebak. Setidaknya ada tiga hal yang membuat film yang dibuat berdasar realitas itu menarik. Diantaranya yakni tema cerita, pengadeganan dan pengambilan sudut pandang kamera, serta penokohan. Semua itu menurut penulis menjadi kekuatan utama dan dibenangmerahi dengan kejutan-kejutan yang barangkali tak terkira sebelumnya.

Tema kemiskinan bisa disebut kerap diangkat dalam dunia film, termasuk di Tanah Air. Meski begitu, tema disertai alur yang dibawa Turah tak seperti biasa. Turah mengisahkan masyarakat miskin yang tinggal di Kampung Tirang, sebuah kawasan yang memang ada dan konon terbentuk dari gugusan tanah di pesisir Kota Tegal.

Penulis cerita yang sekaligus sutradara, dengan cerdik tak membawa kisah ini menjadi melodrama yang berurai air mata. Turah justru menunjukkan "kekuatan" kaum miskin saat bergelut dengan hidup.

Setidaknya hal itu diakui Wicaksono pada laman fourcloursfilms.com. Dia menyatakan, "Di film ini saya tidak menyajikan cerita yang menyayat hati atau karakter-karakter yang butuh simpati. Saya menghadirkan kehidupan sekelompok manusia yang berusaha untuk bertahan dengan cara masing-masing, demi kehidupan indah yang mereka idamkan."

Selain itu, alur yang ditampilkan tak mudah ditebak. Di awal kisah, saat Kanti (istri Turah, diperankan oleh Narti Diono) didatangi petugas sensus untuk pilkada, penonton mungkin mengira film ini akan mengarah ke politik. Begitu pula, saat Jadag (Slamet Ambari) mengumbar kisah kejantanannya bersama Ilah, istri Darso (Yon Daryono), mungkin sebagian kemudian menebak ini adalah kisah tragis cinta segitiga.

Tapi ternyata tidak. Kisah Turah berkelindan, membuat penonton harus terus terjaga agar tak tertinggal. Seperti trik sulap yang entah akan mewujud apa.

Berikutnya soal pengadeganan. Dalam film, hal itu akan sempurna bila ditunjang pengambilan sudut pandang kamera yang tepat. Pada film yang disebut membutuhkan waktu beberapa hari untuk pengambilan gambar itu, ada setidaknya dua adegan yang menonjol.

Yang pertama saat Jadag bertengkar dengan istrinya, Rum (Cartiwi) di rumahnya. Kamera saat awal adegan itu, berperan sebagai Rum yang kemudian berputar arah setelah sebuah
panci dilempar ke Jadag. Kesan dramatis sekaligus menunjukkan penonton bahwa mereka memang tengah menonton film, tampak pada adegan ini.

Yang berikutnya yakni adegan malam hari, saat Turah (Ubaidilah) tengah keliling kampung di bawah hujan. Kesan misteri tertangkap jelas pada detik-detik ini, meski tanpa ditambah dengan efek musik yang berlebihan.

Bagi penulis, satu atau dua adegan yang "sempurna" sudah cukup untuk  menjadi pengingat sebuah film. Dalam Turah, dua adegan mengejutkan seperti yang disebut, mewakili.

Satu lagi kekuatan film ini yakni penokohan. Setidaknya ada dua kejutan yang dicatat penulis. Yang pertama, yakni sosok Jadag yang ditampilkan sama "kuat" dengan Turah. Meski Turah yang dipilih untuk menjadi judul, tak lantas berarti dia menjadi yang terkuat dalam alur cerita. Justru Jadag dengan semua masalahnya yang hampir mendominasi. Alih-alih menempatkannya sebagai kelemahan, justru pilihan itu yang menurut penulis menjadi salah satu kelebihan Turah, terutama sebagai kejutan untuk penonton.

Kejutan lainnya, yakni Ilah, istri Darso, yang disebut namanya saja, tapi tak pernah ditampilkan seperti apa sosoknya. Hal itu membuat penonton pulang dengan tanya atau imajinasi seperti apa dia sebenarnya. Pembiaran itu menambah daya tarik film.

Beberapa kekuatan tersebut mampu menutup kelemahan yang masih muncul. Salah satunya menyangkut latar atau set lokasi. Menurut penulis, gambaran Pulau Tirang masih kurang ditampilkan secara utuh, termasuk perkampungan yang tumbuh di situ.

Dan kalaupun Turah tak bisa menyedot banyak penonton di bioskop saat ditayangkan pertengahan tahun ini, itu lebih karena kurang lebih dua ribu orang telah menyaksikannya terlebih dulu saat film itu ditayangkan dari komunitas ke komunitas di berbagai daerah.

Di luar unsur sinematik, kontribusi Foucolours dalam memproduksi Turah layak mendapat apresiasi lebih. Apalagi sebelumnya mereka telah sukses membuat Siti, yang memenangi Festival Film Indonesia 2015. Ini bisa dianggap warna lain sebagai sumbangsih pada apa yang disebut identitas film Indonesia.

(Adhitia Armitrianto /SMNetwork /CN41 )

ENTERTAINMENT TERKINI