image

Adisurya Abdi (suaramerdeka.com/Benny Benke)

11 September 2017 | 11:30 WIB | Sinema

Tiga Sutradara dan Produser Film Belajar dari Kritik

JAKARTA, suaramerdeka.com- Kritik film mempunyai peran yang sangat penting dalam perkembangan film Indonesia. Karena via kritik, yang galibnya ditulis kritikus, seorang film maker dapat belajar tentang kesalahannya, dan dapat memperbaikinya di produksi film selanjutnya. Demikian dikatakan sutradara Andi Bachtiar Yusuf dalam sesi Pentingnya Kritik Film di acara Semiloka Kritik Film di Medan, kemarin.

Dalam acara yang diinisiasi Pusbang Film, Kemendikbud itu, peraih Piala Citra untuk kategori film dokumenter via film The Conductors (2008) itu menambahkan, keberadaan kritik dan film sejatinya tak terpisahkan.

"Keberadaan kritik ada, karena ada atensi pencinta film terhadap film kita," imbuh surtradara film The Jack, Romeo dan Juliet, Kita Pasti Menang dan yang terkini Love for Sale.

Ucup, demikian ia biasa disapa menambahakan, sebagai sutradara dia sangat menyukai kritik yang memberikan konten, atau dalam bahasa klise, kritik membangun. Karena dia sangat memahami, film adalah karya seni yang komunikatif, dan gagasan kita bisa dikomunikasikan via bahasa gambar dengan penontonnya. Dengan demikian, tidak ada film yang tidak bisa dikomunikasikan dengan penontonnya. Dia juga menekankan dirinya adalah persona yang membutuhkan kritik.

"Tapi bukan juga kritik yang menghujat dan menebar kebencian, tanpa penjelasan berdasar ilmu pengetahuan," kata Andi Bachtiar Yusuf alias Ucup. 

Hal senada dikatakan Robert Ronny, produser dari rumah film Legacy Pictures yang baru saja merilia film Kartini (2017). Menurut RobRon, yang juga telah merilis film Kapan Kawin, AADC2, ILY from 38.000 Feet dan Firegate itu, kritik film bisa menjadi sarana saling belajar antara pembuat film dan penikmat film.

"Kritik film yang baik, bisa menjadi path atau jalan pembuka bagi pembacanya, untuk menonton atau tidak sebuah film, tanpa harus menghakiminya," katanya.

Dia menambahkan, untuk mendapatkan kritik yang proper atau pantas, kritikus film harus membekali dirinya dengan ilmu-ilmu tentang perfilman.

Sebagaimana dirinya selaku produser harus menguasai ilmu tentang disain produksi. Sehingga diharapkan dapat membangun rancangan proses produksi film dengan semestinya. Dengan demikian proses produksi film dapat dipetakan sedemikian rupa. Dari proses pra produksi, produksi dan post produksi. 

"Bahkan kami harus membangun struktur keuangan yang rigid, agar lalu lintas keuangan terpetakan dan terstruktur," katanya.

Dia menambahkan, bahwa pemahaman disain produksi yang baik, seharusnya juga dikuasai oleh seorang kritikus film.

"Dengan demikian kritik datang dengan lebih fair dan adil terhadap sebuah film yang disain produksinya sudah baik, tapi misalnya, penontonnya tidak seperti yang diharapkan," katanya.

Adisurya Abdy, sutradara dan produser film senior menekankan, keberadaan sebuah kritik adalah keniscayaan. Karena semua karya kreatif, termasuk film di dalamnya, jika sudah dilempar ke publik, sudah menjadi milik publik.

"Di sana kritik berbicara, apa pun bentuknya. Dan kita harus belajar menerimanya," ujar Adi, yang sejak tahun 1979 telah menjadi asisten sutradara film Gita Cinta dari SMA.

Atas alasan itu, menurut Ketua Sinematek Indonesia itu, film yang dihasilkan sutradara harus bisa dipertanggungjawabkan secara estetis.

"Sutradara adalah story teller, yang bercerita via bahasa gambar. Sutradara harus menjadi panglima dari berbagai disiplin ilmu. Dan menbuat tim kerjanya memberikan yang terbaik," katanya.

Dengan karya kreatif yang apik, sudah menjadi hukum alam, kritik yang hadir pun menjadi baik pula. Dimikian pula sebaliknya, karya asalasalan, akan menjadi bulanbulanan kritik. 

(Benny Benke /SMNetwork /CN40 )

ENTERTAINMENT TERKINI