image
08 Oktober 2016 | 13:29 WIB | Sastra

Setelah 17 Tahun, Satu Lagi dari Noorca

JAKARTA, suaramerdeka.com - Noorca M. Massardi tidak akan pernah berhenti menulis. Yang terkini, prosanya berjudul Setelah 17 Tahun kembali hadir ke hadapan publik. Prosa terbitan PT. Gramedia Pustaka Utama, setebal 256 halaman itu, bernarasi tentang kekerasan verbal dalam rumah tangga.

Atau dalam bahasa Noorca, novel ini diihami kisah nyata, yang bernarasi tentang drama psikologis dalam sebuah rumah tangga. Di mana para tokohnya mengalami trauma dan terbelenggu kepahitan masa silam. Sebelum akhirnya, setelah 17 tahun menahan derita akibat cercaan kekerasan verbal, tokoh utamanya berani mengambil langkah dan keputusan berani, demi membela kemanusiaannya.

Selebihnya, membaca novel, yang ditulis oleh salah satu penulis prosa terkemuka di Indonesia ini, seperti membaca “luka” dalam rumah tangga, yang sejatinya, banyak terjadi di sekitar kita. Yang atas nama,”Demi mendapatkan ridho dari Allah SWT,” dalam terma mengarungi bahtera rumah tangga, seorang ibu rumah tangga, acap menjadi korban kekerasan verbal dari suaminya sendiri.

Sebelum akhirnya keberanian tiba, dan pelaku utamanya mengambil langkah penting dalam hidupnya. “Masa lalu tidak berlalu. Ia di depan dan selalu. Masa lalu tidak berlalu. Ia diburu atau memburu,” demikian Noorca bersyair seperti hendak menyimpulkan sengkarut persoalan di novel yang barubaru ini secara resmi telah dirilis ke pasar itu.

Dibutuhkan waktu 17 tahun untuk melawan dan mengakhiri kekerasan verbal dalam rumah tangga, memang bisa menjadi persoalan, atau perdebatan. Menimbang, di era modern seperti sekarang, biasanya setiap persona mempunyai sangu intelektualitas dan kemandiriannya masingmasing, sebelum memasuki bahtera rumah tangga.

Tapi, bukan Noorca jika tidak mampu memberikan alasan yang sangat masuk akal, kenapa harus sampai 17 tahun, kesadaran baru songsong.

(Benny Benke /SMNetwork /CN41 )