| Minggu, 10 Februari 2008 | OLAHRAGA |
OFFSIDE''Kutukan'' Delapan Besar
FORMAT kompetisi yang disusun PSSI melalui Badan Liga Indonesia ibarat bumerang. PSSI akhirnya menjadi pihak yang tersudut sendiri setelah model yang dipilih itu ternyata menimbulkan kekacauan dan korban. Babak delapan besar yang pada periode 2007 tetap dipertahankan memang meningkatkan daya tarik. Tim-tim yang lolos lewat perjuangan berat, bakal mendapat semangat ''kebangkitan'' pada fase akhir itu. Predikat tim favorit terhadap kesebelasan-kesebelasan yang maju dengan relatif mudah, juga mengakibatkan warna persaingan sarat romantika. Kompetisi yang seakan dimulai dari awal lagi menjanjikan kemeriahan dan ketegangan baru yang merata dirasakan oleh delapan kesebelasan terpilih. Tetapi, model itu sebenarnya mengingkari hakikat kompetisi liga. Di belahan dunia lain, tidak ada kompetisi domestik yang sepadat Indonesia. Divisi Utama di negara-negara Eropa maksimal diikuti 20 kesebelasan. Malah di Divisi Utama Liga Portugal hanya ada 16 klub, sama dengan Liga Rusia. Bundesliga, divisi paling elite di Jerman, cuma diikuti 18 kesebelasan. Jumlah itu hanya separo anggota Divisi Utama Liga Indonesia musim 2007. Sekalipun jumlah kesebelasan begitu banyak, penyelenggaraan babak delapan besar yang berarti memperpanjang waktu kompetisi ternyata tidak dihindari. Sebuah keputusan ironis, karena sebenarnya tahun lalu banyak agenda yang mau tidak mau pasti memengaruhi kompetisi. Di luar bulan puasa, telah ada penyelenggaraan Piala Asia yang juga sebulan waktunya. Padahal kejuaraan itu melibatkan tim nasional yang tentunya harus mempersiapkan diri secara optimal agat tidak memalukan, karena berlaga dengan status tuan rumah. Mereka juga dituntut berbenah ketika menghadapi Pra-Piala Dunia pada tahun yang sama. *** Tidak bijaksana bila PSSI menyalahkan penyelenggaraan Piala Asia sebagai penyebab molornya kompetisi, yang berdampak pada ditolaknya wakil Indonesia mengikuti Liga Champions Asia 2008. Dua kesebelasan yang didaftarkan setelah deadline, tak diperkenankan ikut mengingat memang mereka belum pantas menjadi wakil karena kompetisi belum berakhir. Andai saja esensi kompetisi dipegang, bisa saja penyelesaiannya tidak harus menunggu sampai tahun 2008 datang. Toh awal 2007 kompetisi sudah mulai digelar. Tetapi, babak delapan besar memang menggoda. Apalagi sebelumnya kompetisi di Indonesia memang telah melenceng dari hakikatnya sebagai wadah utama pembinaan prestasi. Di tengah emosi meluap-luap suporter, PSSI memperbolehkan satu klub menggunakan lima pemain asing. Lembaga itu juga tak mempersoalan dari mana datangnya pendanaan sebuah klub. Babak delapan besar model turnamen, juga digunakan dalam kompetisi liga. Padahal telah ada Copa Indonesia yang menggunakan sistem gugur, sehingga pada akhirnya juga ada perempat final, semifinal, dan final. Di mana-mana, kompetisi liga menggunakan format poin. Segalanya tiba-tiba terefleksikan dalam babak delapan besar. Ketika banyak klub resah karena dana APBD tak lagi mengalir mudah seperti sebelumnya, semua borok itu muncul. Kemarahan suporter Arema mengakibatkan Stadion Brawijaya rusak. Eksesnya, kompetisi yang sudah telat jadi makin molor. Pelatih dan pemain asing yang diharapkan mentransfer ilmunya, ternyata bertingkah memalukan saat mengungkapkan kekecewaan di Stadion Sriwedari. Sanksi-sanksi yang dikeluarkan terhadap pemain-pemain bermasalah, ternyata bisa dimentahkan. Bencana dari babak delapan besar itu belum berakhir. Suporter Persija dan Persipura yang sudah bersitegang ketika mereka bertemu dalam semifinal Copa Indonesia, kembali bertemu di Senayan saat mendukung timnya berlaga pada semifinal Liga Djarum Indonesia. Padahal dua tim itu menghadapi lawan yang berbeda. Tak disangka, babak delapan besar menjadi semacam ''kutukan''. Wajar bila Menpora yang sudah gemas pada persepakbolaan nasional karena berbagai kasus dalam keorganisasian maupun kerusuhan suporter, melarang kompetisi liga menggunakan lagi format delapan besar. Ketika mekanisme tersebut tak lagi digelar tahun depan, sebenarnya keputusan itu dibuat dengan ''harga'' yang begitu mahal. Upaya mengembalikan kompetisi liga ke ''fitrah''-nya dilandasi antara lain oleh hilangnya nyawa salah seorang suporter Persija. Kepedihan dari blantika sepak bola Indonesia seakan hadir tanpa henti. (*-40) |