| Minggu, 10 Februari 2008 | NASIONAL |
Marco Kartodikromo, Jurnalis yang TerlupakanMARCO Kartodikromo lahir tahun 1890 di Cepu, berasal dari keluarga priyayi rendahan. Tahun 1905 ia bekerja di Nederlandsch-Indische Spoorweg (NIS) di Semarang. Di instansi ini ia belajar bahasa Belanda. Setelah 6 tahun bekerja di perusahaan jasa angkutan kereta api itu, semangat nasionalismenya berkobar. Ia tidak bisa bertahan lagi untuk bekerja pada perusahaan Eropa yang sangat rasialis, membedakan golongan jabatan dan gaji atas dasar ras. Ia memilih bekerja sebagai jurnalis, agar dapat mengekspresikan dan menggelorakan semangat kebangsaan guna meninggikan derajat bangsa dan tanah air. Tahun 1911 ia meninggalkan Semarang, ke Bandung menjadi wartawan surat kabar Medan Prijaji, di bawah pimpinan Tirto Adisoerjo.Di situ Marco terbentuk sebagai wartawan, politikus, dan juga sastrawan. Medan Prijaji berhenti karena dilarang oleh pemerintah Belanda.Marco bergabung dengan Sarotomo, surat kabarnya Sarekat Islam di Solo. Bersama dengan Tjipto Mangoenkoesoemo dan Darnakoesoemo, Marco mendirikan Inlandsche Journalistenbond (IJB) di Solo. Ia juga menerbitkan Doenia Bergerak sebagai medium pergerakan IJB. Marco Kartodikromo sering berurusan dengan delik pers. Sebagai jurnalis dalam Doenia Bergerak ia dipenjara Mlaten selama 100 hari. Tuntutan masyarakat pribumi meruntuhkan putusan hakim yang 9 bulan penjara. Keluar dari penjara Mlaten di Semarang, ia dikirim ke negeri Belanda oleh pemimpin harian Pantjaran Warta, Goenawan, untuk menjadi koresponden. Di Belanda ia tinggal selama 5 bulan, menerbitkan Boekoe Sebaran Jang Pertama. Sehari setelah kembali dari Belanda, pada 13 Februari 1917 ia menjadi redaktur surat kabar Pantjaran Warta di Batavia. Lagi-lagi ia harus dipenjara setahun karena tulisannya. Pada 21 Februari 1918 Marco dibebaskan, kemudian ia bergabung dengan Semaoen di Semarang dan menjadi Komisaris Sarekat Islam. Pada 18 Maret 1918 ia direkrut sebagai redaktur Sinar Djawa, harian milik Sarekat Islam Semarang. Walaupun Marco tidak lama bekerja pada Sinar Djawa, yang pada tahun 1918 berganti nama Sinar Hindia, telah banyak pemikirannya mengenai pergerakan yang disumbangkan kepada rakyat bumiputera. Ceritera Bersambung Buah penanya tidak hanya berupa pandangan dan kritik terhadap kondisi masyarakat kolonial, tetapi juga berupa cerita bersambung Student Hidjo (1918), yang juga diterbitkan pada tahun 1919. Cerita bersambung itu mengisahkan gaya hidup seorang pemuda bumiputera, Raden Hidjo, yang berpendidikan di Hogere Burger School (HBS) dan kemudian meneruskan pendidikan di negeri Belanda. Karena pendidikan Barat itu, Raden Hidjo bergaya hidup modern seperti berbicara dengan bahasa Belanda, berpakaian ala Barat, mengunjungi rumah makan, menonton film, minum limun, menikmati musik, seperti dilakukan oleh orang-orang Eropa. Pada tanggal 15 Desember 1919 Marco mundur dari redaksi Sinar Hindia dan ganti menjadi redaktur Soero Tamtomo, bagian dari organisasi Wono Tamtomo, perhimpunan pegawai Dinas Kehutanan (Boschwezen). Lagi-lagi ia dipenjara selama enam bulan karena tulisannya berjudul Sjairnja Sentot. Setelah ia keluar dari penjara, Marco melihat dunia pergerakan telah guncang. Pada tahun 1921 ia pindah ke Salatiga. Di kota ini pun ia dikenai lagi tuntutan delik pers karena tulisannya dalam Pemimpin, dan dipenjara selama dua tahun di Batavia. Jurnalis Terlupakan Marco Kartodikromo adalah pejuang nasionalis yang diekspresikannya melalui jalur jurnalistik dan politik. Kecenderungan Marco pada marxisme bukan berarti bahwa karena ia ingin mengadakan perubahan sistem kenegaraan secara radikal (dengan teror, pengrusakan, dan penggulingan pemerintahan dengan kudeta), tetapi karena sebagai seorang nasionalis, mungkin ia merasa cocok dengan marxisme yang mengajarkan perlawanan terhadap segala bentuk penindasan, termasuk kolonialisme dan imperialisme. Kecenderungannya pada marxisme ini telah mendorongnya untuk menjadi anggota PKI. Sangat mungkin keanggotaannya dalam PKI itulah yang menyebabkannya ditangkap dan dibuang ke Digul, tempat ia wafat karena sakit malaria. (11) - Dewi Yuliati, Dosen di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Undip |