| Minggu, 10 Februari 2008 | NASIONAL |
Presiden Membaca Bersama 10.000 SiswaPemimpin Besar Suka Membaca Sejak KecilHembusan angin menyibakkan koran di tangan Annisa, siswi kelas 1 SMP Muhammadiyah 3 Semarang. Ia mencoba memegang erat-erat korannya agar tak terbang dibawa angin. Matanya sibuk membaca deretan kata pada sebuah berita hiburan yang berjudul Bjork Pastikan Konser di Jakarta. Sementara segerombol anak laki-laki berseragam putih abu-abu dibelakangnya, berkerumun membaca berita sepak bola berjudul Kerja Keras Kunci Sukses Kamerun. "Wah jagoanku akhirnya masuk final Piala Afrika," kata Fikri, siswa SMK Negeri 7 Semarang itu antusias. Antusias bocah-bocah itu serupa dengan antusias sepuluh ribu siswa-siswi SMP, SMA dan SMK se-Kota Semarang lainnya. Mereka berkumpul sejak pukul 08:00 untuk mengikuti Gerakan Membaca Koran Massal dalam rangka peringatan Hari Pers Nasional 2008 yang dipusatkan di Semarang, Sabtu (9/2). Meski mendung menggelayut di langit Kota Semarang dan hujan terus mengguyur sejak beberapa hari kemarin, namun semangat mereka tak luntur untuk membaca koran bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di lapangan Stadion Tri Lomba Juang. Siang itu, Presiden SBY mengajak para pelajar untuk membudayakan gemar membaca. Ia beserta pelajar bersama-sama membaca koran terbitan Jawa Tengah. "Ada berita bagus, judulnya Pendekatan Regional untuk Basmi Narkotika. Banyak sekali berita di koran. Kita harus bisa memilih mana yang tepat untuk dibaca," ujarnya. Sejenak orang nomor satu di Indonesia itu membaca berita tersebut hingga tuntas. Ia pun kemudian beralih ke halaman berikutnya. "Wah, ada KDI 4 Paling Yahud," celetuk presiden. Ternyata tak cuma presiden dan pelajar saja yang membaca koran. Pasukan pengaman presiden (Paspampres) pun, juga ikut membaca koran. "Pak tentara juga suka baca koran ya," celetuk seorang pelajar. Ya, gerakan gemar membaca koran yang dicanangkan Presiden SBY mungkin terlihat dan terdengar usang. Namun, jika budaya gemar membaca tak dimulai sejak dini, maka bukan tak mungkin bila anak-anak bangsa akan menjadi bodoh. "Jika ingin maju, harus gemar membaca," wejang Presiden SBY. Ia menambahkan, sebaiknya membaca bacaan yang baik dan bermutu, termasuk koran. "Seluruh pemimpin-pemimpin besar, sejak kecil selalu gemar membaca," tuturnya. Ketua Persatuan wartawan indonesia (PWI) Jateng, Sasongko Tedjo mengatakan, Gerakan Membaca Koran Massal bertujuan untuk mengingatkan siswa agar gemar membaca koran. Karena saat ini kecenderungan suka membaca pada anak-anak, sangat kurang. "Kebiasaan ini perlu ditanamkan dalam pendidikan sejak SD, SMP dan SMA," katanya. Memang, kita mendapatkan informasi dari membaca. Tapi sayang, hingga saat ini budaya membaca belum menjadi budaya masyarakat.(Fani Ayudea, Dicky Priyanto, Budi Winarto-59) |