logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 10 Februari 2008 NASIONAL
Line

Kerusuhan Sepakbola

Keamanan, Ulah Suporter, dan Puncak Ketidaktegasan PSSI

Kerusuhan seperti tidak bisa lepas dari sepakbola Indonesia. Belum lepas dari ingatan insiden pemukulan dan pembakaran di Kediri pada babak 8 besar Ligina, Rabu (6/2) insan sepakbola nasional kembali dikejutkan dengan kerusuhan yang menyebabkan seorang pendukung Persija Jakarta meninggal usai babak semifinal Liga Djarum Indonesia) di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Benarkah sepakbola Indonesia rentan kerusuhan dan suporter klub menjadi biang kerusuhan?

STADION Brawijaya Kediri pada 16 Januari menjadi saksi bisu kebrutalan Aremania. Kelompok suporter yang dikenal santun dan pernah menjadi suporter terbaik itu tiba-tiba menjadi beringas. Asisten wasit Sumarman menjadi korban pemukulan suporter Arema yang merasa tidak puas dengan kepemimpinan wasit.

Belum puas, Aremania melanjutkan aksinya dengan membakar gawang dan fasilitas lain di stadion home base Persik Kediri ini. Bahkan, amukan ini juga menjalar hingga keluar stadion. Inilah awan kelabu pertama pada 2008 yang menimpa sepakbola nasional.

Hal itu seolah mengulang kejadian ketika kelompok suporter Persebaya Surabaya, Bonekmania, mengamuk usai pertandingan babak 8 besar Copa Indonesia 2006. Tidak puas dengan hasil pertandingan, mereka merusak stadion dan membakar beberapa mobil di luar stadion.

Sebelumnya, pada medio Maret 2007 kerusuhan juga mewarnai Liga Indonesia ketika Persija Jakarta bertandang ke Persikota Tangerang. Meski tidak ada korban jiwa, sejumlah suporter mengalami luka-luka dan tiga kendaraan Pemkot Tangerang hancur.

Rentetan demi rentetan kerusuhan yang menghiasi lembaran pelaksanaan Liga Indonesia seakan-akan menguatkan stigma bahwa sepakbola nasional rentan kerusuhan.

Namun pandangan ini ditampik berbagai pihak, terutama Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) dan Badan Liga Indonesia (BLI) sebagai otoritas tertinggi sepakbola nasional dan penyelenggara liga Indonesia.

Ketua BLI Joko Driyono menyatakan, kerusuhan yang terjadi dalam suatu pertandingan sepakbola tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab BLI. Menurutnya, tanggung jawab BLI hanya untuk menyelenggarakan liga, sedangkan pertandingan sendiri menjadi tanggung jawab panitia pelaksana setempat.

''Saat pertandingan berlangsung, semuanya sudah menjadi tanggung jawab dari panitia pelaksana yang berkoordinasi dengan petugas keamanan. Perangkat pertandingan seperti wasit dan hakim garis juga tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Harusnya baik pemain, klub, dan suporter dapat menghormati keputusan yang dibuat oleh wasit dan hakim garis,'' kilahnya.

Tidak Tegas

Menegpora Adhyaksa Dault tidak mau menyalahkan salah satu pihak, karena dalam pandangannya, baik PSSI dan BLI sebagai penyelenggara, serta suporter merupakan pihak yang bersalah.

''Ini puncak dari ketidaktegasan PSSI. Dari dulu muncul kerusuhan suporter tapi hukuman yang dijatuhkan tidak tegas dan terkesan plin plan. Manajemen suporter juga tidak becus dalam mendidik anggotanya. Seharusnya mereka mendidik anggotanya agar lebih dewasa dan siap untuk menerima apapun hasil pertandingan tim kesayangannya,'' ujarnya.

Kapolda Metro Jaya Adang Firman sendiri mengatakan, aparat keamanan merasa kesulitan menghadapi suporter karena prosedur yang berbeda antara pihak panpel dan keamanan sendiri.

''Contoh paling mudah ketika kita melarang adanya penjual minuman botol, ternyata di dalam sudah banyak orang yang berjualan. Ini memudahkan suporter melakukan aksi saling lempar. Akhirnya, keamanan yang dijadikan kambing hitam,'' paparnya.

Psikolog sosial Universitas Indonesia Hamdi Muluk menyatakan, suporter yang berduyun-duyun ke stadion lebih banyak datang dari kalangan menengah ke bawah. Mereka datang ke stadion untuk menyaksikan sepakbola yang sudah dianggap sebagai hiburan rakyat.

''Ketika ternyata pertandingan tidak sesuai dengan yang mereka harapkan, biasanya menimbulkan gesekan yang menyebabkan terjadinya kerusuhan. Karena itu, lebih baik bila pihak otoritas penyelenggara dan klub itu sendiri memperbaiki sistem yang ada sehingga pertandingan sepakbola Indonesia benar-benar menjadi hiburan yang menarik bagi masyarakat,'' tuturnya.

Kelompok Suporter pun menolak jika dikatakan sebagai biang dari kerusuhan yang kerap terjadi. Solihin Tarigan, suporter PSMS Medan yang tergabung dalam Kampak FC menyebut bahwa ketidaksiapan pihak panitia pelaksana dan keamanan merupakan faktor dominan yang menyebabkan kerusuhan yang sering terjadi.

Pendapat yang sama dilontarkan Ketua The Jakmania Danang Ismartani. Menurutnya, setiap kegiatan yang melibatkan massa dalam jumlah besar pasti rentan dengan kerusuhan. ''Di sinilah tugas panitia pelaksana dan petugas keamanan untuk menciptakan pola pengamanan yang bisa mencakup semua aspek,''ujarnya.

Salah seorang Aremania, Zaldy Roesandiar mengatakan bahwa penyebab tindak anarkis yang dilakukan Aremania adalah ketidakbecusan wasit dan hakim garis dalam memimpin pertandingan.

''Wasit dan hakim garislah yang membuat Aremania seperti itu (membuat kerusuhan-red). Jadi, kalau PSSI dan BLI bijaksana, mereka tidak serta merta menyalahkan suporter sebagai biang kerusuhan. Mereka juga harus introspeksi, apakah perangkat pertandingan yang mereka tunjuk sudah bertugas dengan baik atau tidak,'' katanya.

Terlepas dari berbagai alasan yang dikemukakan semua pihak, sepakbola Indonesia tampaknya akan semakin terpuruk bila semua insan sepakbola nasional tidak melakukan introspeksi bersama. Bukankah lebih baik semuanya duduk dalam satu meja dan membicarakan masa depan sepakbola nasional agar mampu menjadi industri yang menghibur masyarakat Indonesia yang sedang dihimpit berbagai kesulitan dan kesusahan.(Wagiman Sidharta, Wisnu Wijanarko-59)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA