| Minggu, 10 Februari 2008 | BINCANG BINCANG |
GAYENG SEMARANGMosaik budaya
KULANUWUN. Pada akhir Januari 2008 saya bersama Dimas Kukrit Surya Wicaksana diundang Paguyuban Bokor Kencana untuk berbincang-bincang perkara batik. Barang tentu kami berdua tampil berpakaian batik untuk menyesuaikan diri dengan suasana "Pasar Tiban Batik Indonesia 2008". Dimas Kukrit pakai baju batik lengan pendek, karena dia masih muda. Harganya pasti mahal karena dia Ketua HIPMI Jateng, Ketua IMA, dan ketua bermacam-macam organisasi. Saya memilih baju batik lengan panjang, karena kedinginan dan sudah manula. Jenis batiknya sederhana dan murah karena status saya sudah jadi preman (free man) dan yatim piatu. Dalam acara talk show yang berlangsung meriah itu, dipamerkan juga aneka ragam batik dengan gaya, ragam, bentuk, aliran yang berbeda-beda. Ada motif Solo yang bersandar kuat pada pakem dan gaya Pekalongan serta Banyumas yang terkadang berani sekali lepas dari pakem. Ada ragam Kebumen yang memadukan pakem dengan nirpakem. Atau ragam Yogya yang beranjak menganut aliran kontemporer. Sungguh merupakan karya-karya seni budaya yang amat indah. Kan tidak ada batik tulis yang sama, karena dilukis dengan canting secara individual. Jadi batik merupakan wujud nyata dari falsafah Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda-beda tapi tetap satu juga. Motif, gaya, ragam, style, warna memang berbeda-beda, tapi namanya tetap saja satu, yaitu batik. Sayang, konon karena batik sudah dipatenkan oleh negara jiran kita Malaysia, karya asli Indonesia itu kalau mau dipasarkan ke mancanegara tak boleh pakai label batik melainkan painted cloth alias kain yang dilukis. Negara serumpun kita itu memang lama-lama tampak kian serakah, kemaki, arogan, takabur ya? Dulu kita punya lagu "Terang Bulan" dicaplok, dijadikan lagu kebangsaan Melaysia. Pulau Sipadan dan Ligitan milik Indonesia sudah diserobot jadi objek wisata andalan Malaysia. Tenaga Kerja Indonesia yang dulu memeras keringat membangun Genting Highland, Twin-Tower, apartemen dan hotel di Malaysia, sesudah semuanya terbangun lantas dikejar-kejar polisi. Dianggap pendatang haram, dan diusir ke kampung halaman. Lagu "Rasa Sayang-Sayange" dicaplok untuk promosi pariwisata mereka. Reyog Ponorogo juga nyaris diklaim sebagai warisan budaya Malaysia. Kita sendiri juga yang salah, karena kurang menghargai kekayaan pusaka budaya di segenap pelosok Tanah Air yang merupakan mosaik teramat indah. Jadi malah dimanfaatkan bangsa lain. *** TATKALA memeringati Hari Raya Imlek Gong Xi Fat Chai pada awal Februari, Dimas Harjanto Halim dengan pasukannya dari Komunitas Pecinan Semarang untuk Wisata (Kopi Semawis) mengundang saya, Romo Setyadji Pantjawidjaja dan pengusaha beken Irwan Hidayat, tokoh yang mempromosikan Mbah Maridjan, petinju Chris Jhon, dan atis Oneng Dyah Pitaloka, untuk Unjuk Wicara (talk show) tentang "Tepa Slira dalam Kehidupan Multikultur". Saya bicara dengan baca puisi. Romo Setyadji bicara dengan nembang. Pak Irwan bicara dengan memberi bonus pada atlet Jateng yang berprestasi di SEA GAMES dan bagi-bagi hadiah buat para pengunjung. Penontonnya membeludak, berjubel memadati kompleks Pecinan. Kata Mas Adi Ekopriyono selaku pemandu acara, bukan karena nama besar para pembicara talk show, tetapi karena penonton rindu pada penampilan duet Maia-May Chan. Sebelumnya dimeriahkan dengan pertunjukkan barongsai. Sungguh gayeng dan dahsyat. Pinter-pinternya Dimas Harjanto dan Pak Irwan meramu acara formal dengan informal, diskusi campur seni, serius digabung dengan duarius, mengundang pembicara, penyanyi dan penonton yang beragam, plural, multikultur, sastra-budaya. Tatkala saya ditanya oleh Mas adi tentang arti tepa slira, ya saya jawab sesuai pemahaman saya, yaitu serupa dengan mawas diri. Maksud saya kalau kita tidak ingin disakiti orang lain, ya jangan menyakiti. Kalau hati kita kepingin disenangkan oleh orang lain ya harus mulai dengan menyenangkan hati orang lain. Bila kita tidak suka dihujat, dicemooh, dilecehkan, ya jangan menghujat, mencemooh, melecehkan orang lain. Pesan arifnya adalah: "Lakukan pada orang lain, apa yang Anda ingin orang lakukan pada diri Anda". Coba saja bila kita menebar senyum, kata-kata yang enak didengar, penuh canda dan tawa. Pasti kita akan menerima juga balasan senyum, kalimat yang santun, dan tanggapan ketawa yang menggelegar. Mana ada senyuman dibalas dengan prengutan, atau prengutan dibalas dengan tawa, kecuali kita menghadapi orang gila. Saya sempat baca puisi untuk ilustrasi perbedaan yang damai: Musa menyuarakan Taurat/ Daud menyuarakan Zabur/ Sidharta Gautama menyuarakan Tripitaka/ Yesus menyuarakan Injil/ Nabi Muhammad menyuarakan Alquran/ Kenapa kita anak bangsa ini menyuarakan perpecahan, kekerasan, kebencian, peperangan, bom? **** KEMUDIAN beberapa hari yang lalu saya dan Dik Stevanus Sukirno dapat kehormatan diundang Mas Win dan kawan-kawan dari LSM Kelompok Pelayanan Sosial untuk Dialog Budaya di Ambarawa. Bu Ambar Fathonah selaku Plt Bupati membuka acara dengan pesan agar LSM ikut membantu pemikiran alternatif pemecahan masalah bangsa. Jangan sekadar mengkritik, mengecam, dan menghujat. Saya jadi ingat kembali seseorang yang bilang bahwa LSM itu artinya Lembaga Sok Maido. Tema yang diangkat dalam Dialog Budaya tersebut adalah "Keragaman Budaya sebagai Jatidiri Bangsa". Dik Kirno bicara berapi-api dengan berdiri mirip gaya Bung Karno, karena dia memang mantan rektor, pemain teater, dan masih muda. Saya bicara pelan-pelan sambil duduk, karena bukan aktor dan sudah punya KTP seumur hidup. Saya bilang, sesuai petuah agama, perbedaan adalah rahmat. Puisinya: Ayam jago di Betawi berkokok/ ayam jago di Magelang kluruk/ ayam jago di Amurang bakuku/ Sama-sama ayam jago, suaranya ditangkap berbeda-beda/ Alangkah indahnya perbedaan itu. Bayangkan, Tuhan pun menciptakan manusia dengan warna kulit, rambut, bahasa, agama, budaya, bahkan sidik jari dan kornea mata yang berbeda-beda. Kadang-kadang kita lupa mensyukuri perbedaan itu. Terkisah seorang pemilik burung beo mengeluh pada temannya: "Sialan betul burung beoku itu hanya bisa bilang: 'Terima kasih', 'Maaf', 'Sayangku". Temannya berkomentar, "Lo, Anda mesti bersyukur, banyak orang yang sama sekali tidak pernah bisa atau mau mengucapkan tiga kalimat itu". Liding dongeng, mari kita syukuri mosaik budaya yang bersumber pada perbedaan suku, ras, agama, sebagai kekuatan dan jatidiri bangsa, bukannya sebagai sumber perpecahan dan persengketaan. Samanten rumiyin atur kula, kepareng, nuwun. (35) |