| Sabtu, 09 Februari 2008 | WACANA |
Surat PembacaHati-hati Periksa GigiSetiap kali saya akan memeriksakan kesehatan gigi baik di puskesmas, rumah sakit, maupun di tempat praktik dokter gigi swasta, saya merasa selalu dihantui perasaan ketakutan. Bukan karena membayangkan sakitnya gigi yang dibor atau dicabut, tetapi ketakutan terhadap risiko tertularnya berbagai macam penyakit berbahaya, lewat peralatan medis yang digunakan oleh para dokter gigi dan perawat kesehatan. Di antanya cermin gigi, pinset cepit/pengait, gelas kumur, tang, pengungkit, pisau bedah gusi, jarum suntik, mata bor dan lainnya. Perasaan tersebut saya rasa beralasan mengingat semua peralatan medis tersebut penggunaannya dimasukkan ke dalam mulut. Dari mulut satu orang pasien bergantian ke mulut pasien lain yang jika tidak selalu dicuci atau disterilkan akan berpotensi menularkan penyakit seperti hepatitis, tuberculosis (TBC), HIV-AIDS (via jarum suntik) dan penyakit berbahaya lainnya. Saya yakin semua peralatan medis tersebut pada saat awal buka praktik/layanan, pasti sudah dicuci dalam kondisi bersih dan steril. Namun terkadang saya melihat, setelah peralatan selesai dipakai untuk memeriksa , tidak langsung dicuci tetapi digunakan lagi untuk memeriksa pasien berikutnya. Jijik melihatnya, tetapi mau membatalkan periksa gigi sudah terlanjur antre. Mau menegur dokter/perawatnya takut tersinggung atau marah. Kalau didiamkan bisa berisiko tinggi hingga semua jadi serba salah yang pada akhirnya hanya bisa pasrah. Hal ini biasa atau bisa saja terjadi di puskesmas, rumah sakit negeri/swasta dan klinik tempat praktik dokter gigi swasta di mana saja. Di sisi lain dokter gigi dan para perawat terkadang kurang menyadari kalau kinerjanya diperhatikan oleh para langganannya. Seperti saat memeriksa atau mengoperasi pasien tanpa memakai sarung tangan, tidak mengenakan masker, meletakkan semua peralatan di atas meja begitu saja tanpa dialasi kotak steril, air kumur tidak diberi obat antiseptic. Bahkan yang parah dan membahayakan pasien adalah penggunaan mata bor dan satu jarum suntik digunakan berkali-kali untuk beberapa pasien. Dalam hal ini pasien berada dalam posisi yang kurang menguntungkan dan tidak berdaya, mengingat tidak semuanya memiliki keberanian untuk mengingatkan atau menegur dokter dan perawatnya. Tulisan ini tidak bermaksud mendiskreditkan profesi dokter gigi dan perawat beserta institusi kesehatan, tetapi demi kebaikan bersama. Juga untuk mendapatkan perhatian semua pihak khususnya bagi para dokter dan perawat serta institusi kesehatan seperti puskesmas dan rumah sakit pada umumnya. Jangan sampai sakit gigi sembuh tapi mendapatkan bonus tertular penyakit. Siapa yang bertanggung jawab?. Indriyanto SSos. JI Pemuda 17, Kendal Terima Kasih Honda Semarang Center Saya konsumen Honda Jazz mengucapkan terima kasih atas pelayanan Honda Semarang Center Jl Gajahmada 142 A Semarang. Pada 12 Januari 2008 dalam perjalanan dari Jogja ke Semarang, ban mobil mendadak kempes di daerah Magelang hingga harus mengganti. Tapi ada yang aneh, stir terasa berat dan lampu EPS pada indicator menyala terus. Dua hari berikutnya saya ke Semarang Center untuk service rutin 40.000 km sekalian perbaikan power steering. Hasilnya service rutin selesai tapi sayang power steering belum bisa dikerjakan berhubung biayanya cukup besar (sekitar Rp 7 jutaan) sehingga saya mencoba ke bengkel kecil, siapa tahu dapat diperbaiki dengan biaya murah. Hasilnya bengkel kecil pun kesulitan memperbaiki karena sistem power steeringnya tidak memakai oil melainkan elektronik. Dengan susah payah saya mencari buku garansi dan perawatan mobil yang tercecer entah di mana. Buku tersebut sebagai persyaratan untuk mengklaim kerusakan EPS. Setelah seminggu buku ketemu dan saya segera membawa mobil ke Semarang Center guna perbaikan power steering. Hasilnya saat ini mobil kembali sehat seperti semula dan saya tidak dikenakan biaya sepeser pun dalam penggantian 1 (satu) unit power steering. Padahal power steering telah diutak-atik oleh bengkel kecil, namun pihak Honda Semarang Center tetap melayani dengan tanggung jawab. Saya imbau kepada konsumen mobil Honda agar betul-betul menjaga jangan sampai buku garansi dan perawatan hilang atau tercecer. Agustinus Botha MMar Jl Sri Rejeki Tmr Raya 38-39, Semarang *** Dewi Persik Marah Dewi Persik seharusnya bangga dengan keberhasilannya menjadi "daya tarik", bukan sebaliknya malah marah kepada orang yang tertarik dan kemudian menyentuh bagian tubuhnya. Bukankah dengan penampilan dan bahasa tubuh yang sering diperlihatkan di muka umum merupakan daya tarik yang bisa membuat gemas semua orang?. Namun demikian kenapa dia marah saat ada seseorang yang tidak tahan ingin menyentuh, segera dia sambut dengan tinju ke wajah orang tersebut dengan alasan demi harga diri. Benarkah?. Seorang wanita dilarang berhias untuk orang lain selain suaminya, demikian bunyi sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud dan An-Nsa-i. Dijelaskan pula, jika seorang wanita berhias dengan maksud untuk orang selain suaminya, maka Allah akan membakarnya dengan api neraka karena termasuk dalam tabarruj yaitu berhias dengan memperlihatkan kecantikan, menampakkan keindahan tubuh dan kecantikan wajah. Wanita muslim tidak diperbolehkan membuka aurat, itulah hikmah yang terkandung dalam perintah agama Islam. Allah memerintahkan kepada wanita untuk memanjangkan jilbabnya ke seluruh tubuh agar tidak "diganggu" sebagaimana disebutkan dalam Alquran Surat Al-Ahzab ayat 59. Akibat ada karena sebab, agama memerintahkan dengan santun kepada wanita untuk menahan pandangannya, memelihara kemaluannya, melarang menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak. Juga menutupkan kain kerudungnya dan melarang menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami, ayah, ayah suami, putra, saudara perempuan dan anak-anak yang belum mengerti aurat wanita untuk perbuatan yang disebabkan oleh akibat kostum kita. Semoga peristiwa yang dialami Dewi Persik menjadi pembelajaran bagi semua. Hj Diana Hidayati Spi Kradenan Baru 27 Bendan, Semarang *** Gramedia Keberatan Memberi Kompensasi Setelah keluhan saya mengenai hilangnya MP5 di Gramedia Java Supermall yang dimuat di Surat Pembaca 16 Januari 2008, pihak Gramedia merespon cukup baik. Hari itu juga saya dihubungi dan diminta datang untuk klarifikasi. Selang dua hari kemudian saya bertemu dengan pihak Gramedia. Sayangnya dalam pembicaraan mengalami kebuntuan, meski mereka meminta maaf dan berjanji akan meningkatkan keamanan. Namun mereka tetap berkeberatan mengganti (kecuali ada bukti) MP5 saya yang hilang. Pihak Gramedia hanya sanggup memberi bingkisan plus tanggapan ke Surat Pembaca bahwa kasusnya diselesaikan secara kekeluargaan. Menurut mereka, hilangnya Mp5 yang sebagian besar berisi data penting itu dipertanyakan kebenarannya. Padahal saya tidak mengada-ada dan memang meski tidak punya cukup bukti namun kenyataannya barang benar-benar hilang. Lagi pula bagaimana bisa meminta bukti kalau pihak Gramedia sendiri setengah hati menjaga barang milik konsumen. Apa susahnya memasang kamera CCTV di tempat penitipan barang. Saya yakin kalau sejak awal serius, peristiwa tersebut tidak akan terjadi. Saya hanya ingin Mp5 kembali atau paling tidak ada kompensasi karena selaku pengelola memang seharusnya bertangggung jawab. Saya tidak butuh basa-basi permintaan maaf atau bingkisan. Maaf kalau hanya sebatas itu kemampuannya menyelesaikan kasus ini, saya berkesimpulan toko tersebut tak lebih hanya toko buku biasa. Sekali lagi terima kasih Gramedia telah menyadarkan saya arti "keamanan". Rilian Afta Marsti (085640448482) Gentan Lor RT 1/RW 3 Boja, Kendal *** Kompensasi Elpiji Pemerintah tidak menyubsidi minyak tanah lagi hingga penggunaan dialihkan ke elpiji dengan memberi bantuan kompor gas kepada masyarakat. Pemberiannya bahkan sampai ke desa-desa. Namun kondisi ini nampaknya dimanfaatkan oleh kalangan tertentu misal yang terjadi di Desa Doplang Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang. Justru para perangkat desa menggunakan kesempatan tersebut saat warganya menerima kompor gas. Rakyat bisa mengambil dengan syarat per KK mengganti administrasi sebesar Rp 5.000. Angka nominal tersebut secara pribadi memang kecil, tetapi di Doplang mempunyai 7 RW dari 41 RT. Bila rata-rata satu RT ada 25 KK, maka berapa jumlah yang diterima perangkat desa. Dalam rapat musyawarah rencana pembangunan 2009 di balai desa, salah seorangt anggota BPD (Badan Perwakilan Desa) menanyakan masalah biaya administrasi tersebut. Tetapi kepala desa (Bapak Supriyanto). mengingatkan masyarakat agar merelakan uang tersebut atau menghargai kinerja para perangkat desanya dalam membagi kompor gas. Padahal saat ini warga kesulitan biaya hidup sehari-hari karena mayoritas sebagai petani. Seharusnya tidak ada pengganti biaya administrasi bahkan harus gratis. Saya imbau kepada semua pihak sebelum mengambil langkah, perlu menyosialisasikan dulu agar tidak menimbulkan pertanyaan warga. Nur Nawawi (081325861171) Jurangsari RT 5/RW 1 Doplang, Bawen *** Bisnis Kepala Dinas Membaca tulisan Sdr Joko Wiyono beberapa waktu lalu mengenai bisnis begu yang dilakukan oleh oknum kepala Dinas Pengairan Pemkab Kendal hingga menguntungan diri pribadi dan ironisnya begu milik Pemkab malah mangkrak tak terpakai, sungguh memilukan hati. Bisnis memang sah namun bila dilakukan dengan memanfaatkan jabatan, maka perlu dipertanyakan apakah hal itu KKN atau tidak. Sebab pada hakikatnya memperkaya diri dengan fasilitas jabatan yang dipunyai tentu bukan hal yang pantas diteladani. Bisnis dan proyek di Kendal memang disorot masyarakat sebagai hal yang kental dengan pemanfaatan jabatan. Tengok berita, para centeng/pengawal pribadi seorang pejabat yang mangkal di rumah dinas tertentu,sering meminta proyek ke berbagai instansi/dinas. Ada juga berita tentang seorang oknum kepala dinas yang "pasang badan" demi melanggengkan jabatannya dalam kasus penjualan bangunan kuno kantor Kawedanan Boja yang pelakunya orang terdekat penguasa Kendal. Juga ramainya isu proyek KKN pembongkaran kantor Kecamatan Sukorejo menambah semarak berita tentang bisnis para pejabat di daerah ini. Jika di tingkat nasional, militer mulai mengurangi intensitas bisnisnya maka hal itu tak berlaku di kalangan pejabat birokrasi Kendal. Untuk itu bisa kiranya jika para pejabat mau menghentikan bisnis KKN yang sedang disorot masyarakat itu. Marjuni Kuripan RT 1/RW 7, Purwodadi *** Untuk Pak Harto Sepuluh tahun yang lalu pada saat kaum reformis memaksa Pak Harto lengser keprabon, rakyat berharap kondisi negara akan jauh lebih baik. Rakyat tidak tahu, fundanmental ekonomi negara ternyata sangat rapuh. Juga kaum reformis menilai Pak Harto memerintah secara otoriter, negara dikendalikan seolah-olah demokratis, KKN merajalela, pers dibungkam sehingga. tidak ada kebebasan berbicara. Padahal resesi saat itu tidak hanya terjadi di negara kita saja tapi mengglobal semua negara. Tapi saat Bapak memerintah, semua kebutuhan pokok terpenuhi dan mudah didapat, kondisi negara aman. Jumlah penduduk terkendali karena ada program KB dan pernah mendapatkan penghargaan FAO karena swa-sembada pangan. Harga beras sangat murah, kebutuhan rakyat benar-benar terpenuhi. Negara kita juga disegani karena angkatan bersenjatanya sangat kuat. Kini sepuluh tahun setelah Bapak lengser, kondisi negara tidak bertambah baik, malah sebaliknya. Harga kebutuhan pokok jauh lebih mahal dan sulit didapat, itu pun semua tergantung pada impor. Beli minyak tanah harus antre, harga BBM mahal, berita setiap hari hanya demo dan demo, hampir semua pilkada berselisih. Biaya Pemilu 2009 sebesar Rp 49 triliun atau setara dengan 2 kali APBN zaman Bapak memerintah. Juga tidak terbayangkan bahwa harga BBM kini empat kali lipat, harga beras enam kali lipat, harga semen sebelas kali, pupuk enam kali dan itu pun susah didapat. Negara kita disepelekan dan dilecehkan oleh negara tetangga karena mereka tahu angkatan bersenjata kita lemah. Budaya kita banyak dirampas oleh negara tetangga, yang pada zaman Bapak tidak mungkin terjadi. Setelah sepuluh tahun reformasi kita masih berkutat dengan cara dan lupa tujuan. Zaman Bapak memerintah, arah negara tahunan diatur dalam GBHN. Lima tahunan diatur dengan Repelita, jangka panjang diatur dalam Rencana Pembangunan 25 tahun. Istilah ''tinggal landas'' yang Bapak canangkan merupakan visi untuk mewujudkan rakyat yang adil, makmur dan sejahtera. Kini semua itu tidak ada lagi. Yang ada hanya siklus 2,5 tahunan yaitu 2,5 tahun pertama diisi oleh konsolidasi dan reshuffle kabinet dan 2,5 tahun kedua adalah persiapan dalam rangka pemilu berikutrya. Rakyat butuh kebebasan berserikat, kebebasan berpendapat dan kebebasan yang lain, tetapi rakyat lebih butuh beras murah, BBM murah, kedelai murah dan semua kebutuhan terpenuhi dengan sebagai ciri negara yang makmur. Selarnat jalan Pak Harto, saya selalu mengenang jasamu. Dicky Tutuko A Plamongan Indah Blok D1/11, Demak *** Soal SPBU Ngaliyan Menanggapi komplain Bapak AB Kusumo soal uang kembalian di SPBU Ngaliyan Semarang yang dimuat di Surat Pembaca 17 Januari 2008, kami telah bertemu dengan beliau pada tanggal 20 Januari 2008 untuk menjelaskan permasalahan berikut penyelesaiannya. Kami atas nama SPBU 44.501.13 Ngaliyan mengucapkan terima kasih atas masukannya sehingga dapat lebih meningkatkan pelayanan baik ke konsumen. M Sunarto SPBU 44 501 13 Ngaliyan, Semarang *** Perampok Berdasi Mungkin anak, pelajar dan masyarakat awam berpendapat bahwa perampok mesti berbaju hitam, doreng garis-garis, bersenjatakan parang/clurit dengan wajah ditutup kain hitam. Itu ada benarnya, tapi mereka lupa bahwa kini perampok sudah ganti wajah, penampilan dan lebih gaya. Perampok masa kini, berdasi dan berjas lengkap dengan wajah berseri serta tidak lagi ditutupi kain hitam, bahkan ada yang ber "uniform". Mereka tidak lagi merampok di tempat gelap dan sepi tapi di siang hari bolong, di jalan. Korbannya para pengendara, juga di jembatan timbang dengan korban para sopir. Bahkan ada yang lebih berani lagi, mereka menjabat sebagai gubernur, bupati dan wali kota serta menteri dan lainnya. Mereka semua perampok intelek koruptor yang aksinya bernama korupsi. Perampok masa kini di samping penampilannya wah, rumahnya juga mewah dengan parfum dari Prancis yang baunya wangi sekali. Punya herder dan pengacara bahkan aksi korupsinya berjamaah. Kadang tidak kencan tapi sepertinya serempak rame-rame berkorupsiria. Bahkan banyak pejabat negara yang nakal nyambi jadi perampok uang negara. Hasil rampokannya bermiliar atau bertriliun rupiah. Kalau ada yang dihukum tapi lebih banyak yang lolos. Biasanya yang kena hukuman adalah mereka yang bodoh dan pelit membagi rezeki haram tersebut. Sedang yang lolos, mereka pandai membagi rezeki kepada banyak pihak, pengacara, pandai negosiasi dengan oknum dan sanggup mengisi kas partai. Yang perlu diingat oleh para perampok bergengsi, masih banyak rakyat miskin yang makan nasi aking sekali sehari. Tidak bergizi dan tidak mampu makan dua atau tiga kali. Cuma sekali sehari. Agar diingat, siapa pun yang ikut makan uang haram itu, jelas-jelas masuk Neraka Jahanam, entah anak istrinya, entah tetangganya yang kecipratan uang haram tersebut akan masuk neraka. H Erlangga Chandra (EI). Bantulan RT 1/RW 1 Banyodono, Boyolali. |