| Rabu, 06 Februari 2008 | WACANA |
Surat PembacaProyek di AjibarangNKRI benar-benar dalam Siaga 1 karena kondisinya sudah stadium 4. Ya, korupsi tak ada habisnya. buat dibahas namun itulah realitanya, dari lapisan bawah sampai tingkat atas semua terlibat dan menggurita. Hal itu pula yang terjadi di Kecamatan Ajibarang Banyumas. Ada salah satu SD Negeri yang dapat bantuan rehab gedung; BOS ; beasiswa. Tetapi kok tega-teganya pengelola berlaku curang, otoriter serta kurang transparan dalam menangani dana tersebut. Padahal maksud bantuan tersebut untuk meningkatkan kualitas, belajar mengajar berjalan baik sehingga tercipta anak-anak bangsa yang mumpuni. Beasiswa bagi anak kurang mampu disunat dengan dalih administrasi serta menjadi kesepakatan antar-kasek. Hal ini sungguh aneh, kesepakatan kok berbuat jahat. Lantas dana BOS pergi entah ke mana sebab asupan gizi gurunya juga ala kadarnya yakni ketela goreng + tahu isi. Sungguh mengenaskan. Bagaimana bisa mengajar dengan baik kalau makannya seperti itu. Dana rehab senilai ratusan juta rupiah diduga juga ikut diselewengkan, gedung yang harusnya berbahan kayu jati disulap jadi kayu meranti. Jangan heran kalau kualitas bangunan tidak memenuhi standar. Akibatnya dana rehab jadi ngepres karena oknum kasek bingung cari laba buat memberi amplop pimpinan lebih atas di dinas yang bersangkutan. Habis kalau tak begitu tentu akan dipersulit. Maklum kaseknya baru, jadi mau tak mau harus mengikuti arus permainan. Benar-benar mengerikan. Anak didik serta bawahan dijadikan obyek eksploitasi demi menghalalkan cara kotor. Mengherankan, kok ada oknum yang berbuat seperti itu. Sekolah bukan lahan bisnis namun untuk mencetak generasi penerus yang bersih. Mohon instansi terkait, Diknas Kecamatan Ajibarang/Diknas Banyumas segera melakukan investigasi serta tindakan tegas terhadap bawahan (nakal) yang terkontaminasi mentalnya. Agus Setyanto SH (085357054781) Jl Zebra Tengah II/3, Semarang Dari SPBU Weleri Menanggapi keluhan Bapak Parsaoran Gultom yang dimuat di Surat Pembaca 1 Februari 2008 tentang pelayanan yang kurang berkenan di hati, kami sebelumnya minta maaf karena pada waktu itu di SPBU Weleri masih dalam perbaikan/renovasi sehingga mengganggu pelayanan konsumen. Kami berusaha meningkatkan pelayanan sebaik mungkin sampai memenuhi standar Pertamina. Atas kritik dan saran Bapak kami ucapkan terima kasih. Supriyanto (Pengawas) Gg Buntu Laras Rt 3/RW 6, Weleri *** Tahun Baru Imlek Pergantian Tahun Baru Imlek dari sio Babi Tanah ke Sio Tikus Api akan terjadi pada hari Kamis 7 Februari 2008. Pada hari tersebut kedudukan Shi Shen (Dewa Kebahagiaan) berada di arah selatan sedang Dewa Penolong (Gwei Shen) berada di arah barat laut. Bagi yang akan bersembayang dapat menggunakan 3 batang hio swa/dupa ke arah selatan dan barat laut pada malam Sin Cia pukul 23.00 s.d 00.50. Pada hari Sin Cia bila akan keluar rumah, sebaiknya pada pukul 07.00 s.d 10.50 menuju ke arah selatan atau barat laut. Selama tahun Tikus Api yang Ciong umur 7, 16, 25, 34, 43, 52, 67, 76, 85 dan 94 tahun (umur menurut Sio). Mereka itu sebaiknya jangan melihat jenazah masuk peti atau masuk liang kubur agar tidak sial. Dan bagi yang akan membangun rumah atau bong, pilihlah arah yang menghadap ke barat, timur dan selatan. Jangan pilih yang menghadap utara. Sie Joe Song Jl Sudagaran 25 Sukorejo, Kendal *** Sepak Bola Kita Penataan emosi yang tidak terarah dapat menciptakan tindakan brutal. Lihat persepakbolaan di negeri ini, tarung dan tarung terus. Justru penyebabnya pemain impor. Maksud dan tujuan pemain asing adalah menambah kekuatan skuad, menularkan skill kepada pemain Iokal mengingat bayaran mereka miliaran rupiah. Tetapi kenyataan di lapangan membuktikan, banyak pemain impor yang suka memprotes, meledek wasit dan pembantu wasit tanpa malu. Itulah persepakbolaan kita yang sekarang sudah beridentitas profesionalis. Di negara seperti Inggris, Belanda, Prancis, Spanyol, Portugal, Itali, Jerman dan beberapa negara Asia, para pemain juga berasal dari bangsa asing. Tetapi permainan mereka nikmat dipandang mata, skill tinggi dan terarah. Soal dana, tampaknya disediakan oleh swasta semua, terutama para pemiliknya sendiri, seperti klub Chelsea di Inggris adalah pemilik pengusaha Rusia (Abramovic). Sedang di negeri kita, walau klub sudah profesional anggarannya masih didanai anggaran negara (APBN/APBD) mencapai miliaran rupiah. Saya kira ini perlu ada pemikiran yang matang. Bagaimana sepak bola menjadi baik, tetap eksis tapi bisa berdikari tanpa anggaran dari negara. Sebab anggaran bermiliar rupiah itu masih dibutuhkan untuk proyek pengentasan kemiskinan dan pengangguran yang terus menanjak jumlahnya termasuk pendidikan. Pernah saya usul agar emosi pemain tetap tertata, setiap klub perlu memiliki psikolog, di samping pelatih skill dan pelatih fisik. Silakan bagaimana klub tetap bagus dan indah dipandang mata. Moeljono HP Jl Banteng Utara VII/1, Semarang *** Para Pemimpin, Malulah Sudah sangat sering masyarakat memberi masukan kepada para pemimpin/pengelola negara dengan harapan mereka berperilaku baik, tegas bertindak, bijaksana dalam memutuskan sesuatu, jujur dalam bekerja. Juga mengedepankan pengabdian kepada bangsa dan negara menuju kesejahteraan rakyat. Tapi rupanya para penimpin nyaris masa bodoh, terbukti Indonesia runyam di segala bidang mulai hukum, politik, ekonomi, kesehatan, pendidikan, keamanan dan kesejahteraan. Ibarat negara ini sebagai keluarga kecil, maka seharusnya malu kepada tetangga sebab anak istri diberi makan nasi aking serta anak tidak berpendidikan karena mahal. Juga anak terlihat kurus kering karena kesehatan kurang dan gizi buruk. Sementara para bapak (pemimpin) pesta-pora tanpa memikir anak (anak bangsa). Bahkan anak sering dipukul, dihajar karena tidak menurut kemauan pemimpin. Padahal tetangga kita hidup tenteram, penuh gizi, pendidikan dan kesehatan terjamin. Para pemimpinnya menjadi teladan bagi anak-anaknya (rakyatnya). Coba tengok di tingkat ASEAN saja, negeri ini paling kaya sumber daya alamnya tapi juga paling terpuruk karena salah urus. Di era 1998 semua negara ASEAN terkena krisis moneter, tapi dalam satu dua tahun mereka sudah bangkit. Sedang kita sampai kini masih terpuruk malah sibuk rebutan kekuasaan, jabatan, jegal menjegal dan korupsi merajalela. Pemberan-tasnya malah turut pesta-pora dan para pemimpin di semua tingkatan hidup mewah berkelebihan. Wahai para pemimpin bangsa, sadarlah dan malulah dengan negeri tetangga, malulah dengan rakyatmu yang lapar dan sengsara, sementara Anda terlalu kekenyangan. Sekali lagi malulah. H Erlangga Chandra (EI) Bantulan RT 1/RW 1 Banyudono, Boyolali *** Dikejar Bencana Akhir-akhir ini rasanya sulit jika mau lari dari kejaran bencana. Orang lebih mudah menyalahkan orang lain, menyalahkan alam yang dianggap tidak ramah babkan ada yang lebih berani lagi dengan menganggap bahwa Tuhan sedang murka. Mengapa tidak mau berangkat dan bertanya darl diri sendiri, apa salah saya tetapi apa yang sudah dan sedang kita lakukan?. Kita sudah tidak peduli dengan segala kesalahan hingga wajar jika bencana mengejar, Yang tinggal di daerah bawah di kejar banjir, bahkan rob dari laut pun berintimria dengan daratan. Sedang yang tinggal di daerah tinggi/atas diajak berteman karib dengan longsor. Yang baru enak-enak istirahat di bawah pohon disapa ramah oleh tumbangnya pohon. Yang sedang berlayar disalami dengan gelombang ombak yang mencapai 4 meter. Yang naik pesawat disapa santun oleh cuaca buruk. Yang beristirahat di rumah sendiri tertimpa rumahnya yang roboh, runtuh atau terbakar. Yang kepengin lari ke luar negeri, dikejar-kejar interpol (bagi koruptor kelas kakap). Bahkan yang sedang menikmati kekayaan dengan tiduran beralaskan kasur uang pun, hatinya tak pernah tenang karena takut mati (?). Di-mana-mana maut menghantui manusia. Miyono Lemah Mendak RT 1/RW 6 Mijen, Semarang *** Hati-hati dengan XL Saya pemakai XPlor (kartu berlangganan pascabayar XL) merasa kecewa dengan sistemnya. Saya pernah download ring tones sekali pada bulan Desember 2007 tapi tidak bisa masuk file dan setelah itu saya sering mendapatkan SMS dari 94005 atau 94007 yang isinya lelucon. Awalnya saya merasa risi dengan isinya tapi tak tahunya tagihan saya membingungkan. Setiap ada sms dari 94005/04007 saya dikenai Rp 3.000 kadang Rp 2.000 padahal saya tidak pernah kirim SMS ke nomor tersebut. Begitu saya tanyakan ke 817, pihak operator kelihatan lepas tangan, katanya itu langsung dari dada.net sendiri. Sebetulnya kalau jaringan dan sistemnya lebih profesional mungkin bisa diantisipasi sehingga pelanggan tidak dirugikan. Untuk itu hati-hatilah dengan XL yang sistemnya belum profesional. Juga berhati-hatilah dengan layanan download ring tones, karena pelanggan akan terjerat dengan tagihan tersebut. Termasuk jangan sekali-kali pembayaran pascabayar dengan layanan autodebet. Ari Sunarto Jl Beruang Dlm Barat VII/14, Semarang *** Kendala Batas Usia Rutinitas tiap pagi sebelum melakukan kegiatan lain oleh sebagian pencari kerja yang masih punya daya juang adalah dengan memelototi semua koran terutama di halaman lowongan termasuk saya. Ya apa boleh buat, itulah yang sementara bisa saya lakukan. Pemerintah sendiri nampaknya loyo dan tak bisa berbuat maksimal dalam mengatasi pengangguran. Saking hapalnya dengan halaman lowongan dan beberapa ratus kali lamaran yang saya kirim (maaf kalau saya baru pada kisaran 180 lamaran), akhirnya sampailah pada kesimpulan bahwa jangan terlalu berharap pada iklan kalau tak punya koneksi serta duit. Buang-buang duit untuk beli kertas/prangko/fotokopi berkas. Apalagi jika mengirimkan lamaran ke alamat yang tak jelas, misal PO Box. Tunggu saja dan siap-siap kecewa. PO Box menurut saya karena perusahaan tak berani mencantumkan alamat yang jelas berarti sehingga ada indikasi penipuan. Saya aiami sendiri, dalam kurun waktu 9 tahun sampai sekarang belum satu pun yang nyanthol. Banyak tawaran tapi ya ujung-ujungnya minta duit dan tipu-tipu. Bukannya patah arang serta tak mau berjuang lagi namun hal ini disebabkan karena seleksi alam yaitu batas usia. Menyadari hal itu dengan legawa saya kembali ke desa menjadi petani. Karena pencari kerja tiap hari makin bertambah maka sering dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk melakukan penipuan. Hati-hati serta waspada dan jangan mudah percaya. Agus Setyanto SH (085257054781) Jl Zebra Tengah II/3, Semarang *** Longsoran Kali Blorong Meski musim hujan di Kendal tahun ini tidak sampai terjadi bencana banjir, namun dampak meningkatnya intensitas debit air di beberapa sungai menjadi bencana tersendiri bagi masyarakat di sekitar daerah aliran sungai (DAS). Di antaranya sungai Blorong yang melintas di 3 kecamatan yakni Brangsong, Kendal, dan Ngampel. Kekuatan arus sungai yang begitu dahsyat telah memorakporandakan sawah, ladang, kebun bahkan tidak sedikit rumah penduduk yang hancur akibat longsor. Selama 10 tahun terakhir kondisi Sungai Blorong sangat memprihatinkan bahkan menakutkan. Sebagai contoh, rumah saya yang terletak persis di samping jembatan Tosari Sudipayung. Kondisi bangunan yang terbuat dari tembok kini sangat parah. Hampir semuanya retak, rumah jadi miring dan lantai hancur. Jarak garis sungai yang dulu sekitar 15 meter kini tidak lebih 1 meter dengan kedalaman pinggir 3 meter. Apakah Pemkab memberi kompensasi kerugian ini?. Saya yakin masih banyak yang bernasib jauh lebih parah bahkan sampai kehilangan tempat tinggal akibat longsoran sungai Blorong. Atas bencana ini Pemkab Kendal berkesan menutup mata. Bahkan anggota Dewan tidak pernah jajah desa milang kori untuk melihat sejauh mana kondisi dan penderitaan rakyat akibat longsor sungai Blorong. Memang telah ada usaha dan tindakan yang dilakukan Pemkab mengatasi hal ini. Misal normalisasi bagian utara yang notabene nonpemukiman serta pengerukan di titik tertentu yaitu sekitar jembatan. Sementara hancurnya lahan pertanian serta pemukiman mulai jalan raya sampai bendungan Kedung Pengilon kurang menjadi prioritaskan. Namun apa yang selama ini dilaksanakan berkesan tidak serius. Pekerjaan yang semestinya diteruskan ternyata berhenti di tengah jalan. Apa soal dana. Berapa dana yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proyek ini termasuk memberi kompensasi kerugian rakyat. Lalu kalau dibandingkan dengan uang rakyat yang dikorupsi para pejabat, mana yang lebih besar. Untuk anggota Dewan, tulisan ini sebagai refleksi kekecewaan warga atas kinerja pemerintah dalam menangani Sungai Blorong yang masih jauh dari harapan. Haruskah rakyat menunggu sampai hancurnya sawah, ladang, kebun bahkan tempat tinggal?. Mohon ditindaklanjuti. Sobirin Tosari RT 3/RW 1 Brangsong, Kendal *** Hijaulah Bumiku Bencana longsor dan banjir seakan-akan mendera negeri ini tiada henti, banjir, longsor melanda banuak kota di Jawa. Ada apakah gerangan sehingga bumi ini sudah demikian tidak bersahabat dengan kita. Apakah bencana ini akibat dari pembalakan liar oleh para cukong atau bahkan pejabat yang seharusnya melindungi hutan. Atau apakah karena memperlakukan bumi sebagai tempat sampah raksasa sehingga boleh membuang sampah seenak-nya. Mau buang sampah di kali silakan, di jalan boleh saja sebab sudah sedemikian sembarangannya sehingga mau apa pun bisa dilakukan tanpa kendali dan tidak perlu takut sanksi. Lihat gunung dan bukit di sekeliling TVRI di Pucanggading. Yang terlihat hanya bukit tandus yang di musim hujan tidak berfungsi meresap air sehingga menimbulkan banjir. Kalau pun meresap akan menyebabkan longsor Kali Semarang sudah berubah menjadi tempat sampah raksasa hingga airnya hitam pekat penuh kotoran dan sampah plastik. Banjir dan longsor adalah peringatan alam bahwa perilaku harus diubah, harus lebih peduli pada lingkungan sekitar. Sebagai langkah awal perlu dilakukan penghijauan yang melibatkan seluruh warga. Atas dasar itulah, para remaja yang bernaung di bawah Ikatan Remaja Plamongan Indah memprakarsai ''Gerakan Plamongan Indah Menanam'' yang didukung Paguyuban Warga Plamongan Indah dan beberapa sponsor. Penanaman berbagai jenis pohon di Taman Kelapa Sawit dilaksanakan pada 20 Januari 2008 bersama Wali Kota Semarang Bapak Sukawi Sutarip SH SE beserta Muspida. Gerakan ini akan dilanjutkan dengan penataan trotoar, penyeragaman tempat sampah, perbaikan pagar, pembuatan taman rumah, bangun kolam penampung air hujan, lubang resapan air. Lalu pengelolaan sampah rumah tangga yang dipilah berdasarkan jenisnya. Sampah organik dapat dijadikan kompos atau pupuk dan yang non-organik yang dapat diolah kembali menjadi produk tertentu. Itu semua memerlukan dukungan dari semua fihak yang peduli lingkungan. Dicky Tetuko A Plamongan Indah Blok D 1/11, Demak *** Diperbaiki PT Telkom Beberapa waktu lalu telepon di tempat usaha (024) 3514119) saya rusak dan langsung hubungi petugas. yang segera datang untuk memperbaiki. Terima kasih PT Telkom sehingga usaha saya CV Bengawan Solo dapat berjalan kembali. Sebagai ucapan terima kasih saya berusaha memberi imbalan tetapi petugas tersebut menolak. Semoga PT Telkom tetap Commited 2U. Maryuni Jl Ambarawa 12 Semarang |