logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 06 Februari 2008 WACANA
Line

Tat Twam Asi: Refleksi Wafat Pak Harto

  • Oleh Harjanto Halim

PAK Harto wafat dan saya merasa sedih. Sebagai keturunan etnis Tionghoa yang pernah merasakan represi Orde Baru, saya merasa aneh ikut bersedih. Tapi itulah yang saya rasakan, itulah yang membuat saya termangu - mangu menatap iring - iringan peti jenazah Pak Harto memasuki Astana Giribangun.

Pak Harto jelas telah menjadi bagian dari hidup saya, mungkin bagian hidup Anda, dan saya yakin bagian hidup seluruh anak bangsa.

Pak Harto yang mengajarkan saya berdiri tegap dan khimad menatap sang Dwiwarna saat upacara bendera. Pak Harto yang memacu seluruh kelenjar, menyirapkan pembuluh darah mengalir deras saat mendengar Indonesia Raya lirih berkumandang.

Tiga puluh dua tahun me-merintah. Suatu prestasi dalam sejarah kekuasaan tingkat dunia. Mr. Lee dari Singapura, Maha-thir Mohammad dari Malaysia, dan Sultan Bolkiah dari Brunei, semua angkat topi, menjunjung Pak Harto negarawan sejati. Pujian yang tulus dari sesama tokoh bangsa, bukan sekadar eufemisme belasungkawa.

Banyak orang menjadi gamang dihadapkan pada situasi dilematis semacam ini. Ulasan- ulasan yang muncul di media massa ada yang protes, ada yang memuji. Ada yang marah, ada pula yang terharu dan merasa sangat kehilangan. Bahkan ada yang terhanyut bingung ikut sana dan ikut sini, ikut berkabung sekaligus ikut bergabung demo. Luar biasa me-mang.

Karisma Pak Harto bagai halimun senja yang menyelimuti semua orang, tanpa kecuali. Tiga puluh dua tahun bukan waktu yang pendek. Dalam periode yang hampir mencakup satu generasi secara utuh, Pak Harto telah membentuk, mengolah, mengarahkan dan mengindoktrinasi semua lapisan masyarakat, semua suku, semua agama, semua golongan. Se-muanya. Mengkristalkan keindonesiaan.

Pak Harto wafat. Rasanya masih tidak terbayang. Tokoh yang sedemikian tegar di masa Orde Baru akhirnya harus menyerah dipanggil sang Kalhik. Bersimpuh dengan segala kelebihan dan kekurangannya sebagai manusia. Mikul dhuwur mendhem jero. Kiasan ini menjadi lebih bermakna direnungkan saat beliau mangkat .

Coba kita jujur pada diri sendiri. Layakkah? Layakkah kita memperlakukan hina seorang anak manusia yang tengah dihadapkan pada takdir keniscayaan? Mengapa tidak di saat sehat - sehatnya, mengapa tidak di saat bugar bugarnya. Mengapa tidak di saat sadar - sadarnya. Mengapa di saat seseorang tengah tergolek tak berdaya menghadapi sakaratul maut, di saat itulah kita nyaring mencaci.

Kepengecutan

Unjuk gigi menuding segala dosa. Saya merasakan kegerahan yang luar biasa menatap layar kaca yang terbakar emosi manusia - manusia yang pernah teraniaya oleh rezim Orde Baru. Pada saat yang sama saya merasakan kehampaan yang bergaung luar biasa dalam, melihat mereka yang teraniaya tidak kunjung dewasa dan melampiaskan segala dendam dengan cara yang kurang santun.

Saya merasakan kepengecutan yang getir. Mengadili seorang Pol Pot, seorang Hitler, tidakkah sebaiknya dilakukan selagi yang bersangkutan masih segar, masih bugar, masih sadar dan sangar. Seperti saat Saddam Hussein diadili dan dijatuhi hukuman mati?

Pak Harto wafat. Di China, ketua Mao masih mendapatkan penghormatan yang layak dari seluruh anak bangsa, lepas dari kekejamannya selama masa Revolusi Kebudayaan. Bahkan Deng Hsiao Ping yang pernah teraniaya pun memberikan maaf dan lantang menyuarakan bahwa ketua Mao telah membuat tiga dosa besar kepada rakyat Tiongkok, tetapi beliau telah mengukir tujuh prestasi besar bagi bangsa dan negara. Lalu bagaimana dengan Pak Harto?

Tegaknya candi Borobudur maupun bersatunya Nusantara di bawah gaung Sumpah Palapa Gajah Mada. Adakah sejarah mencatat korban yang terhempas?

Pak Harto wafat. Kesalahan Pak Harto agaknya kesalahan komunal kita semua. Mau atau tidak kita mengakuinya. Terlalu naif jika kesalahan suatu rezim hanya ditimpakan pada seorang individu saja, seorang Soeharto.

Berapa banyak sebenarnya kroni - kroni Soeharto yang sekarang tiarap, bahkan ada yang telah bermetamorfosis menjadi sosok baru demokrat sejati dan reformis, yang sebenarnya ikut daripada bertanggungjawab bahkan mungkin memikul kadar daripada dosa yang tak kalah berat atas kezaliman dan kebrutalan daripada Orde Baru. Diam saja, bisu saja ikut bertanggungjawab atas kesalahan kesalahan Pak Harto.

Diam Anda pun demikian, bisu kita pun demikian. Mengapa kita dan seluruh komponen bangsa, andaikata ingin Soeharto lengser, tidak menjatuhkannya semenjak awal, semenjak dulu. Mengapa malah ketidakberanian yang muncul? Mengapa menunggu sampai renta dan pikun? Kemana gerangan kegarangan bermartabat seorang Soe Hok Gie?

Mekanisme politik yang berjalan selalu akan dibatasi titik kulminasi yang setiap saat mampu membalik total situasi. Tidak ada yang kekal. Mahatma Gandhi, Corazon Aquino, Nelson Mandela telah menorehkan bukti tak terbantahkan.

Soeharto-Indonesia

Pak Harto wafat. Bagi saya, Soeharto adalah Indonesia, Indonesia adalah Soeharto. Saya adalah Soeharto, Soeharto adalah saya. Tat twam asi. Saya adalah engkau, engkau adalah saya. Jika engkau teraniaya, saya pun terluka. Jika engkau dipuji, saya pun tersanjung.

Saudara- saudaraku, pada saat kita mengutuk dan mencaci Pak Harto, pada saat yang bersamaan kita telah mengutuk dan mencaci diri kita sendiri, bangsa kita sendiri.

Saya pun menitikkan air mata. (11)

-Harjanto Halim, ketua Komunitas Pecinan Semarang Wisata (Kopi Semawis)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA