| Rabu, 06 Februari 2008 | MURIA |
Kena Hydrocephalus, Syifa Butuh BantuanBAYI berusia lima bulan ini hanya bisa berbaring tergolek lemas karena menderita hydrocephalus. Kesehariannya, ia sering menangis dan merengek, seperti sedang menahan sakit. Bayi yang memiliki nama lengkap Akhrijna Lissyifa atau dipanggil Syifa ini merupakan putri dari Yayuk Rahmawati (28), warga RT 2 RW 2 Desa Sunggingan, Kecamatan Kota, Kudus. Sehari-hari, Syifa diasuh Dwi Setyaningrum (31), kakak kandung Yayuk. Menurut Dwi, gejala penyakit itu terasa sejak dalam kandungan. Saat Yayuk akan melakukan persalinan, dokter yang menangani menyatakan, proses kelahiran tidak bisa secara normal, harus melalui operasi dengan perkiraan bayi yang dikandungnya besar. Setelah melahirkan, ada yang mencurigakan. Pada bagian kepala tampak lebih besar dan tidak proporsional dengan bentuk badannya yang mungil. "Lingkar kepala cukup besar. Padahal ukuran maksimal bayi normal hanya 9,5 sentimeter, namun untuk Syifa lebih dari itu." Saat usia dua bulan, Syifa diperiksakan ke dokter poliklinik karena kepalanya semakin membesar. Saat ditimbang beratnya 12 kilogram. "Beratnya segitu karena bentuk kepalanya semakin membesar dan lingkar kepalanya 78 sentimeter." Jaringan Otak Orang tua dan kerabat Syifa tidak putus asa mencari kesembuhan. Beberapa waktu lalu, ia diperiksakan ke RS Elisabeth Semarang. Namun usahanya nihil, dokter tidak sanggup menangani, karena cairan di dalam kepala semakin banyak sehingga menekan jaringan otak di sekitarnya. Khususnya pusat-pusat saraf vital sehingga berisiko untuk dilakukan operasi. Dwi menambahkan, biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan tidak terhingga lagi jumlahnya. Orang tua Syifa yang bekerja sebagai karyawan kontrak di sebuah pabrik, hanya bisa pasrah dan berharap keajaiban karena penghasilannya habis untuk biaya hidup dan berobat. Beberapa kerabah bahkan sudah meminta surat keterangan dari desa agar mendapatkan rekomendasi keringanan biaya pengobatan. Kondisi Syifa semakin hari bertambah parah, karena pada bagian kepala keluar cairan. Dwi hanya bisa mengusapnya dan melakukan pertolongan seadanya. Bahkan ia sering kejang-kejang saat bangun dari tidur, sehingga posisinya harus dilindungi dengan bantal, agar tidak jatuh. Badannya yang kecil itu tidak sanggup menahan sakit, karena kepalanya kian membesar, hingga saraf kepala tampak menonjol. ( Ruli Aditio-76) |