| Rabu, 06 Februari 2008 | MURIA |
Produksi Gabah di Sukolilo Masih DiandalkanKAYEN- Meski sebagian tanaman padi di Kecamatan Sukolilo terendam banjir, namun hal tersebut tidak sampai mengganggu produksi gabah. Dari luasan tanaman padi 7.400 hektare, hanya 2.649 hektare yang puso dan rusak terendam banjir. Sebagian sawah di Desa Gadudero, Kasiyan, dan Wotan yang tanamannya rusak. Sedangkan sebagian besar desa lainnya di wilayah lumbung padi tersebut, tanaman padinya aman tidak terkena banjir. Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Kecamatan Sukolilo, Suharto mengemukakan, luasan padi 4.751 hektare yang selamat dari banjir saat ini sudah mulai dipanen. Dia memperkirakan, rata-rata per hektare bisa menghasilkan gabah kering panen (GKP) sebanyak tujuh ton. ''Musim tanam kali ini hama tidak terlalu banyak yang menyerang. Hanya tikus, namun bisa dikendalikan oleh petani sehingga tidak sampai mengganggu produksi gabah,'' jelas dia saat ditemui di areal persawahan, Selasa (5/2). Bukan hanya hasil produksi yang masih bisa diandalkan, harga gabah sejauh ini juga cukup stabil pada kisaran di atas Rp 2.000/kg. Dengan begitu, usaha pertanian tidak merugi. Petani asal Desa Baleadi ini optimistis, harga gabah tidak akan anjlok saat panen raya awal Februari hingga awal Maret. Pasalnya, harga jual beras dari penggilingan saat ini masih bertahan di kisaran Rp 4.000/kg. Menggembirakan Tidak hanya padi jenis ciherang yang siap panen di Sukolilo. Varietas hibrida SL 8 juga dikembangkan. Di Baleadi, jenis itu baru diuji coba dan hasilnya cukup menggembirakan. Namun, kata Kades Baleadi, Suhardi SH, hibrida tersebut rentan penyakit. ''Kalau untuk MT I hasilnya bagus, tapi untuk MT II kemungkinan tidak cocok karena mudah dihinggapi hama.'' Kepala Dinas Petanian dan Peternakan (Distannak), Ir Pujo Winarno MM yang melihat langsung panen perdana di desa itu menyatakan, dengan hasil produksi tersebut, pihaknya yakin ketahanan pangan di Pati tak goyah. Sementara untuk wilayah di luar Sukolilo yang banyak puso akibat banjir, dia mengatakan, saat ini petani bisa mulai menanam kembali. Hal itu untuk mengganti MT I yang gagal.(H49-76) |