logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 06 Februari 2008 MURIA
Line

"Dik, Jaga Adik yang di Perut"

"Lik, tolong cepat diupayakan bantuan karena aku hubungi Pak Akeng (Sutoni, pemilik kapal) nggak nyambung" PESAN terakhir yang disampaikan Kadri melalui SMS yang dikirimkan ke staf kantor Lilik untuk meminta bantuan agar dipercepat. Saat itu Kadri bersama rekan-rekannya sudah berada di atas rakit.

SMS tersebut dikirimkan sekitar pukul 20.00 pada Sabtu (2/2). Permintaan tersebut karena ponsel yang dibawa Kadri baterainya sudah habis.

"Itu SMS Kadri terakhir yang menginformasikan keberadaannya di atas rakit, minta bantuan karena baterai ponsel sudah habis," ucap Budianto (29) keluarga dari Kadri, Abdullah, dan Pendi yang termasuk tujuh ABK dan nakhoda Kapal Layar Motor (KLM) Sumber Utama yang tenggelam di Perairan Jepara pada Sabtu (2/2).

Bersama keluarga yang lain, Irwan (26), adik ipar Pendi, dan Yulianto (28) kakak ipar Pendi datang ke Jepara untuk mengetahui kondisi terakhir sanak keluarganya.

"Kami menunggu dengan sabar. Apapun hasilnya ikhlas menerima dan kami selalu berkoordinasi dengan pihak berwajib," ucap Budi.

Budi menceritakan, sebelum berangkat melaut ada keanehan yang ada di diri Pendi. Ibu Pendi mempunyai firasat buruk dengan mimpi jelek dan burung peliharaan kesayangannya lepas.

Adik Pendi, yakni Diana, mengirim SMS untuk memberi tahu kalau burungnya lepas pada Sabtu (2/2) sekitar pukul 23.00, namun tidak ada jawaban karena tidak terkirim.

Gelagat aneh juga ditunjukkan Pendi saat berpamitan dengan istrinya, Ani, yang baru mengandung empat bulan. Saat pamitan, Pendi menangis dan memeluk istrinya erat dan berpesan, "Dik, jaga adik yang di perut ya..."

"Saya hanya menyuruh Ani untuk yasinan dan berdoa agar Pendi selamat," imbuh Budi.

Ani juga bermimpi aneh pada Senin malam, saat itu di mimpinya Pendi menemuinya sembari membawa bayi laki-laki dan menitipkan serta berucap, "Dik abang tidak apa-apa, cuma abang pulang agak lama karena pergi jauh."

Ayah Pendi, Jardik, juga pernah menjadi awak KLM Sumber Utama beberapa tahun lalu. Namun, meninggal dalam tugas di atas kapal karena sakit.

Sebelum bertolak dari Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Pendi sempat menghubingi istrinya berpamitan akan bertolak ke Pontianak. "Saat telepon, Pendi bercerita merasa getaran ombak terlalu besar," tandasnya.

Sementara firasat jelek juga diterima keluarga Abdullah saat akan berangkat Jumat pagi. Dul - sapaan akrabnya - berangkat seperti orang bingung, masuk rumah keluar lagi, masuk lagi.

"Biasanya pamitan dengan keluarga, tapi Jumat pagi jam 07.00 tidak berpamitan. Aneh tidak seperti biasanya," ungkap keluarga Abdullah yang juga datang ke Jepara yakni Darmanto (38), dan Triyono (25).(Budi Cahyono-19)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA