logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 04 Februari 2008 WACANA
Line

Surat Pembaca

Pungutan Konversi Elpiji

Pemerintah kini melakukan konversi minyak tanah ke elpiji secara gratis kepada masyarakat yang penyalurannya dilakukan oleh beberapa distributor. Pemberian kompor gas gratis ini tidak hanya di kota saja melainkan sampai ke desa. Namun dalam pelaksanaannya ada yang dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk melakukan pungutan.

Contoh yang terjadi Desa Doplang Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang. Justru para perangakat desa menggunakan kesempatan tersebut untuk melakukan pungutan terhadap warganya. Pada waktu pengambilan kompor gas, tiap KK diminta mengganti administrasi sebesar Rp 5.000. Nominal tersebut secara pribadi mungkin sangat kecil.

Namun Desa Doplang mempunyai 41 RT dari 7 RW. Rata-rata satu RT punya 25 KK hingga kalau dihitung, berapa dana yang dipungut saat pembagian konpensasi kompor gas. Dalam rapat di balai desa, salah satu anggota BPD (Badan Permusyawaratan Desa) telah menanyakan masalah biaya administrasi tersebut.

Kepala desa Bapak Supriyanto mengatakan masyarakat dimohon merelakan atau menghargai kinerja para perangkat desanya dalam membagi kompor gas atas dasar tepa selira. Padahal saat ini warga kesulitan mencari tambahan biaya hidupnya yang mayoritas sebagai petani.

Coba tanyakan kepada warga desa lain yang juga mendapatkan konpensasi. Berapa dana yang dikeluarkan untuk mengganti biaya administrasi sebab bahkan ada yang gratis sama sekali. Saya imbau, sebelum mengambil kebijakan, hendaklah disosialisasikan dulu agar tidak menimbulkan praduga negatif dari masyarakat.

Nur Nawawi (081325861171)

Jurangsari RT 5/RW 1 Doplang, Bawen

Tentang Pelayanan

PDAM Purwodadi

Saya pelanggan PDAM Purwodadi cabang Tawangharjo mengucapkan terima kasih serta salut atas respon cepat dan positif dari Bapak Direktur PDAM dan kepala Cabang Tawangharjo terhadap keluhan saya yang dimuat 22 Januari 2008.

Pada dasarnya keluhan itu merupakan akumulasi dari kekecewaan terhadap pelayanan yang kurang memuaskan dan jauh sebelum dipasangnya spanduk pelayanan PDAM Purwodadi.

Perlu saya klarifikasi, yang dimaksud 50 buntet (baca: seket buntet) bukan berarti lima puluh kali tetapi merupakan sanepo bahasa Jawa yang berarti sering sekali. Setelah keluhan saya dimuat pihak PDAM menghubungi saya minta klarifikasi. Dalam pertemuan dengan Bapak Direktur PDAM Purwodadi dan kepala Cabang Tawangharjo, saya akhirnya tahu program baru instansi tersebut.

Juga mereka memberi penjelasan permasalahan yang saya alami serta akan menindaklanjuti. Maaf bila tulisan saya kurang berkenan dan semoga pelayanan kepada konsumen menjadi lebih baik demi kesejahteraan masyarakat Grobogan.

Prasetyo Budi

Mayahan RT 1/RW 4 Tawangharjo Grobogan.

***

Mundurnya Murdoko

Pada saat Rakedasus PDI Perjuangan Jateng 20 Januari 2008 ada kejutan yaitu mundurnya Murdoko selaku ketua DPD Jateng dari bakal calon gubernur. Sesungguhnya patut disayangkan, sebab ketua partai merupakan representasi kader terbaik yang dimiliki partai. Kader di berbagai pelosok Jateng banyak yang menghendaki dan mendukung beliau untuk maju, sebab Pak Murdoko mempunyai pengalaman cukup.

Di samping sebagai ketua DPD partai, juga ketua DPRD serta ketua KONI Jateng sehingga memaharni segala persoalan di daerah ini dibanding dengan kandidat lain. Bila ada kader sendiri yang layak, sudah saatnya diberi lcesempatan. Ini adalah bentuk pembelajaran partai.

Keputusan mundur telah diambil dan karenanya barangkali DPP bersikap bijak sebagai apresiasi dari "kebesaran hati, kearifan" dan sikap legawa Bapak Murdoko, agar tidak menyulitkan induk organisasi. Maka sudah sepantasnya beliau diberi tugas menjadi calon wakil gubernur.

Amy Machkum

Pudakpayung RT 1/RW 1, Semarang

***

Didamprat Istri

Personel Team-Lo

Tanggal 18 Januari 2008 saya bertamu ke rumah personil group band parodi Team-Lo Solo untuk mencari info prosedur mengundang grup tersebut. Di depan pagar rumah saya kebetulan ketemu isterinya tapi belum sempat mengutarakan maksudnya malah kena dampratan lebih dulu. Mungkin saya dikira akan minta sumbangan karena hanya pakai sepeda onthel serta membawa buku.

Bahkan saya tak dipersilahkan masuk ke halaman rumah, hanya di luar pagar. Dia berkata bahwa suaminya, drummer Team-Lo sekarang hidup di Jakarta, tidak lagi di Solo dan lainnya yang mengakibatkan telinga jadi panas. Tapi saya cepat tanggap serta maklum hingga segera pamitan. Ya begitulah kalau seseorang lagi mengalami sindrom OKB (orang kaya baru).

Sulit diajak komunikasi dan lagaknya sudah seperti istri pejabat tinggi. Bukannya membandingkan, tapi saya beberapa kali bertamu ke rumah dalang kondang Ki Anom Suroto, Ki Manteb Soedharsono, Ki Sunaryo yang Wagub Jatim hanya dengan mengenakan celana pendek dan kaos oblong. Namun saya diterima dengan sangat baik dan diperlakukan sopan sebagai seorang tamu.

Sebagai keluarga besar seorang pekerja seni, hendaknya jangan memandang seseorang dari tampilan fisik semata. Sudah lazim seorang seniman berpenampilan nyleneh, termasuk saya. Ingat semua ketenaran tak lepas dari penggemar. Kalau ingin tetap eksis di dunia entertainment, jangan anggap semua tamu/penggemar adalah pengemis.

Agus Setyanto SH (085257054781)

Jl Zebra Tengah II/3, Semarang

***

PT Adira Finance

Mengecewakan

Saya membeli motor melalui PT Adira dengan mengambil kredit selama 35 bulan yang pembayarannya setiap tanggal 10 dengan tanpa ada tenggang waktu satu hari pun. Pembayaran langsung ke PT Adira Dinamika Finance Jl MT Haryono 57 Semarang. Setelah berjalan satu tahun, saya ingin melunasi namun mereka meminta saya melanjutkan kreditnya saya agar tidak kena pinalti.

Suatu ketika saya menunggak dua bulan tapi kemudian saya ke kantornya untuk melunasi. Namun pihak Adira tidak mau tahu dan yang membuat saya heran, ada staf menanyakan kunci dan STNK dengan alasan mau cek fisik motornya. Tapi kemudian saya disuruh tanda tangan di kertas tanpa saya diberi kesempatan untuk baca isinya.

Setelah itu disuruh menghadap pimpinannya yang mengatakan motor ditarik karena saya menunggak. Padahal saya datang ke kantor Adira untuk membayar tunggakan yang dua bulan, sebab cicilan bulan berikutnya belum jatuh tempo. Saya datang tanggal 9 Januari 2008 sedang jatuh tempo tanggal 10.

Tetapi pimpinan tersebut mengatakan saya harus melunasi semua kredit yang masih kurang 10 bulan dan nanti akan mendapati potongan sebesar Rp. 600.000 serta BPKB langsung keluar hari itu juga. Karena hari sudah sore tidak bisa ambil uang di BRI maka saya pulang dengan kecewa. Kebetulan tanggal 10 Januari 2008 hari libur nasional hingga esoknya saya ke kantor Adira untuk melunasi semua kredit saya.

Kenyataannya, yang dijanjikan bohong belaka. Potongan Rp. 600.000 tidak ada, bunga berhenti juga tidak diberlakukan malah saya kena uang tarik motor Rp 500.000 dan uang pinalti 3 %. Selain itu juga harus mengambil sendiri motor saya yang disita ke gudangnya di daerah Kaligawe dengan alasan tidak ada pegawai yang mau mengambilkan.

BPKB yang dijanjikan jadi pada hari itu juga pun tidak langsung keluar. Saya harus menunggu tiga hari lagi dengan alasan bagian BPKB pergi. Namun setelah itu seorang staf yang lain menawari saya untuk mengambil dana cepat yang merupakan salah satu program dari PT tersebut Tapi syaratnya. BPKB tidak boleh diambil. Ini berarti PT Adira mempermainkan konsumen.

Yang lebih mengecewakan, pada tanggal 15 Januari 2008 saya mendapat surat dari mereka yang intinya motor saya akan dilelang. Padahal saya sudah melunasi kredit tersebut. PT Adira profesional di bidang kredit atau hanya sebagai tukang rayu konsumen yang kemudian dipojokkan untuk mendapat keuntungan besar. Saya ingatkan kepada konsumen agar waspada dan berhati-hati bila ingin kredit motor, jangan sampai menjadi korban seperti saya.

ET Maydiana K Tandyo

Jl Wonodri Baru (Atas) V/2C, Semarang

***

Uang Sudah Ditransfer

Saya pemenang kuis sms program Bango Cita Rasa Nusantara edisi 10 November 2007 yang disiarkan Indosiar dengan hadiah uang sebesar Rp 500.000. Karena saya tidak memberikan biodata diri secara Iengkap, hadiah belum ditransfer hingga menimbulkan masalah. Akar permasaIahan mutlak akibat kesalahan saya yang tidak memberi biodata diri lengkap.

Kemudian kru perusahaan kecap tersebut menyelesaikan masalah ini dan hadiah uang sebesar Rp 500.000 sudah tertransfer pada tanggal 23 Januari 2008. Saya minta maaf sekaligus berterima kasih kepada kru dan perusahaan Bango Cita Rasa Nusantara dan stasiun TV Indosiar. Sekali lagi maaf atas ucapan dan tutur kata yang kurang santun.

Arif Ichwan Udin (085640011500)

Jl Wologito Brt VIII RT 2/RW 5, Semarang

***

Bencana Alam

Di mana-mana terjadi bencana alam. Tsunami, gunung berapi, gempa bumi, tanah longsor, puting beiiung dan banjir bandang. Sebagian musibah itu terjadi berturut-turut serta bergantian di beberapa daerah dan sebagian lagi terjadi secara serentak. Namun semuanya itu dapat dilukiskan secara seragam yaitu dahsyat, mengerikan, memilukan dan derita berkepanjangan.

Bencana alam memang diluar kemampuan manusia untuk mengantisipasi. Namun sebagai akibat ulah sekelompok orang yang menyengsarakan jutaan manusia yang lain. Sungguh merupakan hal yang sejatinya dapat dihindari dan dicegah. Perusakan alam dengan cara apa pun, penebangan semena-mena, eksplorasi tambang sewenang-wenang terus terjadi.

Juga penyalahgunaan peruntukan lahan makin membabi buta sehingga mengakibatkan kesengsaran bagi masyarakat. Demikian juga berbagai praktik ilegal lain misal penyunatan dana untuk fasilitas sosial dan fasilitas umum serta penilepan biaya proyek publik akan mengakibatkan musibah Namun ironisnya, manusia pembuat bencana jangan jangan malah menghindar.

Mereka malah menikmati hidup mewah di rumah, apartemen dan kondominium di luar negeri. Padahal banyak korban tiba-tiba tak berdaya tertimbun longsoran akibat ulah orang yang justru sedang bermewah-mewah tersebut. Bagi para penyengsara masyarakat, segera mawas diri, sadar, bertobat dan tebus dosa. Ingat, hidup di dunia yang sekejap, sejatinya adalah bekal untuk hidup abadi di sana nanti.

Drs H Aji Nuswantoro BSc MM

Jl Kaliwiru II/ 27, Semarang

***

Negeri Surga Koruptor

Negeri ini benar-benar menjadi surga para koruptor. Menjarah uang rakyat sudah gampang dan menjalani hukuman juga enak. Buktinya sudah divonis oleh pengadilan negeri tetapi tidak begitu lama menjalani hukuman, tahu-tahu hukumannya dikurangi oleh MA. Bahkan ada yang sudah dibebaskan bersyarat.

Memang para koruptor rata-rata memiliki otak cerdas dan gesit hingga gampang menghilangkan barang bukti, menyulap hukum dan menjadi "pelari" cepat antarnegara. Makanya tidak heran kalau ada koruptor ketangkap, kemudian berusaha sekuat tenaga dan dana untuk mencari peluang agar bebas atau paling tidak mendapat pengurangan hukuman.

Ada salah kelemahan sistem hukum di negeri ini yaitu adanya Peninjauan Kembali (PK), Pembebasan Bersyarat (PB), remisi dan keringanan hukuman lain yang bertujuan melindungi para koruptor dari hukuman berat. Semua itu merupakan UU hasil produk pemerintahan Orde Baru. Jadi kalau presiden sekarang teriak: berantas korupsi, tapi sistem hukumnya tidak mendukung maka hasilnya tidak signifikan.

Malahan sistem hukum yang berlaku sekarang secara tidak langsung mendorong semua pejabat bila ada kesempatan berkorupsi, korupsilah sebanyak-banyaknya. Jika sampai dihukum akan terbantu dengan pengurangan hukuman dari sistem yang ada. Memang kenyataan kasus korupsi terus berlanjut dan jangan salahkan aparat yang menangani karena mereka juga bisa memanfaatkan sistem yang ada.

Jika pemerintah betul-betul menghendaki negara kuat, bersih dan berwibawa dan rakyat sejahtera, solusinya harus berani merombak sistem hukum yang berlaku sekarang menjadi tegas dan tidak ragu dalam membuat keputusan.

Ali Farkan

Pabelan RT 1/RW I, Kab Semarang

***

Sisi Negatif Pilkada

Untuk kali kesekian, rakyat disuguhi tontonan kerusuhan akibat pilkada di Sulawesi Selatan. Kerusuhan serupa sudah berpuluh kali terjadi di seantero Indonesia dan tontonan serupa masih akan berlangsung di negeri Indonesia tercinta ini sebagai ekses pilbup/pilwalikota, pilgub dan lainnya. Ternyata demi demokrasi, pilkada menimbulkan kerugian materi yang tidak sedikit, termasuk para calon.

Mereka harus siap maju tatu atau mundur ajur. Maju tatu karena memakan biaya yang tidak sedikit, mundur ajur karena kalau kalah juga kehilangan dana tidak sedikit yang tidak mungkin bisa kembali. Jadi ternyata pesta demokrasi tersebut bukan pestanya rakyat.

Rakyat datang berpanas terik matahari, berhujan dalam keadaan lapar dan dahaga untuk memilih pemimpin yang belum tentu amanah. Pesta demokrasi tersebut sesungguhnya adalah pestanya partai politik dan tim sukses beserta anggotanya. Mereka mengantongi banyak uang dan kalah atau menang tetap mendapat sisa dana.

Dari sisi negatif tersebut semoga menjadi pemikiran bagi para politikus, eksekutif dan bagaimana caranya tidak memboroskan dana APBN/APBD atau kantong para calon. Pengangkatan kapolres, kapolwil, kapolda atau dandim, danrem serta pangdam juga tidak pakai pesta demokrasi tapi ditunjuk langsung oleh atasan. Bagaimana pun wacana Gubernur Lemhannas (Pak Muladi) perlu dipikirkan yaitu tanpa pilkada, cukup presiden menunjuk gubernur/bupati/wali kota.

H Erlangga Chandra (EI)

Bantulan RT 1/RW 1 Banyudono, Boyolali.

***

Pemerintah Sengaja

Memiskinkan Rakyat

Proses pemiskinan rakyat menurut saya tidak hanya berjalan melalui praktik korupsi tetapi secara konseptal bahkan filosofis, memang pemerintah sengaja memiskinkan rakyatnya. Coba perhatikan program Askeskin (Asuransi Kesehatan untuk masyarakat miskin), program Raskin (Beras untuk masyarakat miskin) dan program program berlabel pengentasan kemiskinan lainnya.

Saya tidak sedang mempersoalkan cara atau metodenya. Program itu esensinya baik, meski terjadi kebocoran dan keruwetan di sana sini. Kebocoran terjadi karena pelaksananya masih bermental miskin. Ceritanya jadi agak lucu memang, di mana orang bermental miskin akan mengentaskan masyarakat miskin.

Yang mengganggu saya justru nama programnya, mengapa harus diberi embel embel kata-kata "miskin". Ketika budhe saya menerima kg 20 beras miskin, memang tampak senang. Tapi hati dan semangatnya hancur, karena harus meng-amini predikat miskin yang menempel di program raskin itu. Demikian juga tetangga yang masuk RS, kesembuhan menjadi berkat tetapi predikat miskin itu melekat terus.

Kita tidak akan menjadi kaya dengan cara memelihara rasa miskin terus menerus. Program Askeskin dan raskin membantu masyarakat untuk melanggengkan perasaan itu. Maka berapa pun anggaran yang dikucurkan untuk mengentaskan kemiskinan, kalau labelnya masih sama tentu juga akan sia-sia.

Program itu hanya akan menebalkan perasaan miskin masyarakat. Jadi, kenapa nggak diberi label "beras anugerah" atau "asuransi kasih". Programya tetap sama, cuma butuh merek baru. Semoga bisa menjadi permenungan bagi kita semua.

R Budi Sarwono

Jl Melati 3 Banyubiru, Kab Semarang


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA