logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 04 Februari 2008 WACANA
Line

TAJUK RENCANA

Banjir dan Pengamanan Fasilitas Vital

Bencana banjir sudah banyak terjadi akhir-akhir ini seperti di Kudus, Solo, Bojonegoro dan lain-lain. Namun ketika yang kebanjiran Jakarta dampaknya lebih hebat dan luas. Bukan karena apa-apa tetapi memang ibukota adalah pusat segalanya. Kegiatan pemerintahan, bisnis, politik, budaya dan sebagainya. Juga terdapat fasilitas-fasilitas vital serta yang terkait dengan simbol-simbol negara seperti Istana Negara. Bahkan berita presiden dan wakil presiden yang terjebak banjir pun menjadi sorotan tersendiri termasuk fotonya yang unik yakni bagaimana iring-iringan mobil VVIP harus menerobos banjir dengan paspampresnya yang sibuk mengawal.

Ketika Jakarta dilumpuhkan banjir dalam satu dua hari saja, berapa ratus miliar atau bahkan mungkin triliun rupiah kerugian yang diakibatkannya. Apalagi ketika fasilitas vital seperti Bandara Soekarno Hatta kacau balau karena jalan tol menuju ke sana terendam air satu meter. Ratusan penerbangan tertunda dan ini langsung membawa imbas kemana-mana termasuk ke mancanegara. Maka selain berusaha menolong dan menyelamatkan warga yang kebanjiran, upaya khusus untuk mengamankan fasilitas penting dan bahkan vital seperti itu layak difikirkan secara serius kendati situasinya memang menjadi serba darurat atau force majeur.

Pertanyaan kita, sudah adakah langkah penyelamatan darurat atau katakanlah semacam manajemen krisis agar dampak yang ditimbulkan menjadi tidak terlampau parah. Mungkin orang akan lebih mudah mengatakan daripada melakukan aksi yang lebih konkret. Misalnya memindahkan sementara Bandara Soekarno Hatta ke Halim Perdana Kusuma agar tidak semua penerbangan tertunda dan kekacauan sedikit diredam. Sekali lagi itu barulah pemikiran yang sangat instan dan sederhana. Juga bagi pengelola bandara, sudah adakah prosedur darurat yang dimiliki untuk menghadapi situasi yang memang sangat darurat itu.

Kalau kita menyebutkan Bandara Soekarno Hatta itu barulah contoh yang paling nyata tentang pentingnya mengamankan fasilitas vital dan strategis. Beberapa fasilitas lain tentu masih banyak misalnya yang menyangkut listrik, sarana telekomunikasi dan rumah sakit hingga posko darurat. Karena khususnya bagi Jakarta, problem banjir semakin menjadi sesuatu yang rutin. Dulu jarak satu kejadian dengan kejadian berikutnya bisa lima tahun atau lebih sehingga kita mengenal istilah siklus. Sekarang sudah setiap tahun terjadi banjir besar. Memang relatif cepat surut namun kalau tidak diantisipasi kerugian yang diderita sungguh luar biasa.

Soal banjir di Jakarta sudah harus ditarik sebagai sebuah persoalan di tingkat nasional. Bukan melulu dibebankan kepada Gubernur DKI Jakarta. Sebab ketika ibukota kebanjiran dampaknya pun sudah bersifat nasional bahkan internasional. Dalam hal ini kecuali program khusus dan intensif untuk mengatasi banjir tersebut maka yang lebih mendesak sebenarnya memikirkan langkah-langkah darurat terutama untuk pengamanan fasilitas penting seperti bandara. Kita bisa berkilah macam-macam karena memang situasinya seringkali tidak bisa diduga. Tetapi manajemen yang baik justru harus bisa berjalan pada saat terjadi turbulensi seperti itu.

Semoga banjir yang terjadi akhir minggu lalu di Jakarta menjadi sebuah pelajaran penting tentang hal itu. Jangan malah cepat dilupakan dan orang baru ribut setelah benar-benar mengalaminya. Seperti juga soal pengatasan problem banjir itu sendiri. Dari tahun ke tahun sudah adakah kemajuan yang signifikan dan bisa dijelaskan kepada publik. Memang ini sangat berat, kompleks dan memerlukan biaya mahal. Namun kita tentu tak boleh berputus asa. Bencana selalu datang namun yang penting bagaimana kesiapan kita mengantisipasinya. Pemerintah DKI dan pemerintah pusat perlu duduk bersama, berembug lagi memikirkan hal ini.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA