| Senin, 04 Februari 2008 | NASIONAL |
Infrastruktur Pertanian Rusak Belum Diperbaiki
SEMARANG- Sejumlah infrastuktur pertanian di Jateng yang rusak akibat banjir sejak akhir Desember 2007 hingga awal 2008, sampai sekarang belum diperbaiki. Anggota Komisi B DPRD Jateng Fatria Rahmadi mengemukakan, sedikitnya 55 titik saluran irigasi yang jebol atau rusak di Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus sampai sekarang belum tersentuh. ''Keterlambatan pemerintah dalam memperbaiki kerusakan infrastruktur akan memperparah penderitaan petani, sekaligus mengancam ketahanan pangan masyarakat. Sebab, Kecamatan Undaan dan sejumlah wilayah lain di Kudus selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung padi di Jateng,'' kata Fatria, Minggu (3/2). Bencana banjir dan longsor di Jateng telah merusakkan infrastuktur pertanian yang cukup parah di sejumlah daerah. Hingga Januari 2008, Pemprov menghitung kerugian material akibat bencana telah mencapai Rp 776,614 miliar. Pj Kepala BIKK Jateng Urip Sihabudin merinci, kerusakan material dari sisi infrastruktur seperti irigasi, bangunan, dan jalan mencapai Rp 397,82 miliar, disusul kerusakan pada sektor pertanian dalam arti luas yakni berupa kerusakan sawah, tegalan, dan yang lain Rp 175,232 miliar. Musim Tanam Sementara itu, jumlah lahan pertanian di Jateng yang terendam banjir hingga 10 Januari mencapai 56.012 hektare. Dari jumlah itu, menurut Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan (Dispertan) Jateng Aris Budiono, lahan padi yang puso sebanyak 30.785 hektare. Padahal, menurut Fatria, dalam waktu dekat, yakni awal Maret petani Jateng sudah memasuki musim tanam kedua (MT II) 2008. Terkait hal ini, politikus PDI-P tersebut mendesak kepada pemprov untuk mempercepat upaya rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur pertanian yang rusak akibat banjir. ''Selain bantuan benih dan pupuk, program penanganan pascabanjir harus disertai dengan perbaikan berbagai kerusakan infrastruktur pertanian. Mulai dari waduk hingga saluran irigasi,'' kata dia. Gubernur Jateng Ali Mufiz MPA menjamin bahwa bencana alam tidak akan mempengaruhi ketahanan pangan Jateng, tapi pihaknya mengakui produksi beras nasional akan terkurangi.(H7,H37-60) | ||||