logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 04 Februari 2008 NASIONAL
Line

Dianggap Tak Menjanjikan, Pertanian Ditinggalkan

SEMARANG- Masalah kenaikan harga kedelai dan jagung, menurut Bupati Kudus HM Tamzil, perlu diatasi secara cepat dan tepat. Dia mengatakan hal itu ketika ditanya peserta diskusi terbatas di Semarang, belum lama ini.

Diskusi yang dihadiri relawan bakal calon gubernur dan tokoh masyarakat itu untuk mencari masukan warga Jateng mengenai persoalan yang timbul di masyarakat. "Kalau tak diatasi secara cepat dan tepat, kondisi perekonomian masyarakat akan kalang kabut," katanya.

Bakal cagub Jateng itu mengatakan, selama ini sektor pertanian dianaktirikan, dan hanya menjadi objek tebar pesona. Para petani di Jateng yang jumlahnya jutaan orang dianggap sebagai masyarakat kelas dua. Pekerjaan di sektor pertanian dianggap bukan profesi membanggakan.

"Kenyataannya profesi sebagai petani dianggap tidak menjajikan dan tak memberi kesejahteraan tinggi, sehingga banyak anak muda meninggalkan sektor ini," katanya.

Lupa Sumber Alam

Ihwal beras impor, jagung, kedelai impor, dan berbagai komoditas lain, dia menyatakan karena lupa akan potensi sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM).

Diingatkan, kondisi alam di Jateng amat subur untuk budidaya pertanian pangan dengan SDM yang sangat memadai. Jateng dikenal sebagai salah satu penyangga ketahanan pangan nasional mulai dari padi, jagung, dan kedelai.

Kalau ketiga komoditas pangan itu harus impor, lanjutnya, bukan karena alam di Jateng tak mampu memberi hasil optimal, dan petani tak mau bekerja keras. Tetapi jaminan perlindungan atas sektor ini belum sepadan.

"Sepertinya kita ini mau mudahnya saja. Kalau impor lebih murah, ngapain susah-sudah memproduksi? Kalau kita dipercaya untuk pinjaman luar negeri, ngapain kita kerja keras ngumpulin duit sendiri?" ujarnya bernada sindiran.

Akibat sikap mau mudahnya tersebut, kata dia, masyarakat kehilangan kultur pekerja keras, bersifat hemat, dan mampu menghargai karya sendiri serta kooperatif.

Namun ketua IKA Undip itu yakin sektor pertanian di Jateng tetap unggul. Selain tersedia lapangan kerja luas, produk pertanian utamanya tanaman pangan dari Jateng bisa kompetitif. Dia akan menempatkan pertanian dalam skala prioritas.

Regulasi sektor pertanian di Jateng harus jelas untuk pengembangan teknologi dan pengembangan manajemen usaha. Masyarakat petani di Jateng juga perlu tahu, naiknya harga kedelai impor karena negara produsen besar seperti Amerika mengkonversi lahan pertaniannya untuk tanaman jagung dalam rangka proyek raksasa pengembangan bioenergi pengganti BBM.

Amerika Serikat, Uni Eropa dan China kini sedang mengembangkan bioenergi dari jagung untuk alternatif energi nonpolutan dan terbarukan. Akibatnya jagung juga mahal karena tersedot, dan Indonesia terkena getahnya.

"Ini pengalaman pahit. Negeri kita agraris yang subur makmur, yang seharusnya memang untuk kita, bukan orang lain," ujarnya. (A7-60)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA