logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 04 Februari 2008 NASIONAL
Line

Pernak-pernik Imlek 2559 (1)

Satukan Budaya dan Etnis lewat Tepa Selira


SM/Modesta Fiska TEPA SELIRA : Bersama dengan sejumlah tokoh seperti budayawan dan pengusaha, Prof Eko Budihardjo (kanan) menjadi pembicara dalam ''Dialog Budaya Tepa Selira Dalam Kehidupan Multikultur'' di Pasar Imlek Semawis, Minggu (3/2) malam.(30)

Berbagai kegiatan dilakukan untuk menyambut Tahun Baru Imlek 2559. Di Semarang, misalnya, digelar Pasar Imlek Semawis, dialog budaya, dan pertunjukan musik. Mal-mal dan di beberapa sudut di kawasan pecinan berhiaskan lampion, sehingga menambah kemeriahan suasana. Berikut laporannya.

MERANGKUL 8.000 orang keturunan silsilah keluarga Gan Peng bukanlah perkara gampang. Upaya merunut silsilah keluarga yang kini terpencar di berbagai penjuru dunia itu, ternyata bisa mengikat tali silaturahim balung pisah. Berikut laporannya.

Jangan berpikir Paguyuban Keluarga Keturunan Gan Peng ini terbatas pada etnis Tionghoa. Di Semarang, keluarga superbesar itu telah menyatukan beragam etnis, Tionghoa, Jawa, Koja, dan Arab. Dan, menjelang tahun baru Imlek, mereka pun mendapatkan ucapan ''Gong Xi Fa Cai''.

Bagaimana orang-orang yang memiliki latar belakang budaya berbeda bisa merasa satu dalam sebuah ikatan keluarga? ''Tepa selira,'' jawab Ketua Paguyuban Keluarga Keturunan Gan, Johan Gondokusumo atau Gan Kong Siang (59).

Paguyuban itu kini memiliki agenda pertemuan rutin, baik tingkat lokal, nasional, bahkan internasional. Di Semarang, anggota paguyuban berkumpul saat Lebaran. Perbedaan agama pun tidak menghalangi mereka untuk melaksanakan silaturahmi.

Johan adalah keturunan Tionghoa muslim, sementara koordinator paguyuban tingkat Jateng, Peter Tjondropurnomo, adalah seorang kristiani. Peter mengungkapkan, dirinya biasa mendapat kiriman SMS dan milis ucapan selamat dari anggota paguyuban, termasuk dari mereka yang bukan beretnis Tionghoa. Karena itu saling kirim pesan ucapan tidak hanya saat Lebaran, Natal pun mereka melakukannya.

''Tidak ada lagi sekat agama dan etnis. Tujuan kami ingin mengembangkan jalinan persaudaraan dan semangat guyub,'' katanya.

Johan yang semalam menginap di rumah Peter di daerah Jl Wotgandul Dalam Gabahan menilai, tepa selira dalam lingkup kewarganegaraan nasional sudah mulai dirasakannya. Misalnya, kian maraknya kegiatan bernuansa budaya oriental serta tidak ada lagi kesulitan dalam pengurusan dokumen.

''Dulu, mengurus paspor saja masih harus menyertakan SKBRI (Surat Keterangan Berkewarganegaraan Republik Indonesia). Etnis memang berbeda, tapi tidak selayaknya perbedaan itu untuk mengkotak-kotakkan,'' katanya.

Bukan Diskriminasi

Dalam Dialog Budaya ''Tepa Slira dalam Kehidupan Multikultur" di Panggung Pasar Imlek Semawis Minggu (3/2), Irwan Hidayat, pengusaha Jamu Sido Muncul pun mengapresiasi positif perkembangan kian hidupnya hak-hak etnis Tionghoa yang pernah dibatasi pemerintah.

Dia pun menyebut jika saja era kepemimpinan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sebagai presiden tidak memperjuangkan hak-hak etnis Tionghoa, bisa jadi sampai saat ini perlakuan diskriminatif masih diterima warga keturunan. Perjuangan Gus Dur memangkas segala diskriminasi etnis Tionghoa, dinilai banyak pihak layak mendapat sebuah penghormatan.

Pemerintah saat itu akhirnya menetapkan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur fakultatif dan era Megawati menetapkannya menjadi hari libur nasional. Di masa Gus Dur pulalah, Khong Hu Cu diakui sebagai salah satu agama nasional. Juga penggunaan nama Tionghoa, saat rezim Orde Baru dianggap tabu, sekarang bukanlah hal yang aneh lagi.

Kenyataan ini setidaknya menjadi masa-masa kebangkitan kalangan Tionghoa. Ini seakan menjadi titik balik setelah selama bertahun-tahun merasa tersingkir di negeri sendiri. ''Tak akan ada negara kian maju jika masih ada juga yang mendiskriminasikan warganya. Kita semua bisa berkumpul dalam perayaan Imlek di Pasar Semawis itu semua karena Gus Dur,'' katanya.

Meski di satu sisi ada yang berusaha menggalakkan tepa selira, Romo Setiadji Pantjawidjaja dari Yayasan Swagotra Budaya melihat budaya itu ternyata juga kian luntur. ''Orang sekarang bisanya jarkoni, iso ujar ra iso nglakoni. Bagaimana bisa memberi contoh ke orang lain, sedangkan ke diri sendiri saja ndak bisa,'' tandasnya.

Boleh jadi tepa selira itu semakin menipis, namun menurut Irwan, sepertinya itu hanya terjadi di level tertentu. Seperti di elite pemerintahan atau kalangan yang memang tak terjangkau mereka yang ada di bawah.

Budayawan Prof Eko Budihardjo menyontohkan sikap saling ejek atau lempar kesalahan termasuk dalam kategori menipisnya rasa tepa selira itu. ''Apapun itu, mau poco-poco atau undur-undur tidak seharusnya elite saling memojokkan. Dengan cara yang lebih santun malah justru akan terlihat menonjol dan kalau seseorang mengalah bukan berarti kalah,'' kata mantan Rektor Undip itu.

Drs H Fadholi Said MA Ketua Paguyuban Sami Rahayu Rukun Agawe Santosa (Saras) mengingatkan, manusia memiliki tujuh penyakit batin yang seringkali tidak disadari, di antaranya adalah egois, sombong, takabur, dengki, rakus, dan congkak. Penyakit-penyakit seperti inilah yang kerap dilupakan. ''Kalau pusing, demam, atau sakit, orang bisa langsung ke dokter tapi pas sakit batin atau jiwa ini, tidak menjadi perhatian serius,'' tuturnya.

Ya, tepa slira kiranya patut menjadi bagian hidup yang tak boleh ditinggalkan dalam kehidupan bermasyarakat. Tak peduli dari suku mana, apa agamamu, punya uang atau tidak. Seperti ungkapan Romo Setiadji, ''nek rak pengen dijiwit yo ojo njiwit'' (kalau tidak mau dicubit ya jangan mencubit dulu). Sama halnya jika ingin dihargai, maka kita harus terlebih dahulu menghargai orang lain. (Moh Anhar, Modesta Fiska-46)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA