| Senin, 04 Februari 2008 | NASIONAL |
Inflasi Zimbabwe Capai 150.000 PersenHARARE - Bank Sentral Zimbabwe melaporkan inflasi tahunan negaranya melonjak hingga 24.470 persen. Namun, lembaga independen memperkirakan inflasi Zimbabwe mencapai 150.000 persen. Angka ini merupakan inflasi tertinggi di dunia. Dalam pengumuman mengenai inflasi kwartal pertama, Gubernur Bank Sentral Gideon Gono mengatakan, inflasi itu berdampak pada semua sektor masyarakat. Menurutnya, inflasi tersebut disebabkan oleh ketidakseimbangan ekonomi makro. Pada awal Oktober 2007, kantor pusat statistik Zimbabwe menyatakan inflasi terakhir hanya di bawah 8.000 persen. Gono mengkritik penghitungan inflasi yang dibuat lembaga independen. ''Perkiraan mereka sangat ngawur dan keliru,'' ujarnya. Menurutnya, perhitungan yang keliru tersebut bisa merusak perencanaan bisnis dan menghancurkan kredibilitas negara. Dia menilai angka-angka dari kantor statistik sebagai informasi yang benar. Tak Percaya Kendati demikian, sebagian besar masyarakat Zimbabwe tidak percaya terhadap angka inflasi yang dikeluarkan kantor pusat statistik. Hal itu terlihat dari harga pangan yang dijual di supermarket. Dalam setahun, harga ayam bisa melonjak lebih dari 263.000 persen menjadi sekitar 15 juta dolar Zimbabwe (sekitar Rp 27.000) per kilogram. Begitu juga harga telur yang naik tak terkendali sampai 153.000 persen dalam periode yang sama. Kenaikan paling rendah terjadi pada harga gula, yakni 64.000 persen. Berdasar kenaikan-kenaikan harga seperti itu, lembaga independen menduga total inflasi pangan di Zimbabwe bisa mencapai 164.000 persen. Tak hanya pangan, biaya sekolah pun naik sampai 600 persen bulan lalu. Bensin makin langka dalam seminggu terakhir, harga sewa rumah dan penginapan juga melambung tinggi. Menurut Gono, dalam waktu dekat individu ataupun perusahaan dibolehkan menulis cek dengan batas maksimal 10 miliar dolar Zimbabwe. Sebelumnya, batas maksimal cek adalah 500 juta dolar Zimbabwe. Zimbabwe saat ini mengalami sederet masalah ekonomi. Mulai dari kekurangan stok makanan, nilai mata uang anjlok, kelangkaan bensin sampai krisis barang-barang kebutuhan pokok. Gono memerintahkan jajarannya untuk mencari solusi atas krisis tersebut sebelum turnamen Piala Dunia digelar di negara tetangganya, Afrika Selatan pada 2010. ''Saat seluruh dunia sedang berkumpul di Afrika Selatan, jangan sampai keadaan ekonomi kita menjadi sesuatu yang merusak pemandangan,'' kata dia.(dtc-25) |