logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 04 Februari 2008 NASIONAL
Line

Panser Amfibi Karam Enam Marinir Tewas

  • Tergulung Ombak saat Latihan di Situbondo

SITUBONDO- Satu unit panser amfibi (pansam) BTR 50 P milik Brigif I Marinir TNI AL tenggelam di perairan Situbondo, Jawa Timur saat mengikuti latihan puncak TNI AL "Armada Jaya" XXVII, Sabtu (2/2).

Delapan personel selamat, enam tewas, dan seorang lagi hingga semalam belum ditemukan.

Kepala Dinas Penerangan TNI AL Laksamana Pertama Iskandar Sitompul, di Jakarta, Minggu mengatakan, keenam personel yang tewas adalah Pratu (Mar) Agus Priyanto, Kopda (Mar) Rusli Heri, Serda (Mar) Hadi Sutrisno, Kopda (Mar) Nugroho Pamungkas, Kopda (Mar) Hari Adi, dan Praka (Mar) Dwi Niar Priyanto. Adapun yang hilang adalah Serka (Mar) Suryanto.

Sedangkan delapan orang selamat adalah Praka (Mar) Sarmilih, Kopda (Mar) Mulyono,

Kopda (Mar) Wahyuno, Letda (Mar) Krama Lubis, Praka (Mar) Iwan Setiawan, Kopda (Mar) wigati, Pratu (Mar) Purwanto, dan Sertu (Mar) Mujirin.

Pansam yang dikomandani Sertu (mar) Mujirin itu diluncurkan dari daerah serbuan amfibi oleh KRI Teluk KAU/504 pada posisi 07'41'4''S-114'13'42"T pukul 04.30. Saat itu panser telah menempuh jarak 1.300 meter. Sekitar 400 meter dari bibir pantai tiba-tiba bagian belakang panser goyang karena tergulung ombak setinggi satu meter. "Karena tingginya ombak dan cuaca yang kurang mendukung, kestabilan panser menuju pantai terganggu,'' kata Iskandar.

Komandan pansam saat itu segera memerintahkan seluruh awak keluar. Sembilan orang berhasil keluar, namun seorang hilang. Dalam proses penyelamatan itu, satu orang tersangkut di pintu sehingga lima anggota lain yang masih di dalam tidak bisa keluar. Pansam tersebut akhirnya karam di kedalaman 30 meter.

Iskandar mengatakan, TNI AL telah membentuk tim yang terdiri dari marinir dan Kopaska untuk menyelidiki terjadinya kecelakaan tersebut. Adapun pencarian korban yang hilang akan dilakukan oleh tim Marinir dan Kopaska selama sepekan ke depan.

Mabes TNI AL juga akan mengevaluasi seluruh pansam BTR-50P, menyusul kejadian tersebut. "Tentu kita akan evaluasi, mulai hari ini (Minggu, 3/2)," kata Iskandar Sitompul.

Menurut dia, TNI AL memiliki 96 pansam yang tersebar di Brigade Infanteri (Brigif) I dan II Marinir. Ke-96 Pansam BTR-50P itu merupakan buatan Rusia tahun 1962 dan telah mengalami peremajaan pada 1996. "Jadi, sebenarnya masih dalam batas waktu pemakaian namun dengan kejadian ini akan kita evaluasi seluruh pansam yang kita punya hingga kecelakaan semacam ini tidak terjadi lagi."

Saat di Situbondo, Pansam yang tenggelam sedang latihan bersama 25 unit BTR 50 P lainnya, 28 KRI, sembilan pesawat, 13 unit tank amfibi. Latihan itu juga melibatkan 3.756 personil.

Ke Jakarta

Jenazah enam anggota Marinir yang meninggal dunia kemarin dibawa ke Lanud Halim Perdanakusumah, Jakarta dan tiba sekitar pukul 17.10. Jenazah diterbangkan menggunakan pesawat Cassa 212 Skuadron 400 dari Bandara Juanda Surabaya.

Kedatangan jenazah disambut ratusan anggota Marinir dan keluarga korban yang datang menggunakan bus yang sudah disiapkan. Selanjutnya, keenam jenazah tersebut langsung dibawa ke Markas Korps Marinir di Cilandak, Jakarta. Wartawan hanya diizinkan melihat prosesi penyerahan jenazah dari luar bandara.

Iskandar Sitompul mengatakan, meski Mabes TNI AL sudah membentuk tim untuk mengevaluasi dan menyelidiki kejadian itu, hingga saat ini tim belum dapat menyimpulkan penyebab musibah tersebut. ''Saat ini masih terlalu dini untuk menyimpulkan,'' katanya.

Untuk sementara, kata dia, karamnya panser amfibi akibat terjangan gelombang setinggi satu meter yang membuat buritan belakang mengalami gangguan. Iskandar tidak membantah bahwa selain faktor cuaca, musibah itu juga bisa disebabkan faktor usia pansam.

''Dugaan awalnya belum ada yang pasti. Tapi kemungkinan memang ada faktor usia. Tapi, faktor usia bukan hal yang mutlak karena panser tersebut pernah diremajakan pada tahun 1996,'' ujarnya. (J22, ant,dtc-46)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA