logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 04 Februari 2008 MURIA
Line

WORO WORO

Waspada meski Hujan Belum Lebat

JEPARA - Meski curah hujan belum tinggi, kewaspadaan akan ancaman banjir dan tanah longsor tetap dilakukan. Musim hujan sejak akhir 2007 hingga pekan pertama Februari ini belum berakibat pada banjir besar di Jepara.

Air dari lereng Gunung Muria sebagai daerah hulu belum memenuhi sungai-sungai besar yang bermuara di pesisir Jepara. Ini berbeda dari keadaan tahun-tahun sebelumnya. "Hujan memang sering turun dalam beberapa hari ini. Namun, volume air di Kali Gelis masih rendah," ujar Joni, warga Desa Tempur, Kecamatan Keling, Minggu (3/2).

Hujan belum lebat dan tidak dalam waktu lama. Air kiriman dari lereng Muria yang melalui Kali Gelis dan kemudian menyebar ke beberapa kali sudetan, sering menjadi ukuran ancaman banjir di kawasan rendah.

Kabid Pengairan Dinas Pekerjaaan Umum Jepara Njardji ST mengatakan, volume saluran Serang Welahan Drainase (SWD) I dan SWD II belum mengkhawatirkan. Namun, curah hujan bisa meningkat di luar perkiraan. (H15-69)

Ketua BPD Lapor Bupati

PATI-Beberapa waktu lalu Forum Komunikasi Warga Desa (FKWD) Sukoharjo, Kecamatan Wedarijaksa, Pati, mengadu ke polisi soal tukar guling tanah banda desa yang dianggap tidak senilai. Hal itu diikuti laporan warga soal permohonan sertifikat tanah yang juga tidak kunjung selesai.

Belum cukup dengan itu, Sabtu (2/2), ganti Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) setempat, Soleh membuat laporan tertulis ke Bupati. Laporan itu secara umum mengungkapkan tentang keadaan di desanya yang disebut-sebut sangat memprihatinkan.

Ada beberapa poin dalam laporan tertulis yang tembusannya dikirim ke ketua DPRD, Badan Pengawas, kabag Hukum, dan juga kabag Pemerintahan. Di antaranya menyangkut pembangunan kantor desa, serta balai desa yang sudah lebih dari kurang enam bulan terhenti atau mangkrak.(ad-36)

Sumur Warga Kirig Dikaporit

KUDUS - Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus menaburkan kaporit di 68 sumur warga Desa Kirig, Kecamatan Mejobo Kudus yang beberapa waktu lalu terendam banjir, Sabtu (2/2). Hal itu dilakukan untuk meminimalkan penyakit yang muncul akibat banjir. Hal itu penting, karena umumnya sumur warga masih terbuka.

Menurut Kepala Dinas DKK Syakib Arsalan melalui Kasi Penyehatan Lingkungan Qiston, luapan air dari berbagai unsur bercampur dari satu saat banjir. Hal itulah yang membuat sumur warga berbau dan keruh. "Bisa dibayangkan kalau air dari jamban, selokan, sawah bercampur jadi satu. Pasti akan membawa banyak kuman terutama penyakit kulit dan perut," ujar Qiston saat penaburan di RT 2 RW 1 Kirig.

Fungsi kaporit setelah bercampur dengan air adalah mengikat bakteri dan membunuh kuman sehingga menjadi klorin. (H50-36)

Ratusan Penambang Berhenti Bekerja

BLORA - Derasnya arus air Bengawan Solo sejak beberapa hari terakhir menyebabkan ratusan penambang pasir tradisional di Kecamatan Cepu, Blora dan sekitarnya untuk sementara berhenti bekerja. Mereka beralih menjadi pekerja serabutan, buruh tani dan tukang becak.

Trimo (45), penambang asal Desa Sumberpitu, Kecamatan Cepu menyatakan, dia dan beberapa rekannya sudah mulai berhenti bekerja seminggu sebelum banjir besar melanda Cepu dan sekitarnya, Kamis (27/12) lalu.

Namun, karena mencari pasir merupakan pekerjaan yang hasilnya langsung bisa dirasakan, dia nekat menambang ketika arus air mulai tidak deras.

"Memasuki musim hujan seperti ini, pekerjaan mencari pasir tidak bisa diprediksi. Kadang seminggu kerja, pekan berikutnya libur," ujarnya, kemarin.

Selain di Cepu, penambang pasir tradisional tersebar di dua kecamatan lainnya, Kedungtuban dan Kradenan. Jumlah mereka ratusan orang. (H18-36)

LPJ Merkuri Diganti Bertahap

REMBANG - Lampu penerangan jalan (LPJ) Kabupaten Rembang yang selama ini menggunakan merkuri secara bertahap akan diganti dengan lampu son. Kepala Kantor Kebersihan dan Pertamanan (KKP) Ir Abdul Nasir menekankan, pergantian itu adalah upaya penghematan energi dan mengurangi beban pembayaran LPJ yang harus ditanggung Pemkab.

Disebutkannya, setiap tahun setidaknya Pemkab harus mengeluarkan dana tak kurang Rp 3 miliar atau Rp 250 juta/ bulan untuk pembayaran LPJ. "Dengan mengganti merkuri dengan lampu son, pembayaran LPJ setidaknya bisa dihemat hingga 25%," ungkapnya, kemarin. "Lampu son itu memiliki tingkat terang yang cukup bagus dan tidak kalah dengan lampu merkuri. Selain itu, warnanya juga tidak membuat mata sakit seperti lampu merkuri." (H19-69)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA