| Senin, 04 Februari 2008 | SEMARANG |
Perajin Krupuk Paramon BlotonganSehari Memproduksi Satu KuintalMESKIPUN hujan deras terkadang mengguyur Kota Salatiga dan memperlambat proses pengeringan krupuk, hal itu bukanlah menjadi hambatan bagi Ruti (60) perajin krupuk Paramon asal RT 5 RW 3 Dukuh Tegalombo, Kelurahan Blotongan, Kecamatan Sidorejo, Salatiga. Bahkan, setiap hari ia mampu memproduksi krupuk yang terbuat dari pati tersebut sebanyak satu kuintal yang kemudian dijual kepada para bakul di seputar wilayah Salatiga. ''Jika mendung dan kemudian turun hujan, proses penjemuran krupuk bisa sampai dua hari. Tapi kalau panas terik, dalam sehari, krupuk yang telah dirajang bisa cepat kering,'' terangnya. Memang kendala utama pada pembuatan krupuk pada musim penghujan ini hanya pada proses penjemuran saja. Namun demikian, dengan dibantu dua orang anaknya, ia tetap mampu memproduksi krupuk satu kuintal per hari. Dikatakannya, usaha krupuk Paramon tersebut sudah digelutinya sejak 30 tahun yang lalu. Oleh karenanya, ia kini telah memiliki banyak pelanggan tetap. ''Para pedagang atau bakul di Salatiga biasanya datang kesini. Setiap satu kg krupuk saya jual Rp 5 ribu kepada mereka,'' terang Ruti yang sudah dikarunia delapan putra dan 10 cucu ini. Lebih lanjut dikatakannya, setiap kali produksi, ia harus mengeluarkan uang Rp 450 ribu guna membeli bahan-bahan krupuk. Sedangkan untuk memasaknya, ia menggunakan kayu bakar dan minyak tanah untuk merebus adonan krupuk yang telah selesai diolah. Untuk lebih menarik, adonan tersebut diberi pewarna masakan berwarna hijau dan merah muda. ''Setelah selesai direbus, adonan itu kemudian dicetak dalam bentuk lonjongan (silinder) dan dijemur hingga kering,'' jelasnya. Bahan krupuk yang telah kering dan keras itu, selanjutnya diangin-anginkan selama tiga hari terlebih dahulu sebelum akhirnya dirajang tipis-tipis dengan menggunakan alat khusus bernama kacep. ''Kalau adonan krupuk yang telah jadi itu tidak kering, biasanya lengket ketika dirajang tipis-tipis.'' Dari hasil usahanya tersebut, ia bisa mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari walau keuntungan yang diperolehnya tidak begitu banyak. (Leonardo Agung B-16) |