| Senin, 04 Februari 2008 | SEMARANG |
270 Sukerta Ikuti Tradisi Budaya Sunan KalijagaBuang Kesialan lewat Ruwatan MassalDEMAK- Ada berbagai cara yang ditempuh seseorang untuk membuang sial, keapesan atau aura negatif. Salah satunya ikhtiar melalui tradisi budaya ruwatan, yang konon dicetuskan Sunan Kalijaga. Hingga kini, tradisi tersebut masih diuri-uri kasepuhan keluarga ahli waris Sunan Kalijaga. Seperti pada Minggu (3/2), kasepuhan mengadakan ruwatan massal untuk kali ke-19. Tradisi budaya yang diikuti 270 sukerta itu digelar di aula natabratan Kadilangu. Peserta bukan hanya dari Demak, melainkan juga dari Bali sebanyak 10 keluarga, Jakarta 12 keluarga, Sumatera Utara 1 keluarga, Semarang 12 keluarga dan lainnya. Dari segi umur, ada yang berusia 29 hari, yakni Faisal Faturdari Cagkring Demak. Sukerta yang semuaya berpakaian serba putih layaknya ihram itu mengikuti semua tahapan dengan khusyuk. Dimulai dengan pementasan wayang dengan lakon Murwokolo yang dibawakan Ki Dalang Muchsin, para sukerta duduk bersila dilingkari tali warna putih. Tali itu sebagai petanda mereka diikat dalam pelindungan agar terhindar dari aura negatif. Bau kemenyenan merebak keseluruh sudut terasa menambah kesakralan acara tersebut. Sementara itu, Sesepuh ahli waris Sunan Kalijaga, Raden Soedioko berada di balik layar wayang. Ia bersama Raden Ayu Supratini dan Raden Ruhyat Projosasmito, Ketua Pusat Paguyuban Ahli Waris Sunan Kalijaga. Sungkem Usai mengikuti pewayangan, satu persatu sukerta sungkem kepada ahli waris. Mereka kemudian sungkem kepada orang tua masing-masing. Tampak mereka begitu menghayati proses ritual dan budaya yang sedang dilakoni. Para sUkerta itu kemudian secara bergantian disiram air sapta kembang oleh ki dalang. Air tersebut adalah air yang berasal dari tujuh sumber. Selain itu, rambut, kuku dan tali pengikat pakaian dipotong dan dimasukkan ke dalam kendi. Salah seorag peserta meneteskan air mata, saat sebelum disiram air kembang. Dengan pelan kedua tangannya menengadah dan berdoa. Begitu doa selesai, ia melangkahkan kakinya ke arah ki dalang untuk disiram. Ketua Panitia Ruwatan, Drs H Suwadi MM menuturkan, ruwatan merupakan media untuk berikhtiar kepada Allah SWT agar seseorang terlepas dari segala bentuk kesialan. Terkait seberapa besar ruwatan berhasil menghilangkan sengkala, tergantung kemantapan masing-masing. ''Ini hanya media, semua yang menentukan Allah SWT. Media ini pertama kali diadakan Kanjeg Sunan Kalijaga,'' terangnya. Menurut penuturannya, banyak sukerta menyampaikan terima kasih setelah berhasil, dijauhkan sengkala dan dimudahkan berbagai urusan. Termasuk yang dapat menikah setelah lama tak menemukan jodoh. ''Tetapi sekali lagi ini tradisi budaya, jadi tinggal kemantapan hati seseorang,'' imbuh Suwadi yang sudah 19 kali menjadi ketua panitia ruwatan.(H1-41) |