| Senin, 04 Februari 2008 | SEMARANG |
Seminggu Tangkap Dua PencuriKotak Amal di Langgar Deprok Dipasang AlarmSEBAGAI sistem pendeteksi atau peringatan terhadap pencurian, teknologi alarm kini banyak digunakan. Hampir semua kendaraan bermotor, terutama mobil dilengkapi alarm. Demikian halnya dengan rumah dan brankas penyimpanan uang. Tetapi, bagaimana kalau alat yang diyakini sebagai alat pengaman paling ampuh itu dipasang di sebuah kotak amal? Tempat ibadah di Jalan Woltermongisidi, yakni Langgar Deprok, menerapkan teknologi tersebut pada kotak berukuran tinggi 60 cm, panjang 40 cm dan lebar 30 cm. Itu lantaran maraknya kasus pencurian uang di kotak amal di tempat ibadah tersebut. Pengelola mushala, Mashudi (56) menuturkan, jemaah berusaha mengantisipasi raibnya uang yang semestinya digunakan sebagai sumber dana penunjang menjalankan ibadah itu. ''Di sini (Langgar Deprok- red) kerap terjadi pencurian uang amal, sebulan rata-rata sekali. Bahkan, pernah dalam seminggu kebobolan dua kali. Jumlah uang yang diambil setiap kali terjadi pencurian adalah berkisar Rp 300.000,'' kata Mashudi, kemarin. Jemaah mushala dan warga pun, akhirnya mendapatkan ide dengan menggunakan alarm. Teknologinya sederhana, alarm akan ''menyalak'' apabila kotak amal dibuka. Namun, bunyi peringatan itu tidak dapat didengar di sekitar tempat ibadah yang berlokasi di Kelurahan Banjardowo, Genuk itu. Lantas, di mana sirene itu akan berbunyi? Ya, sirene itu dipasang di dua rumah milik pengelola mushala, Mashudi dan Widayat, yang lokasinya berjarak sekitar 15 meter dari tempat ibadah tersebut. ''Kalau sirene berbunyi di dalam mushala, pelakunya pasti cepat kabur. Untuk itu, kami merancang supaya alarm hanya dapat didengar penjaga tanpa diketahui pencurinya,'' ujar Mashudi. Dua Pencuri Alarm itu dipasang pertengahan Januari lalu. Teknologinya mirip seperti bel tamu yang biasa dipasang di depan rumah. Di ''pintu'' kotak amal dipasang switch terhubungkan kabel yang diteruskan ke rumah Mashudi dan Widayat. Kabel disembunyikan sedemikian rupa supaya ''calon pencuri'' tidak curiga. Kotak amal juga dipaku agar tidak dapat dipindah pencuri. ''Setelah alarm terpasang, kami menangkap basah dua pelaku. Mereka tidak dapat berkutik ketika warga memergokinya,'' tandas Widayat. Pencurinya adalah yaitu Ali Said (21), warga Bumo RT 3 RW 7 Wedung, Demak, tertangkap Kamis (24/1). Kedua adalah Imam (28), warga Kampung Dadapan, RT 2 RW 2 Sendangmulyo, Tembalang, tertangkap Sabtu (26/1). Kapolsekta Genuk, AKP Umi Mariati mengatakan, dari tangan tersangka petugas menyita dua obeng dan satu tang sebagai barang bukti. Kasus pencurian uang di kotak amal yang akhir-akhir ini terjadi memang ironis. Sebab, uang itu sedianya akan disalurkan kepada orang yang membutuhkan atau kekurangan. Di sisi lain, para pelaku mengaku membobol kotak amal lantaran terdesak kebutuhan ekonomi. ''Bukan untuk apa-apa pak, uang akan saya gunakan untuk beli makan,'' kata salah seorang tersangka, Ali Said, di hadapan penyidik Polsekta Genuk. (Adi Prianggoro-18) |