logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 04 Februari 2008 SEMARANG
Line

Simulasi sebelum Beraksi

KAWANAN perampok dengan sasaran nasabah bank yang dipimpin Iwan Buntung (30) ini sangatlah profesional. Para pelaku yang berjumlah enam orang ini sangatlah tahu peran dan kewajiban masing-masing.

Mereka berbagi tugas. Aman Safri (33) yang memilih sasaran di dalam bank, Iwan dan Roni kebagian mencubles ban yang ditumpangi korban, sedangkan Andy, Anda atau Andi yang menyikat uang.

Kendati terkadang, mereka tukar peran. Tapi khusus Aman, tetaplah yang menentukan korban dengan berpura-pura menjadi nasabah bank yang hendak menabung.

Padahal itu hanya siasat belaka agar dengan mudah dia melihat nasabah mana yang mengambil uang dalam jumlah besar. Begitu dapat sasaran dia langsung menelepon Iwan yang menunggu di luar bank. Aman memilih nasabah yang mengambil uang lebih dari Rp 20 juta.

"Agar kalau dibagi masing-masing anggota dapat banyak. Sekali aksi, saya biasa mendapat bagian Rp 4 juta sampai Rp 8 juta. Tergantung besar kecilnya uang yang didapat," kata Aman ketika dimintai keterangan Kasat Reskrim Polwiltabes Semarang AKBP Agus Rohmat SIK SH MHum didampingi Kanit Resmob AKP Yahya R Lihu, Minggu (3/2).

Sejak memulai serangkaian aksi awal tahun 2001, kawanan ini tetap beranggotakan enam orang. Mereka tak asal merekrut orang untuk memperlancar aksinya. Selain Iwan Buntung, Roni (32), Andy (32), Anda (33), Andi (32), dan Aman, masih terbilang satu kerabat. Tempat tinggal mereka pun satu daerah, yakni di Kecamatan Lubuk Linggau, Sumetera Selatan.

Aksi mereka boleh dibilang nggegirisi. Sedikitnya 30 kali mereka melakukan aksi. Sebagian di Bandung, Yogyakarta, dan lebih banyak di Jateng, di antaranya Purwokerto, Tegal, Kudus, dan Demak. Banyaknya TKP tersebut, membuat Iwan Cs menjadi buronan Poltabes Bandung, Polres Bantul, dan sejumlah polres di Jateng.

Kini, salah seorang anggota sindikat perampok nasabah bank tersebut, Aman, bertekuk lutut oleh petugas Resmob Polwiltabes Semarang. Lima pelaku lain, tinggal menunggu waktu untuk dibekuk. Pasalnya, polisi telah mengantongi identitas mereka. Kepada polisi, Aman blak-blakan perihal perampokan yang dia lakukan bersama rekan-rekannya.

Simulasi Merampok

Termasuk sebelum beraksi di Jateng dan Yogyakarta, mereka mengadakan simulasi terlebih dahulu. Ya, simulasi merampok uang nasabah dengan modus memecah ban mobil. Meski simulasi, mereka melakukannya dengan sungguh-sungguh. Yakni mencubles ban mobil korban saat berhenti di lampu bangjo.

Setelah itu, Iwan dan Roni memberi tahu korban kalau ban mobil yang ditumpanginya kempis. Saat korban turun, Anda dan Andi, yang mengeksekusi uang korban. Yang membedakan dengan aksi yang dilakukan secara matang, saat simulasi korban dipilihnya secara acak.

Saat simulasi yang didapat kebanyakan telepon selular dan laptop. Pernah pula mereka hanya mendapatkan nasi bungkus satu plastik.

"Simulasi itu hanya untuk mematangkan sebelum aksi yang sebenarnya. Yang mengajari semuanya adalah Iwan. Makanya korban dipilih secara acak, hasilnya pun bisa dapat apa saja," kata Aman. Simulasi tersebut dilakukan di Bandung sepanjang tahun 2000 hingga 2001 dengan aksi sebanyak 25 kali.

Di Yogyakarta, simulasi dilakukan 10 kali. Setelah dirasa mantap, sindikat ini hijrah ke Jateng. Mereka berpindah-pindah kota untuk beraksi. Setelah dapat uang mereka kabur ke kota lainya. Selama di Jateng, bas camp mereka ada di Yogyakarta dengan tinggal bersama-sama satu kos.

Kini, Aman tak bisa lagi bergabung dengan Iawan Cs, setelah AKP Yahya R Lihu berserta anggotanya, Aiptu Janadi SH, Bripka Yudi Widianto, Bripka Sugeng Peded, dan Bripka Tukino SH, menangkapnya. (Fahmi Z Mardizansyah, Riyono Toepra-41)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA