| Senin, 04 Februari 2008 | SEMARANG |
SMS Banjir ibarat KentonganBALAI KOTA - Pengembangan teknologi SMS peringatan dini banjir bukan sebagai penangkal datangnya banjir. Manfaat alat yang pembuatannya menghabiskan dana Rp 80 juta itu lebih pada upaya mencegah adanya korban akibat banjir bandang yang mungkin terjadi. Kepala Subdin Pengairan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang, Ir Fauzi MT menegaskan, adanya fasilitas pesan singkat tersebut akan lebih mempercepat datangnya informasi. Informasi berupa tinggi permukaan air serta curah hujan di daerah aliran Banjirkanal Barat dan Timur. Kondisi ini bisa segera disampaikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Apabila data menunjukkan status waspada, siaga, atau bahaya, maka penerima informasi bisa menentukan langkah-langkah penanganan. ''Fungsi SMS ini sama halnya dengan kentongan pada zaman dulu. Bila banjir akan datang, maka SMS akan disebarkan,'' katanya, belum lama ini. Hal itu dikemukakannya terkait adanya kesan pesimistis mengenai pengembangan teknologi itu saat peluncuran sistem peringatan dini itu. Kesan pesimistis muncul, karena alat ini menghabiskan biaya besar, baik dalam pembuatan serta pemeliharaannya. Di samping itu, efektivitas kegunaan juga dipertanyakan. Pasalnya, data penerima SMS itu masih terbatas di kalangan tertentu. Padahal tujuan pengembangan sistem peringatan dini banjir, yakni menyiapkan kesiagaan masyarakat di daerah rawan banjir serta mencegah timbulnya korban. Persoalan lain juga muncul dengan penempatan teknologi itu yang hanya berada di dua titik. Misalnya daerah pemukiman sekitar Kali Babon yang juga rawan dengan banjir. Pemkot diminta juga untuk memasang alat deteksi banjir di Kali Babon, yang sama-sama berhulu di Bendung Pucanggadi dengan Sungai Banjirkanal Timur. Masa Pakai Kesan pesimistis lain dari alat ini yaitu ketahanan umur alat dan pemeliharaan. Dengan biaya puluhan juta tentu harus dipertimbangkan kemampuan masa pakainya. Jangan sampai alat itu justru terbelangkai, manakala suatu saat ditemukan rusak. Apalagi kesadaran pemeliharaan fasilitas umum oleh masyarakat sendiri kurang. Seringkali alat-alat yang diletakkan di tempat yang mudah terjangkau orang banyak menjadi incaran pencuri. Menanggapi hal itu, Fauzi mengatakan, keberadaan alat peringatan dini banjir di dua tempat itu sebagai tahap permulaan. Bila berhasil, maka ke depan akan dikembangkan di tempat lain. Seperti diberitakan sebelumnya, DPU bekerja sama dengan Fakultas Teknik Undip membuat alat peringatan dini banjir, yang terdiri dari pengukur curah hujan dan tinggi muka air. Alat pengukur curah hujan ditempatkan di Kecamatan Gunungpati dan Banyumanik, sedangkan pengukur tinggi muka air di Bendung Simongan dan Bendung Pucanggading. Sedang untuk pemasangan server komputer ada di Subdin Pengairan DPU. (H22,H9-18) |