logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 04 Februari 2008 SEMARANG
Line

Perampok Nasabah Bank Dibekuk

  • Resmob Polwiltabes Kejar hingga Sumsel

SEMARANG- Satu dari enam perampok nasabah bank yang selama ini menjadi buronan Polwiltabes Bandung, Polres Bantul, dan sejumlah polres di Jateng, berhasil dibekuk petugas Resmob Polwiltabes Semarang.

Tersangka bernama Aman Safri (33). Dia ditangkap saat berada di tempat asalnya, Jl Bingau No 24, Kelurahan Talang Bandung Kanan, Kecamatan Lubuk Linggau, Sumatera Selatan, Sabtu (2/2).

Selama sepekan lebih, petugas Resmob Polwiltabes Semarang memburu sindikat tersebut hingga ke Lubuk Linggau, Sumetera Selatan. Sedangkan lima pelaku lain yang juga masih satu kerabat dengan tersangka dan tinggal satu kampung yang sama berhasil lolos.

Ditengarai, sebagian dari mereka masih menetap di Pulau Jawa. Mereka adalah Rudi alias Iwan Buntung (30), Roni (32), Andy (32), Anda (33), dan Andi (32). Dalam sindikat tersebut, Iwan Buntung dipercaya sebagai pimpinanya.

"Para tersangka kami kejar hingga Sumatera Selatan, setelah kami ketahui mereka tinggal di daerah Lubuk Linggau. Kawanan ini khusus merampok nasabah bank yang diketahui mengambil uang dalam jumlah banyak," ungkap Kasat Reskrim Polwiltabes Semarang AKBP Agus Rohmat SIK SH MHum didampingi Kanit Resmob AKP Yahya R Lihu, saat menggelar kasus tersebut, Minggu (3/2) siang.

AKP Yahya R Lihu berserta anggotanya, Aiptu Janadi SH, Bripka Yudi Widianto, Bripka Sugeng Peded, dan Bripka Tukino SH, beberapa kali mengubek-ubek Yogyakarta setelah mendapat informasi, kawanan ini tinggal di kota pelajar tersebut. Hingga akhirnya, tersangka diketahui pulang ke tempat asalnya di Lubuk Linggau, Sumatera Selatan.

Berpindah-pindah

Sindikat ini tergolong profesional. Mereka selalu berpindah-pindah lokasi dan tempat tinggal selama di Pulau Jawa. Sebelum beraksi kawanan ini merencanakan segala sesuatunya dengan rapi. Masing-masing tersangka mempunyai tugas dan kewajiban. Aman misalnya, bertugas sebagai pencari sasaran dengan berpura-pura hendak mengambil uang di bank.

Ketika diketahui ada nasabah yang mengambil uang dalam jumlah banyak, dia segera mengabarkan ciri-ciri orang yang bakal mereka jadikan korban.

Termasuk ciri-ciri bentuk tubuh, pakaian yang dikenakan, dan mobil yang ditumpanginya. Setelah itu, Iwan dan kawan-kawan bersiap-siap menjalankan aksinya.

"Modus yang digunakan kawanan ini dengan mencari kelengahan korban dan membuntuti seusai mengambil uang di bank. Mobil yang ditumpangi korban, bannya ditubles dengan kunci T hingga kempis saat berhenti di lampu bangjo. Saat mobil berhenti dan korban turun, uang langsung diambil dan mereka segera kabur," kata Agus Rohmat.

Sindikat pimpinan Iwan Buntung tersebut beraksi lebih kurang 30 kali. Mereka sering melakukannya di sejumlah daerah di Bandung, Yogyakarta, dan Jateng. Mereka sangat selektif memilih sasaran, yakni korban yang diketahui mengambil atau membawa uang dia atas Rp 20 juta. Di Jateng, tahun 2003 kawanan Iwan Buntung pernah menyikat uang Rp 35 juta milik nasabah bank BCA di Purwokerto.

Uang senilai Rp 50 juta milik nasabah BCA Kudus dirampok tahun 2003. Tahun yang sama mereka merampok uang nasabah BNI di Purwokerto senilai Rp 20 juta. Di Tegal, mereka beraksi tiga kali dengan mendapat total uang Rp 85 juta terhadap seorang nasabah bank BNI dan dua nasabah BCA. Tahun 2005, Andi Buntung menyikat uang Rp 125 juta milik dua nasabah BRI Demak.

Di Jl Lingkar Demak, kawanan ini juga merampok uang Rp 200 juta milik BKD Pati yang dibawa pegawainya saat sedang istirahat makan. Kali terakhir mereka beraksi di Bantul Yogyakarta dengan membawa kabur uang Rp 20 juta.(H21,D12-41)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA