| Senin, 04 Februari 2008 | INTERNASIONAL |
Stallone ''Rambo'' Tantang Junta MyanmarLONDON - Sylvester Stallone (61) menyatakan ingin datang ke Myanmar dan menantang junta militer berdebat mengenai hak asasi manusia. Sebelumnya media melaporkan bahwa film Rambo terbarunya telah menjadi inspirasi bagi para aktivis prodemokrasi Myanmar. ''Sungguh menyenangkan bahwa orang-orang yang berani itu mendapatkan inspirasi dari sumber yang aneh, yakni film Amerika. Mereka menggunakan beberapa kata dalam film itu sebagai yel-yel dalam aksi-aksi demonstrasi mereka. Bagi saya ini merupakan masa-masa yang paling membanggakan,'' kata Stallone. Warga di Yangon menceritakan bahwa polisi telah melarang peredaran DVD Rambo tersebut. Warga Myanmar menyukai kalimat ''Live for nothing. Die for something'' (Hidup tanpa arti. Gugur lebih berarti) dalam dialog film tersebut. Dalam film itu, tokoh John Rambo menyelamatkan sekelompok misionaris Kristen dari kekejaman tentara Myanmar. Stallone mengatakan, dia mulai melirik isu Myanmar sebelum negara itu menjadi pusat perhatian dunia ketika junta militer secara keji menumpas aksi-aksi para biksu Buddha pada September lalu. Yangon menyatakan, korban tewas dalam insiden September itu mencapai 15 orang. Namun kalangan diplomat dan kelompok kemanusiaan menduga jumlah korban tewas lebih banyak lagi, bahkan mencapai ratusan orang. Suku Karen ''Orang akhirnya tahu betapa kejamnya mereka,'' kata Stallone. Film Stallone sebenarnya mengisahkan perjuangan suku Karen di Myanmar timur. Lembaga nirlaba Christian Aid yang berkantor pusat di Inggris menyatakan bahwa Karen dan kelompok-kelompok suku lainnya telah berkali-kali direlokasi secara paksa oleh militer. Ribuan warga mereka telah dipenjara, disiksa, atau dibunuh. Banyak kelompok etnis Myanmar berjuang untuk mendapatkan otonomi lebih luas. Stallone mengatakan telah berbicara dengan sebagian kelompok dan beberapa aktivis demokrasi yang juga ikut bermain dalam film itu. Dia juga menantang junta militer untuk mengundangnya ke Myanmar. ''Berilah saya kesempatan untuk melakukan tur ke Myanmar. Kami akan memperlihatkan, tempat mayat-mayat itu dikuburkan. Atau, mari kita berdebat di Washington, dalam satu sesi sidang Kongres. Namun saya tidak yakin, semua itu bisa terlaksana,'' tuturnya.(rtr-ben-25) |