| Senin, 04 Februari 2008 | EKONOMI |
Stagnan, Okupansi Hotel BerbintangSEMARANG-Tingkat hunian atau okupansi hotel berbintang di Jawa Tengah pada 2007 dinilai Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jateng Heru Isnawan, cenderung stagnan di kisaran 40 persen. Menurut dia, kondisi serupa sebenarnya telah berlangsung sejak dua tahun terakhir, menyusul belum membaiknya kondisi ekonomi makro serta relatif lambatnya pengembangan infrastruktur besar. ''Keseluruhan hotel di Jateng sekitar 9 ribu, sebanyak 96 di antaranya hotel berbintang. Tapi khusus hotel berbintang okupansinya cukup lumayan sekitar 50-60 persen,'' jelas Heru belum lama ini. Di Semarang sendiri setidaknya terdapat 2.500 kamar di seluruh hotel berbintang. Tingkat okupansi bintang satu dan dua berkisar 40-50%, dan bintang tiga ke atas 60-70%. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng pada November 2007 tercatat tingkat penghunian kamar (TPK) 30,44% mengalami kenaikan 0,37 poin dibanding TPK November 2006. ''TPK tertinggi terjadi pada hotel bintang lima sebesar 55,54 persen dan terendah pada hotel bintang empat sebesar 14,20 persen,'' kata Kepala BPS Jateng Indrarto Hadijanto, Jumat (1/2). Destinasi Bisnis Sulitnya menaikkan okupansi hotel menurut Heru, bisa disebabkan banyak faktor. ''Misalnya, penerbangan langsung ke luar negeri yang dari dulu hanya Singapura. Artinya, Semarang tak termasuk destinasi bisnis antarnegara. Apalagi minim sekali tempat tujuan wisata.'' Dia menambahkan, relatif mahalnya rate hotel di Semarang dinilai bisa menjadi salah satu penyebabnya, karena dibanding Surabaya atau Yogyakarta, tarif di Semarang lebih mahal. Soal rate hotel, Director of Sales Hotel Grand Candi Jack Yaaroo Zega berpendapat, seiring kenaikan harga-harga secara otomatis memengaruhi cost produksi hotel. (J14-33) |