| Senin, 04 Februari 2008 | EKONOMI |
Saatnya Nelayan DiberdayakanCILACAP-Sebagai negara maritim, mestinya nelayan Indonesia makmur. Kenyataannya, dari sekitar 40 juta penduduk miskin, 60 persennya nelayan. Sudah saatnya pemerintah memberdayakan nelayan, minimal menerima perlakuan seperti yang dinikmati petani. ''Selama ini sudah terbentuk paradigma agraris, sehingga negara cenderung mengabaikan sektor kelautan. Padahal laut adalah masa depan yang sebenarnya,'' kata Ketua Umum Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI), Yussuf Solichien Martadiningrat, di sela kunjungan kerja ke Cilacap, baru-baru ini. Yussuf menyebutkan, bentuk perlakuan yang tidak adil itu terlihat dari pemberian subsidi yang sangat besar terhadap pertanian, seperti subsidi pupuk, benih, dan obat-obatan. Di lain pihak perikanan atau nelayan hampir tidak mendapat subsidi. ''Yang diperoleh hanya subsidi solar untuk nelayan, dengan harga Rp 4.300 per liter, itu pun suplainya tersendat. Akibatnya, nelayan mencampur solar dengan minyak tanah, meski diketahui itu dapat mempercepat kerusakan mesin,'' katanya. Yussuf mengusulkan, saatnya pemerintah mencari terobosan untuk BBM nelayan. Misalnya, memaksa kontraktor asing minyak di Indonesia menjual sebagian minyaknya kepada nelayan. ''Ini bisa menekan ongkos transportasi, mengingat BBM yang kita konsumsi diimpor dari Timur Tengah.'' Buruh Nelayan Menurut dia, nelayan selama ini termarginalkan, sehingga kemiskinan sangat melekat. Kemiskinan membuat mereka lebih banyak menjadi buruh nelayan, sebab tidak memiliki modal dan alat produksi memadai. Ia menegaskan, nelayan harus mendapat kemudahan berusaha. Pemerintah bisa memberikan insentif atau bantuan dalam bentuk lain untuk memberdayakan nelayan. Yussuf juga menyoproti pemberantasan illegal fishing (pencurian ikan) yang salah kaprah. Dia menegaskan, banyak nelayan yang dianggap melakukan pencurian ikan. Padahal nelayan tidak sepatutnya dituduh seperti itu, sebab lokasi mereka menangkap ikan masih di wilayah Indonesia. ''Kami setuju nelayan harus patuh, tapi aparat hendaknya juga jangan memperlakukan mereka seolah pencuri ikan. Kapal-kapal asing yang beroperasi di wilayah laut Indonesia yang harus diawasi,'' kata mantan Komandan Pangkalan Utama Maluku dan Irian ini. Kepala Pelabuhan Perukanan Samudra Cilacap, Julius Silean, mengatakan, tahun 2007 penggunaan minyak tanah (kerosin) untuk campuran solar motor kapal terus dilakukan nelayan. Sejak Februari 2007 total minyak tanah yang digunakan mencapai 3.038,05 kiloliter. (wa-33) |