| Senin, 04 Februari 2008 | EKONOMI |
BI Isyaratkan Tahan Suku BungaJAKARTA-Bank Indonesia (BI) mengisyaratkan akan menahan penurunan suku bunga acuan (BI rate), menyusul laju inflasi Januari 2008 yang melampaui ekspektasi awal. Menurut Deputi Gubernur BI Budi Mulya di Jakarta akhir pekan lalu, inflasi Januari yang mencapai 1,77% lebih tinggi dari rata-rata inflasi Januari pada tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini mengharuskan BI dan pemerintah bekerja lebih keras pada bulan-bulan mendatang untuk mencapai target inflasi 2008 sebesar lima plus minus satu persen. Dikatakan, BI akan berupaya mengarahkan kebijakan moneter melalui instrumen suku bunga untuk mengarahkan ekspektasi inflasi. Khususnya inflasi inti, yang dinilainya juga relatif tinggi, yaitu 1,5% per Januari lalu. Sementara secara year on year, inflasi inti Januari 2008 dibandingkan Januari 2007 mencapai 7,1%, di atas tingkat inflasi rata-rata 6%. ''Sesuai kewenangan BI, kami akan arahkan inflasi melalui suku bunga yang kebijakannya ditetapkan dalam RDG (rapat dewan gubernur) setiap bulan. Ini harus dibawa turun. Kalau tidak, target lima plus minus satu bisa tidak tercapai,'' paparnya. Meski demikian, sambung dia, BI tidak akan mengubah target inflasi 2008 yang telah disepakati bersama pemerintah. Target itu tetap akan menjadi jangkar kebijakan suku bunga BI ke depan. Meski Bank Sentral AS telah memangkas suku bunganya (The Fed Fund rate) sebesar 125 basis poin ke level 3% di akhir Januari 2008, BI tak akan serta merta mengikuti. Di Luar Prediksi Terpisah, pengamat perbankan Ryan Kiryanto mengatakan, dirinya yakin inflasi Januari 2008 yang mencapai 1,77% (month-on-month) dan 7,36% (year-on-year) di luar prediksi ekonom. Angka itu di luar perkiraan, karena bahan makanan menyumbang 2,77%, padahal biasanya hanya 2%. Kenaikan harga makanan yang menjadi penyebab lonjakan inflasi menunjukkan kegagalan pemerintah dalam mengendalikan kenaikan harga, terutama kedelai melalui OP dan kebijakan restriktif lain. Seperti pengenaan pajak ekspor atau domestic market operation (DMO). Inflasi tinggi itu, lanjut dia, menyulitkan Bank Indonesia untuk menurunkan BI rate pada Februari 2008 ini. Jadi BI rate akan tetap bertahan di level 8%. Sementara itu, mulai Februari 2008, BI memperkenankan bank umum mempergunakan instrumen surat utang negara (SUN) dalam transaksi repurchase agreement (Repo) sebagai bagian dari operasi pasar terbuka (OPT).(bn-33) |