logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 02 Februari 2008 NASIONAL
Line

JK: Poco-poco Lebih Baik dari Dansa


SM/dok Tjahjo Kumolo Jusuf Kalla

JAKARTA- Kritik Ketua Umum DPP PDI-P Megawati Soekarnoputri bahwa pemerintahan SBY-JK seperti menari poco-poco mendapat respons dari Wapres Jusuf Kalla. JK pun membalas. Tarian poco-poco dinilai lebih baik daripada dansa sambil jual gas murah. ''Poco-poco itu kan sehat. Itu gerak bersatu. Lagipula poco-poco itu lebih baik dari tari dansa yang hanya berputar-putar sambil jual gas yang murah," kata Kalla dalam jumpa pers di Istana Wapres, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (1/2).

"Ngerti kan maksudnya?'' ujar JK menyindir saat menjadi presiden, Mega menjual gas di Papua dengan harga yang murah.

Terpisah, Ketua Fraksi PDI-P Tjahjo Kumolo mengatakan kritik PDI-P sebagai partai oposisi bukan asal kritikan, namun berdasarkan data valid atas evaluasi kebijakan pemerintahan SBY.

"Kritik PDI-P sebagai partai oposisi terhadap kebijakan pemerintah harusnya diterima dengan wajar, bukan dengan emosi," ujarnya di sela-sela safari politik Mega di Desa Perancak, Martapura, Sumatera Selatan, Jumat (1/2).

"Apa sekarang sudah sesuai dengan realitas dan janji-janji kampanye. Apa ada kesalahan manajemen dan ada kebijakan yang salah ditafsirkan menteri," tanya Tjahjo.

Tjahjo merujuk pada pemerintahan Mega yang hanya 2,5 tahun berkuasa, APBN mencapai Rp 375 triliun. "Kalau dianggap belum optimal, wajar, tapi kita sudah mempersiapkan," kata Tjahjo.

Belum Ikhlas

Sementara itu Ketua umum DPP Kader Muda Demokrat (KMD) Asvin Nasution menilai dengan kritikan seperti itu Mega belum ikhlas atas kekalahannya dalam Pilpres 2004 lalu.

"Kita harapkan Ibu Megawati mau belajar dan berkaca pada pengalamannya saat memimpin. Kalau begini sikapnya menunjukkan beliau belum ikhlas kalah," kata Asvin.

Menurut dia, pemerintahan SBY-JK telah menunjukkan usaha maksimal untuk mensejahterakan rakyat. Angka pengangguran berkurang dan angka kemiskinan menurun lebih satu persen.

"Naiknya SBY-JK menambah iklim yang baik untuk pembangunan. Angka pengangguran menurun dari 11,1 juta orang menjadi 10,45 juta orang tahun 2007. Angka kemiskinan turun dari 17,75 menjadi 16,58 tahun 2007. Ini kan bukti nyata," terangnya

Dia menambahkan, saat Megawati menjadi presiden, banyak BUMN-BUMN strategis dan pulau yang lepas dari pangkuan NKRI.

Padahal jargon PDI-P selama ini adalah menjaga keutuhan NKRI dan menjaga aset nasional untuk kesejahteraan rakyat.

"Yang harus diingat, saat Ibu Mega memimpin, Indonesia kehilangan BUMN strategis seperti Telkomsel dan Indosat. Dua 2 pulau, Sipadan dan Ligitan lepas dari NKRI. Ini mencerminkan lemahnya pemerintah di dalam dan luar negeri," katanya.

Asvin berharap sebagai tokoh bangsa, Megawati lebih arif dan dewasa dalam berpolitik. (dtc-77)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA