logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 31 Januari 2008 SALA
Line

Biogas, Alternatif Atasi Kelangkaan Minyak Tanah

SEBAGAI wilayah pengembangan sapi perah dan sapi potong, Kabupaten Boyolali memiliki potensi besar untuk pengembangan biogas. Bila dikembangkan secara serius, energi alternatif itu bisa mengurangi ketergantungan terhadap minyak tanah.

Saat ini terdapat ratusan ribu ternak sapi di Kota Susu. Dengan demikian, bahan biogas yang berupa limbah kotoran sapi tersedia cukup melimpah. Sayangnya, baru sebagian kecil yang dimanfaatkan peternak untuk proyek biogas. Hanya beberapa warga yang memanfaatkannya, itu pun tidak rutin.

Baru setelah harga minyak tanah meroket dan terjadi kelangkaan di pasaran, keberadaan biogas kembali dilirik masyarakat. Menurut H M Junaidi Chasani, Direktur Biogas and Natural Threatment (Bionat), di Boyolali terdapat sekitar 150 unit pengolah limbah itu.

Dijelaskan, biogas adalah bahan bakar yang berasal dari limbah kotoran sapi yang diubah menjadi gas, yang dapat digunakan untuk bahan bakar memasak maupun penerangan. Bahkan sisa pengolahan kotoran sapi juga bisa dimanfaatkan menjadi pupuk kandang yang siap digunakan.

Biogas dihasilkan dari fermentasi bakteri metanogen bacteria dan asetonogen bacteria. Satu unit tempat pengolahan biogas bisa menghabiskan dana sekitar Rp 40 juta untuk ukuran diameter 4,8 m dan kedalaman 3 m, atau untuk kapasitas kotoran 25 ekor sapi.

"Pengolahan limbah tersebut juga dimaksudkan untuk mengatasi dampak lingkungan yang terjadi, mengingat kotoran sapi selama ini tidak dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat. Kotoran melulu hanya digunakan untuk pupuk tanaman di ladang."

Bantuan Alat

H Kamali, warga Desa Sukorame, Kecamatan Musuk, menyambut positif bantuan unit alat pengolahan biogas. Satu unit alat pengolahan limbah itu dapat mencukupi kebutuhan energi bagi 5 KK, yang penyalurannya menggunakan pipa-pipa paralon yang dihubungkan dengan kompor gas maupun lampu.

Lampu yang digunakan mirip petromaks, hanya bahan bakarnya tidak menggunakan minyak tanah seperti biasanya. "Ini menggunakan biogas, jadi lebih praktis."

Dia berharap bantuan dari pemerintah pusat bisa bermanfaat bagi masyarakat. Selain itu bisa memacu para peternak untuk lebih intensif mengelola ternak sapinya.

Sebab tak hanya hasil susu atau dagingnya yang diperoleh secara langsung. Kotoran sapi juga bisa dimanfaatkan untuk biogas. Sedangkan limbahnya bisa dipakai untuk pupuk tanaman.

"Sebenarnya konsep biogas sudah dikenal masyarakat cukup lama. Namun karena kurangnya sosialisasi dari pemerintah, banyak peralatan yang mangkrak dan rusak.

"Mudah-mudahan dipilihnya Desa Sukorame sebagai percontohan pengolahan biogas bisa memacu semangat masyarakat untuk turut serta mengembangkan." (Joko Murdowo-63)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA