| Kamis, 31 Januari 2008 | NASIONAL |
Filosofi Gunung untuk Astana Giribangun
Sepintas Astana Giribangun tak ubahnya makam raja. Cobalah bandingkan dengan Astana Mangadeg. Atau dengan Astana Pajimatan Imogiri. Nyaris sama bukan? Lalu mengapa HM Soeharto membangun kompleks pemakaman keluarga yang seperti itu? SIAPA PUN memang akan teringat dengan makam-makam raja Jawa ketika sedang berada di Astana Giribangun. Letaknya yang berada di atas bukit, lalu pemetaan lokasi yang serupa piramida, adalah di antara tengara yang juga ditemui, baik di Astana Pajimatan maupun Astana Mangadeg. Jika demikian, adakah Astana Mangadeg memang ngemba makam raja? Entahlah. Sebab seperti kabar yang pernah beredar selama ini, mungkin memang hanya sebatas keinginan dari almarhumah Ibu Tien. Sebagai trah dari Pura Mangkunegaran, dia memang berhak untuk disemayamkan dekat dengan makam leluhurnya. Termasuk dengan Pangeran Sambernyawa. Namun terlepas dari itu, ada hal menarik ketika kompleks pemakaman itu berada di sekitar gunung. Terlebih lagi Gunung Lawu. Menurut penuturan MT Arifin, pelaku dan pemerhati budaya Jawa, gunung memang memiliki arti khusus bagi masyarakat Jawa. ''Sejak zaman neolitikum, gunung adalah sama dengan tempat spiritual. Dan itu masih terus berlanjut hingga di zaman para raja-raja dulu,'' katanya. Kekhususan gunung di zaman masyarakat Jawa lampau itu di antaranya ditandai dengan terdapatnya banyak candi sebagai tempat ritual. Kalau di Gunung Lawu, misalnya Candi Sukuh dan Candi Cetho. Di sana pengertian atau hakikat tentang hubungan manusia dengan Tuhan itu banyak terlukiskan dalam berbagai simbol. ''Itulah mengapa kemudian makam-makam raja lebih banyak ditempatkan di sekitar gunung. Misalnya seperti makam raja dinasti Mataram di Imogiri,'' katanya. Sementara Gunung Lawu juga memiliki arti khusus dalam sejarah kerajaan di Indonesia. Sebab menurut MT Arifin, sejak zaman Majapahit, gunung tersebut juga sudah ditempatkan secara khusus. Bahkan pasca-Perang Paregreg, banyak warga yang berpindah ke sekitar Gunung Lawu. Pengertiannya saat itu boleh jadi untuk mencari perlindungan. Mitologi Dalam wilayah mitotologi, Gunung Lawu juga dipandang sebagai pusat kekuatan gaib. Hal itu sebenarnya juga tak aneh, jika mengingat gunung itu sebagai Gunung Mahendra. Menurut MT Arifin, Mahendra adalah tempat perpindahan para dewa dari Hindustan ke Jawa. ''Dari situ saja bisa dibayangkan bagaimana Gunung Lawu itu ditempatkan oleh masyarakat Jawa,'' tandas dia. Dalam citra yang lain, Lawu juga dipandang sebagai penyatuan kebudayaan Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Demak. Hal itu kemudian menyisakan peradaban masyarakat yang cukup menarik. Misalnya dengan ritual-ritual masyarakat yang simbolisasinya nyaris sama dengan kebudayaan masyarakat di Pulau Bali. ''Dari sana kemudian dikenal dengan Sunan Lawu. Juga dengan Raja Putra Dewa Gunung. Itu diyakini oleh masyarakat,'' katanya. Kekhususan yang lain tertengarai di zaman Keraton Surakarta Hadiningrat. Dalam sejarahnya, gunung tersebut menjadi tempat untuk menggembleng spiritual kaum bangsawan keraton. Bahkan seorang calon raja juga harus melakukan ''laku'' di sana. Khususnya di Arga Dumilah, yang sangat dikenal sebagai tujuan akhir dalam laku tirakat. Sebagai manusia Jawa yang juga banyak belajar tentang kejawen, bukan tidak mungkin HM Soeharto juga memiliki reverensi tentang filosofi gunung tersebut. Paling tidak, sebagaimana diungkapkan oleh Bupati Wonogiri Begug Purnomosidi yang dikenal dekat dengan keluarga Cendana, penguasa Orde Baru itu memang menghargai budaya leluhur. ''Beliau muslim taat yang tak meninggalkan budaya leluhur,'' katanya. Demikianlah, boleh jadi Astana Giribangun memang didirikan karena memang terkait dengan filosofi gunung. Namun bisa jadi juga karena alasan yang lain. Namun sekali lagi, tempatnya yang berada di bukit Giribangun memang menjadikan kompleks pemakamannya terasa berbeda dengan makam umum.(Wisnu Kisawa-62) | ||||