| Kamis, 31 Januari 2008 | MURIA |
Ditemukan, Bahan Baku Tempe dari Saga
GONJANG-GANJING sebuah produk makanan bernama tempe, ternyata hingga kini belum ada pemecahan tuntas. Terutama dalam mengatasi mahalnya harga bahan bakunya, kedelai. Padahal, dampak dari itu banyak pembuat tempe yang kolaps atau terpaksa mengurangi produksinya. Prinsip asal masih bisa bertahan agar tidak kehilangan para pelanggan adalah pilihan satu-satunya. Karena itu, bicara soal untung untuk tetap membuat tempe saat ini harus dikesampingkan. Menyikapi kondisi tersebut, Kantor Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Kabupaten Pati mencari terobosan mencoba membuat tempe dari bahan baku kedelai dicampur ketela. Karena formula itu tetap membutuhkan kedelai, kata Kepala Kantor Litbang Ir Mokhtar Effendi MM, maka ujicoba yang pernah dilakukan terpaksa dihentikan. Apalagi, dari formula itu berdasarkan perhitungan ekonomis juga kurang menunjang pendapatan para pembuat makanan tersebut. Sebab, jika dihitung untuk membuat tempe 25 buah dengan kemasan daun pisang membutuhkan 400 gram kedelai, yang harga per kilogram Rp 8.000. Sehingga, untuk bahan baku itu pembuat tempe sudah mengeluarkan biaya Rp 3.200, ditambah ketela 300 gram dengan harga Rp 1.000/kilogram sudah Rp 300. Jika ditambah ragi Rp 50, dan bahan bakar serta kemasan Rp 500, maka total seluruh biaya produksi Rp 4.050. "Dengan demikian, harga pokok penjualan (HPP) untuk per bungkus tempe itu harus Rp 162." Sudah Dilakukan Ujicoba pembuatan tempe yang juga sudah dilakukan, katanya, adalah formula kedelai dan ampas kelapa. Dengan kapasitas produksi yang sama untuk biayanya memang sedikit lebih rendah, yaitu hanya Rp 3.750, sehingga HPP per bungkus tempe dengan bahan itu adalah Rp 150. Akan tetapi yang menjadi kendala, ketika hasil ujicoba itu ditawarkan kepada pembuat makanan, sama sekali tidak ada yang bersedia. Alasannya, menyangkut rasa sehingga mereka memilih untuk mengurangi produk tempe yang dihasilkan. Kemudian dua staf di Kantor Litbang, Sistiyani SE dan Agil Tri Cahyani AMd, mempunyai gagasan untuk membuat makanan itu dengan bahan baku murni dari biji saga. Meskipun belum diketahui secara pasti, berapa banyak jumlah pohon saga di daerahnya tapi beberapa wilayah kecamatan seperti Pucakwangi, Batangan, Jaken, Jakenan, dan Juwana, dipastikan banyak terdapat pohon itu. Cara pembuatanya pun tak beda jauh dengan proses pembuatan tempe dengan bahan baku kedelai, tapi ada tambahan sedikit pekerjaan. Yakni, merendam biji saga selama 24 jam, kemudian membersihkan bagian kulit luarnya. Biji saga yang sudah bersih dari kulit itu kemudian dikukus, dan setelah didinginkan untuk proses peragian. Setelah itu membungkusnya dalam kemasan daun pisang, maka tempe yang dihasilkan pun rasanya tak beda jauh dengan yang menggunakan bahan baku kedelai. Untuk membuat 13 buah/bungkus tempe saga dibutuhkan bahan baku 500 gram biji saga Rp 1.250, ragi Rp 50, bahan bakar dan kemasan Rp 450 sehingga total biaya produksi Rp 1.750. "Karena itu, HPP tempe saga per 13 buah hanyalah Rp 135," imbuhnya.(19) |