| Kamis, 31 Januari 2008 | BANYUMAS |
Lahan Tanaman Jeruk Makin BerkurangBUKATEJA-Selain sebagai sentra penghasil tepung tapioka, Desa Cipawon, Kecamatan Bukateja dikenal sebagai sentra penghasil jeruk. Namun akhir-akhir ini luas lahan tanaman itu makin berkurang karena banyak petani beralih ke tanaman lain. "Dulu luas tanaman jeruk di sini ratusan hektare, tetapi kini tinggal sekitar 10 hektare," ungkap Sudarman, Kepala Desa Cipawon, kemarin. Petani, lanjut dia, beralih menanam palawija dan bunga melati gambir. Bagi mereka, jeruk sudah tidak lagi menjanjikan. Di samping karena dinilai tak menguntungkan, umur tanaman yang hanya mampu berproduksi dalam waktu singkat turut menjadi salah satu pemicunya. "Tanaman jeruk hanya mampu bertahan dua tiga kali panen. Setelah itu harus diremajakan," tuturnya. Jika melewati batas umur itu masih dipertahankan, hasil panennya tidak menggembirakan. Bahkan cenderung tidak berbuah. Kenyataan itulah yang menyebabkan para petani lebih tertarik menanam palawija atau tanaman bunga melati gambir. Hama Jamur Serangan hama berupa jamur, kata dia, juga menjadi penyebab petani beralih ke tanaman lain. Hama itu susah diatasi dan sangat merugikan petani. Dia mengakui sebenarnya jeruk hasil budi daya petani Desa Cipawon rasanya manis, karena mereka lebih banyak menggunakan pupuk kandang daripada pupuk kimia. "Dengan pupuk kandang rasa jeruk akan lebih manis," ujarnya. Bupati Triyono Budi Sasongko mengatakan Bukateja dikenal sebagai sentra tanaman jeruk. Rata-rata wilayah itu mam- pu menghasilkan 17.078 ton/tahun. Budi daya jeruk di kecamatan itu belum digarap secara optimal oleh petani. Hampir sama dengan budi daya tanaman buah lainnya, masalahnya terletak pada pengelolaan yang masih bersifat tradisional dan belum menggunakan teknologi. "Sama seperti yang dihadapi petani duku Kalikajar, pembibitan menjadi kendala yang dihadapi oleh petani jeruk," imbuhnya. (H48-27) |