| Rabu, 30 Januari 2008 | MURIA |
Penerapan Rencana Sekolah Belum MaksimalKOTA - Rencana perkembangan sekolah/madrasah (RPS/M) di sejumlah sekolah menengah pertama di Kudus dirasa belum maksimal. Belum maksimalnya program pendidikan yang bermitra dengan DBE 1 (Decentralized Basic Education) USAID itu dapat dilihat dari bebarapa indikator. RPS/M yang sudah diterapkan empat sekolah (SMPN 1 Kaliwungu, SMPN 1 Gebog, MTs N Prambatan Kidul, dan MTs Al Hidayah Gebog) setahun sebelumnya itu, masih punya kekurangan. Terutama sarana dan prasarana, keuangan dan pembiayaan. Selain itu indikator budaya dan lingkungan, peran serta masyarakat dan kemitraan, serta rencana kerja lain banyak yang belum terlaksana. Menurut district fasilitator dari DBE 1 USAID, Adang Sunarko, belum maksimalnya RPS/M disebabkan masih minimnya dukungan stakeholder. "Maka sebenarnya peran sekolah untuk menggalang dukungan dari stakeholder, hal ini penting guna meningkatkan sarana dan prasarana sekolah," katanya, saat Lokakarya RPS/M di lantai II Setda Kudus, Selasa (29/1). Namun, ada juga peningkatan dari kesiswaan, kurikulum, dan kegiatan pembelajaran serta pendidikan dan pengembangan. Dari evaluasi tersebut jumlah kehadiran siswa meningkat sampai 98%. Selain itu, dalam pengajaran dan kurikulum yang mengutamakan keaktifan siswa, ada peningkatan 20% di masing-masing point pembelajaran. Dalam hal kualifikasi kompetensi perkembangan mencapai 50%. Sedangkan untuk pemenuhan standar menurut Permendiknas Nomor 19 Tahun 2007, 82% indikator sudah terpenuhi. "Dari delapan indikator Permendiknas, yang belum terpenuhi adalah yang berhubungan dengan peningkatan mutu pendidikan anak," ujar salah seorang district fasilitator (DF) wilayah Kudus, Jumadi. Senada dengan Adang, ia mengatakan, bentuk kerja sama antara sekolah dan masyarakat memang belum tereralisasi. Misalnya, peran komite sekolah yang berhubungan dengan organisasi di luar sekolah. (H50-54) |