logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 30 Januari 2008 BUDAYA
Line

Pak Harto di Mata Ki Anom Suroto

SUATU ketika di Istana Negara, Jakarta, Ki Anom Suroto terperangah. Dia tak habis pikir, Soeharto, sang presiden saat itu, begitu teteh menjelaskan tentang Sandhitama Kawedhar dan Baghawat Gita. ''Itulah yang membuat saya tak bisa melupakan Pak Harto. Dan, saya pun jadi makin mengerti bagaimana sebenarnya beliau,'' ujar dalang bersuara emas itu.

Ki Anom menuturkan tak semua dalang bisa mengungkapkan secara jelas dan benar hakikat Sandhitama Kawedhar dan Baghawat Gita. Sebab wejangan Prabu Kresna kepada Basukarno (Sandhitama Kawedhar) dan kepada Arjuna (Baghawat Gita) memang mengandung ajaran wigati di jagat pewayangan.

Wayang sebagai penyampai nilai moral, kata dia, memiliki banyak ajaran tentang nilai kemanusiaan, termasuk Sandhitama Kawedhar yang mengungkap tabir sikap Basukarno. Juga Baghawat Gita yang berkisah tentang bagaimana semestinya kesatria bersikap di medan laga.

''Pak Harto mampu menyampaikan dua ajaran itu begitu jelas. Bahkan mampu merelevansikan dengan kondisi bangsa Indonesia,'' ujar dalang yang tinggal di Timasan, Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo, itu.

Tak pelak, sosok pemimpin Orde Baru itu menjadi sedemikian menarik bagi Ki Anom dan para dalang lain. ''Tak aneh jika para dalang menganggap beliau sosok anutan.'' Soeharto juga dikenal para dalang sebagai pencinta wayang. ''Beliau tak segan nanggap wayang, meski pertunjukan lebih sering digelar di Gedung Kridha Bakti,'' ujar Ki Anom.

Masa Keemasan

Dia menilai masa keemasan wayang terjadi ketika Soeharto menjabat presiden. Masa itu, kehidupan wayang sedemikian dinamis, antara lain ditandai dengan kesemarakan pertunjukan wayang di berbagai tempat. ''Kecintaan itu tak hanya diwujudkan dengan nanggap wayang. Beliau juga peduli kepada para dalang,'' katannya.

Dia menuturkan setahun sekali Soeharto memangil para dalang ke Istana Negara. Bukan cuma silaturahmi. Soeharto juga mengajak para dalang memikirkan kondisi bangsa dan negara.

''Dia meminta para dalang ndudhah ilmu wayang untuk memikirkan perkembangan bangsa dan negara. Bagi saya, itu luar biasa karena dia begitu nguwongke para dalang,'' katanya.

Pada puncaknya, para dalang makin terkesan ketika Soeharto yasa lakon Semar Mbabar Jati Diri. Dia berharap lakon itu bisa menjabarkan Pancasila lewat kaidah wayang. ''Beliau membentuk tim delapan untuk menyusun lakon itu. Selain saya, anggota tim itu adalah B Subono, Rusman S Hadikusumo, Sudarko Prawiroyudo, Timbul Hadiprayitno, Panut Darmoko, Kasidi, dan Singgih Wibisono.'' (Wisnu Kisawa-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA