| Rabu, 30 Januari 2008 | BUDAYA |
Membaca GagasanMEMBACA karya seni tak pernah cukup dengan melihat tampilan visual yang kasatmata. Lebih dari itu, ''kekuatan'' sebuah karya justru terletak pada seberapa kuat konsep di sebalik karya. Sayang, kesolidan konsep itu acap diabaikan para seniman dalam genre kesenian apa pun. Di ranah seni rupa, misalnya, para perupa dinilai lebih banyak bertumpu pada kekuatan teknikal dan retinal. Penilaian bernada autokritik itu disampaikan perupa Markaban, ketika berbicara pada diskusi budaya di Galeri Bu Atie, Jalan Borobudur Utara Raya 6, Semarang, baru-baru itu. Pada diskusi itu, Markaban melakukan ''bedah konsep'' atas pokok-pokok gagasannya soal seni rupa. Adapun Martin Suryajaya mengupas puisi-puisi Timur Sinar Suprabana - yang malam itu dibacakan sang penyair- dengan pendekatan filsafat. Diskusi yang digelar Komite Sastra Dewan Kesenian Semarang (Dekase) itu dihadiri sejumlah seniman, terutama dari ranah seni rupa. Mereka antara lain perupa Auly Kastari, Putut Wahyu Widodo, penyair Wage Tegoeh Wijono, dan Eko Tunas. Dalam diskusi yang dimoderatori Gunawan Budi Susanto itu hadir pula pengelola galeri, seperti Chris Darmawan (Galeri Semarang) dan Mahmoud Elqodrie (Galeri Dahara). Markaban menyatakan persoalan konsep juga menjadi salah satu ''kelemahan'' seniman di Semarang. Belum banyak seniman Semarang membalut karya mereka dengan gagasan kuat. Akibatnya, kekuatan karya mereka terhenti pada tampilan visual, atau dalam istilah Markaban, melulu bicara persoalan teknikal dan retinal. ''Untuk menghadirkan karya yang kuat, menjadi keharusan bagi seniman mengerti dan memahami sejarah seni lengkap dengan segala persoalannya,'' kata dia. Di sisi lain, para seniman juga dituntut mempelajari dan memaknai berbagai isme, geseran-geseran budaya di masyarakat, hingga evolusi pemikiran para filsuf. ''Di dunia yang makin hari kian cerdas, peranan seni termasuk seni rupa, tak sekadar penghibur, tetapi lebih berperan sebagai agen perubahan,'' tuturnya. ''Kalau kemudian dunia seni rupa mutakhir berikut wacananya makin sublim dan meninggalkan kaidah-kaidah artistik lama, sepakat atau tidak, itu sesuatu yang niscaya.'' Tentang Puisi Martin juga mengupas kaitan antara muatan dan kemasan, tentang yang kasatmata dan tak kasatmata, dalam karya seni. Secara khusus, dia mendedah perkelindanan puisi dan bahasa. Dia menyatakan puisi tak akan mungkin tanpa bahasa, puisi hanya mungkin ada dalam bahasa. ''Persoalan muncul ketika puisi tidak lagi bisa membahasakan apa pun,'' kata Martin, yang tak lain anak Markaban. Dia memaparkan hal itu lewat makalah ''Timur dan Batas Bahasa''. Tulisan itu sesungguhnya merupakan pengantar antologi puisi Timur Sinar Suprabana, Sihir Cinta, yang kini dalam proses penerbitan. ''Sekalipun Martin bicara tentang puisi, sesungguhnya tulisan dia kontekstual untuk genre kesenian lain,'' komentar Markaban. (Achiar M Permana-53) |