| Selasa, 29 Januari 2008 | OLAHRAGA |
Timnas U-16 Latihan di Tiga LokasiJAKARTA- Tim nasional U-16 Indonesia yang telah sepuluh hari berada di Uruguay, menimba ilmu di tiga lokasi berbeda. Lokasi pertama adalah lapangan Club Naval -mes perwira Angkatan Laut Uruguay di Montevideo, tempat Syamsir Alam dkk tinggal- serta Los Caebos dan Franklin Roosevelt Parque. "Selain tiga lokasi itu, kadang timnas U-16 juga akan dibawa latihan di pantai yang letaknya hanya berjarak 5 menit berjalan kaki dari Club Naval," kata manajer timnas U-16, Demis Djamaoeddin, seperti dikutip situs web PSSI, Senin (28/1). Los Caebos, menurut Demis, berjarak sekitar 10 menit berkendara dari Club Naval. Di lokasi itu terdapat enam lapangan sepak bola. Sedangkan Roosevelt Parque, yang berada di kawasan hutan Montevideo, akan menjadi tempat latihan fisik. Timnas U-16 akan mengikuti kompetisi sepak bola Uruguay dan tinggal di negara Amerika Selatan itu selama empat tahun. Sebanyak 25 pemain masuk ke dalam tim nasional itu. Mereka bertolak ke Uruguay, Selasa (15/1) malam. Selama empat tahun di Uruguay, anak-anak itu akan berlatih di bawah bimbingan pelatih asal Uruguay, Cesar Payovic Perez, dan asistennya Jorge Anon. Pada tahun pertama mereka akan mengikuti kompetisi Liga U-16 yang berlangsung Maret-November 2008. Kompetisi akan beristirahat sebulan mulai Juli. Waktu jeda tersebut dimanfaatkan untuk melakukan uji coba keliling Asia, diakhiri dengan bertanding di Stadion Utama Gelora Bung Karno. "Proyek ini sangat penting bagi masa depan sepak bola Indonesia. Bukan proyek main-main," kata Ketua Badan Tim Nasional (BTN) PSSI, Rahim Soekasah. Tekad Kuat Rahim ikut berada di Uruguay selama 10 hari sejak keberangkatan, sedangkan Demis Djamaoedin dan Rahmat Effendi -masseur- akan menemani anak-anak itu selama sekitar tiga bulan. Proyek ambisius itu menelan dana Rp 12,5 miliar per tahun atau Rp 50 miliar hingga tuntas empat tahun mendatang. Tujuannya untuk mencetak pemain Indonesia yang berkualitas. "Harapan kami adalah dari proyek ini akan muncul pemain Indonesia yang memiliki kemampuan untuk bisa bersaing di liga papan atas Asia bahkan Eropa," ujar Rahim. Ia mengaku tidak khawatir terhadap kemungkinan munculnya gangguan psikologis pemain usia muda yang selama empat tahun tidak bisa bertemu orang tua, saudara, dan teman mereka di Indonesia. "Para pemain ini memiliki tekad kuat, semangat, dan disiplin yang tinggi untuk menjadi pemain sepak bola profesional. Kalau mereka kangen dengan tanah air, mereka bisa berhubungan via telepon atau e-mail," paparnya. Rahim juga menegaskan, para orang tua tidak perlu khawatir terhadap pendidikan formal dan mental mereka selama berada di negara asing itu. Menurut dia, BTN akan mendaftarkan mereka ke Sekolah Ragunan dan pendidikan akademik dilakukan dengan sistem modul. (wgm,ant-40) |