| Selasa, 29 Januari 2008 | EKONOMI |
LAPORAN KHUSUSDi Balik Meroketnya Pasar NotebookBak fenomena gunung es. Semula laptop hanya dikenal dan dinikmati kalangan eksekutif di perkantoran, penulis, peneliti, dan dosen. Kini para pekerja kreatif di bidang desain grafis dan multimedia sampai dunia pendidikan sudah menikmatinya. Berikut laporan seputar membludaknya penjualan laptop di pasaran yang ditulis Rosyid Ridho dan Budi Surono. ADA sejumlah faktor yang menyebabkan notebook begitu cepat dikenal dan diterima masyarakat. Saat ini, muncul fenomena di kalangan profesional yang suka bekerja secara nirkabel dengan bantuan notebook. Apalagi didukung fitur notebook yang saat ini telah lengkap tersedia. Dari sisi harga, menurut praktisi IT Gunawan Santoso, notebook semakin terjangkau. Bahkan selisih harga antara desktop dengan notebook semakin kecil. Kondisi ini masih ditunjang dengan teknologi yang diintegrasikan pada notebook yang bisa menunjang mobilitas penggunanya. Dengan tambahan internal (perangkat dalam), seperti kamera dan internal microphone, notebook tak hanya berguna untuk mengetik, tetapi juga media yang dapat digunakan untuk menonton film melalui DVD, browsing dan chatting di internet, merekam dan mendengarkan MP3. Terlebih untuk chatting, dengan adanya kamera, maka kita dapat melihat wajah dan ekspresi lawan bicara ketika mengobrol. Berbeda dengan komputer biasa, notebook dapat dibawa ke mana pun, didukung bentuknya yang simpel. Berbagai fitur yang tersedia turut menambah nilai plus dari notebook sendiri. Menurut catatan Gunawan yang juga pemilik 3 G Power, main dealer HP dan Acer di Jateng, pasar begitu cepat menyerap produk laptop. Misalnya notebook Hewlett Packard (HP) yang tahun lalu tumbuh sampai 50 persen, padahal pertumbuhan user produk IT di Indonesia hanya 2 persen. Market share HP mencapai 25 persen, sedangkan pangsa pasar Acer 37 persen. Penjualan Meroket Apkomindo sendiri memperkirakan, penjualan komputer jinjing (notebook) tahun 2008 ini akan mencapai 2 juta unit. Angka itu naik 100 persen lebih dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya mencapai 900 unit. "Prediksi adanya peningkatan permintaan notebook secara besar-besaran itu, disebabkan banyak faktor. Salah satunya harga jual murah dan terus mengalami penurunan dari waktu ke waktu," kata Ketua Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (Akomindo) DPD Jateng, Lukas Lukmana, Senin (28/1). Dia menambahkan, faktor lain, tingginya tingkat mobilitas para pengguna komputer, sehingga menuntut mereka menggunakan piranti itu. Selain itu, kebutuhan akan sarana komunikasi dan kemajuan teknologi juga menjadi pemicu peningkatan permintaan notebook. Total penjualan komputer di tahun 2007 itu sendiri mencapai 1,5 juta unit. Dari angka tersebut, 60 persen adalah tingkat penjualan notebook dan sisanya sebesar 40 persen merupakan penjualan personal computer (PC) atau komputer meja. Apabila dibandingkan tahun 2006, persentase penjualan notebook mengalami kenaikan 10 persen. Di tahun itu total penjualan komputer sebesar 1,2 juta unit dengan persentase penjualan notebook sebesar 50 persen. "Kalau tahun ini (2008- red), kami memperkirakan penjualan komputer akan mencapai 3 juta unit. Dari jumlah tersebut, persentase penjualan notebook dibandingkan PC adalah 65 persen dan 35 persen," terang Lukas. Untuk wilayah Jawa Tengah, lanjut dia, menyumbang angka 9-12 persen dari jumlah total penjualan. Kebutuhan akan notebook, menutur Lukas, secara umum dapat dibagi dalam dua kategori. Pertama, mereka yang mengedepankan fungsi notebook untuk bekerja. Kedua, lux style yang mempertimbangkan membeli notebook lebih mengacu pada gaya hidup. "Kalau konsumen di Indonesia lebih banyak memakai notebook sebagai lux style. Mereka memilih piranti yang berukuran kecil, slim atau tipis dan ringan," jelas Lukas. Dilihat dari sisi harga, range Rp 5 juta - Rp 8 juta adalah paling banyak diminati dan dicari calon pembeli. Pengguna piranti itu kebanyakan dalam kategori usia produktif dan didominasi kalangan pelajar dan mahasiswa. Area hotspot yang mulai banyak ditawarkan di berbagai pusat keramaian membuat teknologi, seperti Wi-Fi dan bluetooth menjadikan suatu "piranti wajib" pada notebook. Penjualan notebook di Indonesia, menurut Lukas, masih tetap didominasi merek-merek terkenal, seperti Acer, Toshiba, dan HP. (*) |