| Selasa, 29 Januari 2008 | BANYUMAS |
Merangkak Mencari Anaknya yang HilangSEORANG pria merangkak menyeberang jalan di antara keramaian lalu-lintas Alun-alun Purwokerto. Dia bukanlah seorang pengemis melainkan Suradi (41) sedang mencari anaknya yang hilang dan diduganya menjadi anak jalanan di Purwokerto. Suardi terengah-engah karena kelelahan dan kepanasan, dia meletakkan tongkat dan tas punggungnya untuk kemudian bersimpuh. Dia mengatakan, sejak terjatuh empat tahun lalu, kakinya sulit untuk berjalan lagi. Warga Desa Tegalrejo, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga ini menuturkan setelah jatuh, anggota badannya dari pinggang ke bawah sulit berfungsi seperti semula. Dokter mengatakan ada yang salah dengan sistem syarafnya. Akibatnya, kakinya sulit berjalan lagi bahkan kepayahan juga untuk menopang berat badannya. Berbagai pengobatan alternatif telah dicobanya. Ironisnya sejak sakit, Sunarti istrinya malah pergi meninggalkannya dengan membawa putra keduanya. Sedangkan dia mengasuh anak pertama, Muhamad Faoyan (10) yang kini hilang. Terakhir kali, dia bersama Faoyan saat mencoba berobat ke Yogyakarta, Senin (24/10). Mereka naik kereta, ketika turun di Stasiun Tugu, Faoyan turun dan tiba-tiba lari ke suatu arah. Karena tak berdaya mengejar, Suradi meminta petugas untuk mencari anaknya. Namun ternyata tidak ketemu juga. Kesedihan karena sakitnya semakin bertambah dengan hilangnya putra pertama. Alun-alun Purwokerto Setelah seminggu tidak ketemu, dia berinisiatif untuk melapor kehilangan anak kepada kepolisian dan Dinas Sosial Yogyakarta. Belum ada titik cerah. Informasi terakhir didapatnya dari anak jalanan yang biasa mangkal di Stasiun Tugu kalau anak tersebut pernah pergi dengan Yan, panggilan Suradi kepada anaknya, menuju ke Stasiun Kroya. Bahkan anak tersebut dengan Yan beberapa kali berada di alun-alun Purwokerto. Kadang membantu membersihkan jalan agar bisa mendapatkan sebungkus nasi. "Kulo kelaran-laran mireng Yan kados ngoten. Kulo mriki pun tigang dinten kok dereng ketemu. (Hati saya pedih mendengar Yan sampai seperti itu. Saya di sini sudah tiga hari tapi kok belum bertemu juga." ujarnya sedih. Pria yang dulunya bekerja sebagai buruh ini menceritakan Muhamad Faoyan berperawakan kecil dengan tinggi sekitar 120 cm. Anakanya mempunyai ciri khusus, bekas luka memanjang dari dahi ke atas ke bagian tengah alis. Selama mencari, dia juga membawa surat keterangan lahir Yan dari kepala desanya dan surat tanda penerimaan laporan terlantar dari kepolisian Yogyakarta. Dia membawa surat-surat tersebut agar jelas dan tidak dikira mengada-ada. Mungkin karena sudah putus asa dan kehabisan uang, saat diantar seorang wartawan di Polres Banyumas, untuk melaporkan kehilangan anaknya, dia minta dipulangkan ke Salatiga. Akan ditunggunya Faoyan kembali ke sana. (Aniek Hadi Puspitosari-55) |