| Senin, 28 Januari 2008 | SALA |
Solo Potensial sebagai Lahan InvestasiMESKI sempat diguncang kerusuhan beberapa kali, namun Kota Solo masih potensial sebagai lahan investasi. Kendati demikian, keputusan berinvestasi harus didasarkan pada pertimbangan matang terutama terkait keuntungan dan risiko. Di antaranya, latar belakang pemilik usaha dan besaran saham yang telah dilepas di bursa. Hal itu diungkapkan Prof Dr Hartono MS, guru besar bidang Manajemen Keuangan pada Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Menurut Direktur Magister Manajemen, itu akhir-akhir ini banyak ditawarkan investasi dengan return (keuntungan atau penghasilan) yang sangat tinggi dan cenderung tak rasional. "Return dan risiko seperti dua sisi mata uang. Masyarakat perlu waspada bila ada tawaran investasi yang menjanjikan tingkat keuntugan tinggi tanpa disertai gambaran besarnya risiko," ujarnya ketika ditemui sejumlah wartawan, baru baru ini. Dicontohkan, kasus serupa yang sempat santer diberitakan adalah investasi penanaman ginseng CV Medical pimpinan Timotius Tri Sabarno. Profesor ke-77 UNS yang menerima pengukuhannya Sabtu (26/1) lalu, itu menjelaskan, agar risiko yang diterima bisa diminimalkan dengan melakukan diversifikasi. Lebih Bagus Artinya, investor bisa memilih menginvestasikan dananya pada berbagai aset yang berbeda. Dana itu bisa diwujudkan dalam aktiva bebas risiko dengan konsekuensi returnnya yang rendah. Atau pada aktiva berisiko dengan return yang tinggi. Dia juga mengingatkan pemilihan latar belakang perusahaan tempat berinvestasi. "Dari studi empiris, kepemilikan perusahaan secara institusional ternyata lebih diminati dibanding kepemilikan perseorangan. Karena prospeknya dianggap lebih bagus," jelas ujar ayah dua anak tersebut. Bukan itu saja, pengamat ekonomi kelahiran Sragen, 55 tahun lalu itu menambahkan, calon investor bisa melihat besaran saham perusahaan yang dilempar ke bursa. "Apabila ketika dilempar ke bursa, proporsi saham yang masih dipertahankan pemilik lama masih cukup besar. Ini juga bisa memberi sinyal positif dalam melakukan pembelian saham di pasar perdana," tambahnya. Dengan begitu, masyarakat bisa lebih kritis dalam memilih lahan investasi. (Dini Tri W-50) |