logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 28 Januari 2008 RAGAM
Line

Burung Tledekan Makin Laris Manis

TATKALA virus flu burung belum enyah dari Indonesia, gairah masyarakat untuk memelihara burung berkicau memang sedikit menurun. Wajar kalau mereka khawatir terkena penyakit mematikan itu.

Meski demikian, ada beberapa spesies burung ocehan yang tetap diburu penggemarnya. Salah satu diantaranya adalah tledekan atau sulingan. Bahkan harganya kini melambung di pasar-pasar burung.

Di Pasar Burung Karimata Semarang, misalnya, Anda mesti menyiapkan uang sekitar Rp 60.000 - Rp 75.000 untuk seekor bakalan. Bahkan yang sudah remaja (trotol) dijual dengan harga Rp 100.000 - Rp 150.000.

Jika sudah ngoceh, Anda mesti mengeluarkan dana sekitar Rp 200.000-Rp 250.000. Apabila sudah ''bocor'' (rajin berkicau) dihargai Rp 500.000 lebih. ''Nah, kalau pernah menjuarai lomba, harga bisa mencapai puluhan juta,'' kata Isma, salah seorang penggemar tledekan di Semarang.

Mirip Murai

Tledekan termasuk burung mungil dengan ocehan klasik dan bervariatif. Warna suaranya kecil, tapi melengking dan nyaring. Warna bulunya mirip dengan burung murai, di mana bagian punggung, sayap, dan kepalanya terlihat biru tua. Sedangkan bagian dadanya berwarna cokelat.

Di alam bebas, tledekan hidup secara individual. Jika sudah dewasa hanya berdua dengan pasangan masing-masing. Menjelang musim kawin, yaitu saat musim penghujan seperti sekarang, pasangan ini membuat sarang di pepohonan yang rimbun.

Induk jantan dan betina bergantian mengerami telur sampai menetas. Juga mencari makanan berupa jangkerik, ulat daun, kroto, semut, dan serangga lainnya. Penampilannya saat berkicau amat menggemaskan. Sebab ekornya mengembang seperti kipas, dan bergoyang-goyang mengikuti irama ocehan. Dengan performa seperti ini, tledekan termasuk burung fighter (petarung). Kalau didekatkan dengan sesamanya, mereka berlomba-lomba untuk mengeluarkan ocehan terbaiknya.

Di alam bebas, seekor tledekan jantan akan bertarung saat menjumpai pejantan lainnya. Ketika akan berkelahi itulah, mereka akan bernyanyi dulu, memamerkan kehebatan masing-masing. Itu sebabnya tledekan cenderung hidup individual.

Jantan dan Betina

Jika Anda ingin membeli tledekan di pasar burung, cermati dulu perbedaan antara jantan dan betina. Perbedaan jenis kelamin ini mudah dikenali melalui warna bulu di bagian punggung. Jika biru tua, itu berarti burung jantan. Jika tidak berarti betina.

Namun bisnis di zaman serba sulit memang kerap diwarnai tipu daya. Pernah terjadi kasus di mana pedagang menempelkan bulu-bulu jantan (mungkin dari burung afkir atau sudah mati) ke punggung betina. Jika tidak cermat, Anda bisa tertipu karena menyangka itu burung jantan.

Pilihlah burung yang sudah mau memakan voer. Ini menandakan burung sudah mampu beradaptasi dengan lingkungan baru. Jika tidak mau makan voer, burung baru saja ditangkap di alam bebas dan memerlukan waktu lama untuk menjinakkannya.

Pastikan bahwa tledekan yang dibeli itu lincah dan sehat. Apalagi virus flu burung belum juga enyah dari negeri ini. Jika burung sehat, maka dengan pemeliharaan yang Anda kendalikan, kemungkinan terkena virus flu burung bisa diperkecil atau bahkan ditiadakan.

Sebenarnya perawatan tledekan tidak berbeda dari jenis-jenis burung berkicau lainnnya. Anda bisa menggunakan sangkar persegi berukuran 30 cm x 40 cm.

Boleh juga menggunakan sangkar bulat, dengan ukuran hampir sama.

Setiap hari, burung dimandikan ke karamba mandi. Bisa juga memandikannya dengan menggunakan semprotan (sprayer) berisi air bersih. Setelah itu, burung dijemur.

Usahakan wadah pakan dan air minum dibersihkan tiap hari. Makanan terdiri atas voer (jenis lembut / kecil), kroto, jangkerik, dan ulat. (Arief Ismeidi-32)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA