| Senin, 28 Januari 2008 | RAGAM |
Sistem Semiorganik pada Tanaman PaprikaMESKI belum populer di Indonesia, baik di kalangan petani hortikultura maupun masyarakat selaku konsumen, paprika merupakan salah satu komoditas prospektif di negeri ini. Pasalnya, cabai gendut ini sangat diminati pasar mancanegara, khususnya Taiwan, Singapura, dan sejumlah negara di Eropa. Paprika merupakan salah satu bahan untuk pembuatan menu spesial di restoran-restoran terkenal di mancanegara. Kini, restoran dan hotel ternama di kota-kota besar di Indonesia pun menyediakan menu serupa. Tanaman tersebut baru dibudidayakan secara massal sejak tahun 2002, tatkala importir asal Taiwan mengajukan permintaan sekitar 16 ton/minggu. Peluang emas ini langsung ''disambar'' pelaku usaha di Ja-wa Barat, khususnya di kawasan Lembang, Kabupaten Bandung. Ini bisa dimengerti, mengingat harga paprika jauh mengungguli cabai yang hanya sekitar Rp 3.000 - Rp 4.000/kg di tingkat petani. Sedangkan harga paprika sekitar Rp 8.000/kg (untuk varietas paprika hijau) hingga Rp 18.000/kg (kuning). Namun kenikmatan materi yang dirasakan petani paprika sempat tergerus oleh ulah importir Taiwan, yang disokong pemerintah setempat. Entah dari mana, berembus isu bahwa paprika asal Indonesia rentan terhada serangan hama lalat buah. Padahal hampir semua paprika yang diekspor ke negeri seberang itu berasal dari Lembang, di mana terbukti tidak terserang lalat buah. Beruntung Pemerintah Singapura dan Inggris tak terprovokasi ulah Taiwan. Setiap bulan mereka tetap mendatangkan ratusan ton paprika dari Indonesia. Belajar dari Isu Isu, sejelek apapun, tetap bisa dijadikan media pembelajaran, terutama bagi petani paprika. Tak bisa dimungkiri, lalat buah memang menjadi momok bagi para petani atau pembudidaya tanaman ini. Oleh karena itu, para petani perlu berusaha semaksimal mungkin untuk mengeliminasi kemungkinan terjadinya serangan hama lalat buah. Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah menerapkan sistem pertanian setengah organik, atau semiorganik. Disebut semiorganik, karena memang tidak menerapkan sistem organik sempurna (100 %). Jadi ada kombinasi antara sistem organik dan nonorganik. Dalam hal ini, penggunaan pestisida sama sekali ditiadakan. Untuk mencegah maupun memberantas hama, petani dianjurkan menggunakan predator alami -meski sampai sekarang masih harus diimpor. Tetapi petani masih diperbolehkan menggunakan insektisida (obat antiserangga) dan fungisida (obat antijamur). Penyemprotan insektisida dilakukan satu kali dalam satu periode tanam. Itu pun dengan dosis yang sangatkecil. Pemakaian fungisida tetap dilakukan secara berkala, sekitar dua kali/minggu. Selain itu, para petani paprika perlu meninggalkan berbagai kebiasaan bertani secara konvensional. Dianjurkan menanam paprika tidak dalam lahan terbuka, namun dalam polibag serta diberi naungan dari plastik. Meski biaya produksi menjadi mahal, tetapi produkivitas tanaman bisa meningkat dan paprika relatif aman dari berbagai serangan hama dan penyakit, terutama lalat buah. Hal inilah yang kini diterapkan Dinas Pertanian Pemalang. Selain membuat demplot paprika di Desa Gombong (Kecamatan Belik), dengan desain serupa, Dinas juga membina ratusan petani paprika. Adakah persamaan antara Belik dan Lembang? Ya, keduanya berada di dataran tinggi. Tanaman ini memang lebih cocok dikembangkan di dataran tinggi yang berhawa sejuk. Setiap polibag diisi satu batang tanaman, yang pada masa panen bisa menghasilkan 3-4 kg paprika. Harga panen bervariasi, tergantung varietas dan kondisi pasar. Varietas yang populer di Indonesia antara lain paprika kuning, paprika merah, paprika oranye, dan paprika hijau. Paprika kuning memiliki tingkat harga tertinggi (Rp 18.000/kg), diikuti paprika merah dan oranye (Rp 15.000), serta paprika hijau (Rp 8.000). Jika budidaya dilakukan secara benar, setinggi apapun biaya produksi, petani tetap dapat meraih keuntungan lebih besar daripada menanam cabai. (Yustisi Ardhi-32) |